
Malam ini Naura yang tidur di samping Raya merasa heran karena selama tidur Raya sama sekali tak bergerak, meskipun masih bernapas. Itu semua tak seperti Raya yang tidurnya selalu lasak. Di samping kanan Raya juga ada Arya yang sudah terlelap. Mungkin karena pria itu kelelahan setelah bekerja di kantornya.
Andaikan saat itu Om Arya tidak memberikanku dua pilihan, mungkin saat ini kita telah menjadi sebuah keluarga. Namun, sayangnya Om Arya memberikan pilihan yang tak bisa kupilih, hingga akhirnya aku memilih untuk pergi. Meskipun Om Arya sudah menghancurkan masa depanku, aku pernah berharap jika Om Arya mau bertanggung jawab atas apa yang pernah Om Arya lakukan kepadaku. Aku tahu malam itu Om Arya tak sengaja untuk merenggut kehormatanku, tapi cara om Arya salah dengan menyuruhku untuk menggugurkan bayi yang telah tumbuh di rahimku saat itu. Sebenarnya aku ingin menghapus Om Arya dalam hidupku, tapi aku sadar jika saat ini Raya sedang membutuhkanmu, Om. Aku memilih untuk mengalah dan membuang egoku, semua itu demi Raya. Bagiku Raya adalah hidupku. Aku tak akan bisa hidup tanpa Raya.
Tak terasa air mata membasahi pipi Naura. Terkadang menatap wajah Arya membuat dadanya berdenyut nyeri, tetapi Naura berusaha untuk menepisnya.
Kini tangan Naura mencoba untuk membenarkan selimut untuk menutupi tubuh Raya dan juga Arya. Namun, tiba-tiba tangannya dicekal oleh Arya.
"Kamu belum tidur, Na?" tanya Arya sudah membuka matanya.
"Aku hanya terbangun saja, Om."
Arya langsung terduduk dan menatap Naura dengan kantung mata yang sudah sangat terlihat. Sambil mendengus kasar, Arya berkata, "Kamu gak usah berpikir macam-macam. Tidurlah, karena besok pagi kita akan pergi ke KUA."
Naura menautkan kedua alisnya. "Om Arya serius ingin menikahiku besok pagi?"
"Apakah aku terlihat seperti sedang bercanda. Aku tidak pernah bercanda dengan ucapanku, Na. Sini!" Arya memberi isyarat agar Naura tidur di sampingnya.
"Tenang saja aku tidak akan mengulangi kecerobohan ku," lanjut Arya.
Tak ingin menolak, Naura pun bergerak ke Arya dan merebahkan tubuhnya di sampingnya.
"Aku tidak tahu bagaimana penderitaanmu saat harus berjuang seorang diri. Aku juga tidak tahu apakah kamu benar-benar tulus menerima pernikahan ini atau tidak. Goresan yang telah aku tuliskan tidak mudah untuk kamu balut. Aku yakin saat ini kamu sedang terpaksa untuk menerima pernikahan ini, tetapi aku berharap suatu saat nanti kamu benar-benar tulus untuk menerima perasaanku. Tidak mudah bagiku untuk jatuh cinta pada orang lain setelah kegagalan rumah tanggaku. Tapi kamu berhasil membuatku hampir gila. Na, percayalah padaku aku akan membahagiakanmu."
Sepertinya mulai saat ini Naura harus sering mendengar kata-kata yang sama setiap harinya, karena Arya akan terus mengulang kata-katanya yang akan membahagiakan dirinya.
.
__ADS_1
.
Di sisi lain, Deena sedang mencari boneka kesayangan. Sudah dua hari ini iya tak melihat keberadaan Deena. Biasanya jika ia tak bisa tidur, maka ia akan mengajak Deena bercerita. Namun, sudah dua hari ini dirinya tak melihat Deena.
"Sebenarnya dimana Calline, ya?" Deena bertanya dalam hati. Saat melirik jarum jam saat sudah pukul 11 malam. Itu artinya dia bisa berkomunikasi dengan boneka kesayangan. Semenjak kepergian papa kandungannya ke luar negeri, boneka yang biasanya bisa berkomunikasi dengannya mendadak hanya bisa berkomunikasi saat tengah malam dan fajar. Setelah itu boneka Calline akan sama seperti boneka pada umumnya jangan tidak bisa berbicara.
"Call, kamu dimana?" batin Deena yang berusaha untuk memejamkan matanya.
Tiba-tiba saja angin bertiup kencang dan lampu kamar mendadak padam.
"Apakah itu kamu, Call?" tanya Deena.
Saat lampu terlahir kembali, terlihat boneka Calline sudah berada di samping Deena.
"Calline, kamu dari mana?" Tangan Deena segera mengambil boneka kesayangannya. Saat itu juga Deena langsung mengambil posisi duduk untuk mendengarkan cerita Calline yang tiba-tiba menghilang selama dua hari.
"Jadi maksud kamu Raya masih koma? Tapi mengapa kamu bisa masuk ke dalam tubuh Raya?" tanya Deena dengan rasa penasarannya.
Calline juga tidak tahu mengapa dirinya bisa masuk ke dalam tubuh Raya. Semua itu terjadi begitu saja dan juga bukan keinginannya. Saat menyadari, ternyata Calline sudah berada di dalam tubuh Raya.
"Lalu apakah Raya benar-benar hilang ingatan?"
Calline menjelaskan bahwa Raya tidak mengalami hilang ingatan. Karena saat ini yang menguasai tubuh Raya adalah dirinya, maka semua dijalankan dengan apa yang Calline ingat.
"Lalu mengapa kamu tidak mengenali Mama?"
Calline pun kembali menjelaskan bahwa dirinya memang sengaja mengatakan tidak mengingat mamanya Deena agar tak ada yang mencurigai jika saat ini yang berada di dalam tubuh Raya adalah roh boneka Calline.
__ADS_1
Deena terdiam untuk beberapa saat. Sulit untuk dicerna, tetapi ia yakin jika ada ada yang sedang mengendalikan Calline untuk membantu Raya.
"Aku tidak tahu, tetapi aku percaya jika ini adalah salah satu bantuan untuk Raya. Baiklah, aku tidak mengapa jika kamu berada di dalam tubuh Raya. Namun, perlu kamu juga harus waspada dengan lingkungan sekitar. Mungkin saja saat ini ada yang sedang mengintai hidup Raya."
Setelah mendengar penjelasan Calline, akhirnya Deena bisa tidur dengan nyenyak malam ini, meskipun ia masih memikirkan sosok yang melambaikan tangan kepada Raya.
.
.
Sepertinya malam ini berlalu begitu cepat sehingga sang fajar telah kembali menyingsing. Sesuai dengan janji Arya, pagi ini dirinya telah membawa Naura ke KUA. Karena saat ini Naura tidak memiliki wali, maka semuanya diserahkan kepada pak penghulu untuk menikahkannya.
Di depan penghulu dan para saksi Arya berhasil mengucapkan ijab kabulnya dengan lancar, meskipun tak dihadiri oleh keluarga mereka berdua. Karena bagi Arya adalah segera menghalalkan Naura.
"Na, terima kasih telah mau menikah denganku," kata Arya dengan rasa bahagia.
Senyum manis terukir dibibir Naura. "Mulai saat ini jangan pernah ungkit masa lalu, karena aku tidak ingin larut dalam ketempurukan."
"Baiklah, sebelum kita pulang kita jemput Raya dan menjenguk mama di rumah sakit. Aku yakin dia akan sangat bahagia saat mendengar kabar baik dari kita. Terutama kabar tentang Raya yang akan menjadi penerus keluarga."
15 menit keduanya pun sampai di rumah Zahra, di mana mereka menitipkan Raya. Baru saja ingin mengapa pintu, ternyata pintu telah dibuka lebih dahulu oleh sang pemilik rumah.
Zahra merasa sangat bahagia ketika Naura telah menutup rasa sakitnya dan mau menerima Arya dengan lapang dada.
"Selamat atas pernikahan kalian berdua. Semoga kalian menjadi keluarga yang bahagia dan bisa menjadi orang tua yang baik untuk Raya. Teruntuk kamu Om Arya, jangan pernah sakiti Naura lagi. Sudah cukup luka yang Om berikan kepadanya. Jika On Arya masih berani untuk menggores luka lagi, aku tidak akan pernah mengizinkan Om Arya untuk melihat Raya dan juga Naura," pesan Zahra sambil mengancam Arya.
"Kamu tenang saja, aku tidak akan pernah mengulangi kesalahan yang sama dan aku akan berusaha untuk membahagiakan Naura hingga akhir usiaku," ucap Arya.
__ADS_1
Zahra pun mengangguk pelan, menerima kesungguhan Arya. "Yaudah, ayo masuk! Raya lagi berada dikamar Deena," kata Zahra.