
Tak ada pilihan lain selain menceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada Raya. Cerita yang tak masuk akal sulit untuk dicerna oleh Arya dan juga Naura yang tak mengetahui cerita tentang siapa itu Calline. Hanya Zahra dan Kanna yang bisa memahami saat Deena menjelaskan jika yang sedang menguasai jiwa Raya beberapa hari yang lalu adalah Calline, roh dari boneka miliknya.
"Sekarang kita hidup di era modern, jangan samakan dengan kehidupan kuno. Aku tidak percaya jika ada roh yang masuk ke dalam tubuh manusia," ujar Arya.
Naura yang pernah tinggal bersama dengan Zahra tidak asing saat Deena menyebut nama Calline. Meskipun sulit dipercaya, tetapi roh yang menghuni bonekanya benar-benar ada, dan Naura tak percaya jika Calline bisa masuk ke tubuh Raya.
"Jika Calline yang mengendalikan tubuh Raya, mengapa saat ini kondisi Raya memburuk? Dimana Calline sekarang?" tanya Naura yang merasa masih penasaran.
Deena menggelengkan kepalanya dengan pelan. Ia juga tidak tahu kemana perginya Calline, karena saat siang hari ia tak bisa berkomunikasi dengan Calline. Namun, saat ini satu-satunya orang yang bisa membantu adalah Alzam, pewaris boneka keluarga.
"Deena juga tidak tahu, Aunty. Karena saat siang Deena tak bisa berkomunikasi dengan Calline," ujar Deena.
Entah apa yang telah terjadi kepada Calline mengapa dirinya bisa keluar dari tubuh Raya, sedangkan Raya sendiri masih dalam keadaan koma. Apakah karena kondisi Raya kian memburuk sehingga Calline keluar dari tubuh Raya?
"Om, bagaimana jika ini adalah sebuah pertanda buruk kepada Raya? Aku tak akan sanggup untuk kehilangan dia, Om." Mata Naura tak bisa lagi membendung air matanya.
"Kenapa kamu bisa berpikir seperti itu, Na? Tidak akan terjadi sesuatu kepada Raya. Aku yakin dia adalah anak yang kuat. Percayalah!" ujar Arya untuk memenangkan hati Naura.
__ADS_1
Bukan Alzam tak ingin menjenguk Raya, tetapi ia tak ingin bertemu dengan Arya yang telah mengambil alih perusahaan miliknya, yang saat itu sedang diambang kebangkrutan. Sebenarnya bukan salah Arya karena telah mengambil alih perusahaan yang hendak bangkrut. Toh Arya juga telah memberikan kompensasi pada Alzam saat itu. Alzam hanya merasa belum merelakan saja meskipun sudah tujuh tahun berlalu.
"Sepertinya mas Alzam gak bisa datang," kata Zahra setelah membaca sebuah pesan yang masuk ke dalam ponselnya.
Deena yang mendengar langsung mendongak. "Kok gitu, Ma? Bukannya tadi papa udah janji mau datang ke sini?"
"Mungkin papa Alzam sedang sibuk, jadi gak bisa datang," balas Zahra.
Jangan ditanya lagi bagaimana perasaan Deena saat ini. Tentu saja sangat kecewa dengan keputusan Papanya yang tiba-tiba mengingkari janji yang telah dia buat. Padahal Papanya lah kunci satu-satunya tentang Calline, karena Alzam adalah pewaris boneka misterius itu.
"Aku tahu mengapa Alzam tak ingin menjenguk Raya. Mungkin semua itu ada hubungannya dengan rasa kecewanya padaku di masa lalu." Arya buka suara dan menjelaskan apa yang telah terjadi antara dirinya dan juga Alzam.
🌸🌸
Sepanjang hari Naura menunggu Raya, berharap anaknya bisa segera sadar. Entah apa yang akan terjadi padanya jika Raya tak bangun lagi. Naura benar-benar sangat hancur.
"Na, makanlah. Sudah dua hari kamu gak makan," ujar Arya yang sudah membawakan Naura sekotak nasi.
__ADS_1
"Aku belum lapar, Om!" tolak Naura.
"Tapi kamu harus makan, Na! Jangan sampai kamu sakit. Sedikit aja ya." paksa Arya.
Karena Naura terus menolak tak ingin makan, akhirnya Arya memaksa dengan cara menyuapinya. Mau tak mau Naura pun menerima suapan dari tangan Arya.
"Na, apapun yang terjadi kepada Raya, ku harap kamu bisa menerimanya dengan lapang," ujar Arya.
Mata Naura langsung terbelalak lebar menatap Arya. "Maksud om Arya apa?"
Arya menarik nafas dalam-dalam, sebelum ia mengatakan sesuatu kepada istrinya, karena ia yakin saat Naura mendengar kenyataannya, ia tidak akan terima.
"Semoga saja itu hanya prediksi dokter saja. Aku yakin Raya anak yang kuat," ujar Arya.
"Om, jelaskan saja, gak usah berbelit-belit!" Naura sudah sangat penasaran dengan kondisi Raya.
"Kemungkinan besar, Raya tidak bisa terselamatkan lagi, Na." Arya berkata dengan tangan bergemetar.
__ADS_1
Naura menggelengkan kepalanya tak percaya. "Gak, itu gak bener, Om! Mereka hanya seorang dokter. Tidak ada kuasa mereka untuk memprediksi kematian seseorang. Mereka bukan Tuhan, Om! Om Arya percaya sama mereka? Mereka itu hanya manusia, Om!" Naura meluapkan emosinya, saat Raya telah diprediksi tak bisa bertahan lama.
"Na, kamu harus tenang. Hidup dan mati adalah kuasa ilahi. Itu hanya sebuah prediksi. Namun, jika itu benar aku harap kamu bisa lapang untuk menerima kenyataannya, Na." Arya langsung memeluk tubuh Naura. Bukan dia tidak menyayangi Raya, tetapi melihat harapan Raya untuk tetap bertahan sangat kecil, Arya memilih untuk mengikhlaskan, jika Raya memang tidak sanggup untuk bertahan.