Belenggu Cinta Yang Semu

Belenggu Cinta Yang Semu
Bab 24 | Masih Menjadi Misteri


__ADS_3

Arya dan Naura masih shock ketika menyadari jika mereka telah berada di dalam ruangan yang sangat mereka kenali. Salah satu kamar yang ada didalam rumah mereka. Ingin sekali mengajukan berbagai pertanyaan kepada Raya, tetapi saat bukan waktunya untuk mengintrogasi karena keadaan benar-benar sangat genting. Ternyata apa yang diucapkan oleh Raya benar terjadi.


"Om, bagaimana ini?" tanya Naura yang merasa sangat panik, karena mendengar suara beberapa orang sedang menggeledah rumahnya.


"Kamu tenang saja, aku akan segera telepon pihak yang berwajib," kata Arya untuk memenangkan Naura.


"Aku tak menyangka jika paman Sam bisa melakukan semua ini padaku." Arya menjatuhkan tubuhnya di sebuah sofa.


Begitu juga dengan Naura yang ikut duduk disamping Arya. Keduanya saling bersitatap seperti sedang berbicara lewat hati. Detik kemudian mereka menyadari jika di dalam kamar tidak ada Raya.


"Raya," ucap mereka berdua.


"Om, Raya kemana?" tanya Naura panik.


Arya yang tidak tahu kemana perginya Raya hanya bisa menggelengkan kepalanya seraya berkata, "Aku gak tahu, Na."


Dalam kepanikan, keduanya tetap berusaha untuk tenang dan berdoa semoga saja para penggeledah rumah itu tidak masuk ke dalam kamar tamu. Karena saat ini yang diincar adalah surat warisan, otomatis mereka menyerbu ruang kerja dan kamar Arya.


"Semoga saja tidak terjadi sesuatu kepada Raya. Entah siapapun dia, semoga dia baik-baik saja," ucap Naura dengan tulus.


Kali ini Arya baru mempercayai ucapan Naura yang sempat memiliki pemikiran jika yang ada di depan mereka tak seperti Raya anaknya.


"Om, jika dia bukan Raya kita, lalu dimana Raya kita? Apakah benar tebakanku jika jiwa mereka sedang tertukar dan saat ini jiwa Raya masuk kedalam tubuh anak indigo atau anak ajaib yang mempunyai sebuah kekuatan," kata Naura dengan pelan.


Arya belum bisa menyimpulkan siapa sebenarnya Raya yang ada di hadapan mereka. Namun, siapapun dia, Arya sangat berterima kasih karena telah berusaha untuk melindungi keluarganya.

__ADS_1


"Kita cari tahu nanti jika Raya sudah kembali," ujar Arya.


.


.


Tak berapa lama suara mobil polisi telah terdengar. Beberapa diantaranya telah mengepung rumah Arya dan mencoba untuk masuk. Saat itu juga para komplotan yang sedang mencari selembar kertas langsung terkejut, mengapa bisa polisi datang secara tiba-tiba ke rumah Arya.


"Bos, bagaimana ini?"


Pria yang dipanggil Bos tidak tahu harus berbuat apa karena saat ini mereka sudah dikepung oleh beberapa anggota polisi.


"Angkat tangan kalian dan Jangan bergerak!" Ancam seorang polisi dengan menodongkan senjatanya kepada beberapa dua orang yang ada didepan mereka.


Begitu juga beberapa polisi juga menodongkan senjatanya ke arah dua orang yang berada di ruang kerja milik Arya. Tak ada yang bisa dilakukan lagi selain pasrah dengan keadaan. Dengan cepat polisi telah mengamankan empat orang pelaku pembobolan rumah Arya. Dan salah satu di antara mereka adalah paman Arya sendiri. Arya pun sangat kecewa kepada pamannya. Hanya sebuah harta warisan seseorang rela melakukan apa saja untuk bisa mendapatkannya.


Setelah penangkapan para pelaku, Arya dan Naura bisa bernafas lega. Namun hingga sampai saat ini keduanya belum melihat keberadaan Raya yang menghilang secara tiba-tiba. Tentu saja Naura merasa sangat panik.


"Om, kita harus mencari Raya kemana?" Lagi-lagi Naura dalam kepanikannya.


"Aku juga tidak tahu anak itu pergi kemana. Coba kamu hubungi Zahra, barangkali Raya terbang kesana!" saran Arya.


Naura pun segera menghubungi kakaknya dan menanyakan keberadaan Raya. Namun ternyata Raya tidak ada di sana.


"Siapapun kamu yang berada di dalam tubuh Raya, tolong jangan buat kami khawatir. Kamu dimana, Nak?" Dengan air mata Naura meneliti seluruh ruangan yang ada, berharap jika Raya berada didalamnya.

__ADS_1


Dalam kepanikannya, tiba-tiba datang sebuah telepon dari rumah sakit yang memberitahu jika saat ini keadaan Raya kian memburuk dan mengharapkan agar Naura segera datang ke rumah sakit.


Benar-benar kejadian di luar nalar. Bagaimana bisa dengan hitungan menit kondisi Raya telah memburuk. Sedangkan mereka baru saja pulang dari kota Yogyakarta. Sungguh sebuah kejadian yang tak bisa dicerna oleh Naura dan juga Arya. Tanpa pikir panjang lagi keduanya pun segera menuju ke rumah sakit untuk memastikan apakah yang dimaksudkan benar-benar Raya anaknya atau bukan.


"Om, ini gak masuk akal. Kapan Raya masuk rumah sakit sehingga dokter mengatakan jika keadaan Raya kian memburuk. Om Arya harus hati-hati siapa tahu ini adalah sebuah jebakan, karena paman Sam yang telah tertangkap polisi. Bisa jadi ini adalah sebuah trik untuk menangkap kita, Om."


"Kamu tenang saja, kita akan berhati-hati. Sebelum ke ruangan Raya, kita pastikan dulu apakah pasien itu adalah perayaan kita atau bukan," jelas Arya.


Saat ini mobil yang dikendarai oleh Arya telah sampai di rumah sakit. Mereka pun segera masuk dan menanyakan apakah di rumah sakit itu ada pasien yang bernama Raya. Benar saja ada pasien yang bernama Raya yang telah dirawat beberapa minggu setelah kecelakaan. Bahkan sampai saat ini anak itu belum tersadar pasca kecelakaan yang menimpanya.


Naura sangat terkejut mendengar penjelasan dari seorang suster. Jika benar pasien Raya yang dimaksud adalah anaknya, lalu siapa Raya yang selama beberapa hari ikut bersama dengan dirinya. Karena terlalu berpikir keras, Naura tak sanggup lagi untuk menahan kepalanya yang terasa berat. Pandangan juga telah kabur. Tiba-tiba ….


BRUUKKK


Tubuh Naura jatuh ke lantai. Arya yang sedang berbicara dengan seorang suster langsung menoleh ke belakang dan melihat jika Naura yang sudah jatuh di lantai.


"Na, kamu kenapa?" Arya berusaha untuk membangun ke Naura. Mengerti jika saat ini sang istri sedang pingsan Arya segera membawa tubuh Naura ke sebuah ruangan bersama seorang dokter.


Saat ini Arya bener-bener sangat dilema. Entah ingin menunggu Naura yang sedang pingsan atau melihat Raya yang kondisinya kian memburuk. Andaikan saja tubuhnya bisa terbagi dua, Arya akan membagi tubuhnya untuk dua orang yang dia sayangi.


"Na, maafkan aku jika aku tak bisa menunggumu sampai tersadar. Saat ini aku harus melihat anak kita. Aku sangat takut sesuatu telah terjadi padanya." Dengan rasa berat, Arya meninggalkan Naura langsung menuju ke kamar Raya di rawat. Benar-benar tidak masuk akal. Padahal baru satu jam yang lalu Raya bersama dengannya, dan Raya sudah terbaring lemah tak berdaya dengan alat bantu pernafasan.


"Raya, Sayang. Ini Papa, Nak. Tetaplah berjuang karena Papa dan Mama sedang menunggumu," kata Arya sambil menggenggam tangan Raya.


.

__ADS_1


.


__ADS_2