
Arya dan Naura sangat bahagia ketika Raya sudah mau membuka matanya. Namun, ada yang membuat dadanya keduanya terasa sesak. Dunia seakan terasa runtuh saat Raya tak bisa mengingat siapa dirinya sendiri. Bahkan ia juga tak bisa mengingat Naura. Ternyata benturan di kepala Raya membuatnya kehilangan sebagian dari memorinya.
"Om, katakan apakah ini juga karma untukku, karena telah menyembunyikan dari om Arya?" tanya Naura yang tak bisa menahan air matanya.
"Kamu tidak boleh berbicara seperti itu. Cepat atau lambat memori Raya pasti akan kembali. Kamu harus kuat, Na. Sekarang ada aku sambil," ujar Arya.
Sudah cukup dua hari menghabiskan waktu di rumah sakit, akhirnya Raya sudah diizinkan untuk pulang. Namun, kali ini bukan pulang ke rumah kontrakannya, melainkan ke rumah Arya. Rumah yang memang seharusnya menjadi milik Raya. Meskipun berulang kali Naura, tetapi sifat keras Arya tak mengubah niatnya.
"Jangan halangi aku untuk bertanggung jawab, Na," ujar Arya.
Karena Naura sudah berjanji ingin memberikan satu kesempatan untuk Arya, ia pun pasrah jika saat ini Arya membawanya pulang ke rumahnya.
"Apakah kalian benar ayah dan ibuku? Mengapa kalian terlihat tidak akrab?" Tiba-tiba Raya melayangkan pertanyaannya yang tak terduga.
Naura mengelus rambut Raya dan menunjukkan ponsel miliknya. "Kenapa kamu berpikir seperti itu, Sayang? Lihatlah di ponsel ini banyak foto tentang kita," ucap Naura.
Tangan Raya pun segera mengambil ponsel dan membuka galeri, di mana memang banyak foto dirinya dengan Naura sengaja diabadikan. Namun Raya tidak lantas percaya begitu saja dengan foto yang ada di ponsel Naura.
"Aku bisa percaya jika kamu adalah ibuku, tapi aku tidak percaya jika dia adalah ayahku. Mengapa dia lebih tua darimu?" Raya menunjuk ke arah Arya yang sedang mengemudi.
__ADS_1
"Karena saat Mama dan Papa menikah, usia Papa sudah matang. Kamu jangan berpikir yang tidak-tidak. Kami berdua adalah orang tuamu." Dada Naura terasa berdebar ketika ia harus berkilah lagi.
"Tetap saja aku tidak percaya," ucap Raya.
Sepertinya harapan Arya sia-sia ketika tak bisa meyakinkan Raya. Padahal bocah itu sudah percaya jika Naura adalah ibunya, lalu dengan dirinya Raya tak mempercayainya. Apakah ini yang dinamakan karma lagi?
"Om, maafkan Raya. Dia masih anak-anak, terlebih saat ini dia juga kehilangan memorinya," kata Naura dengan rasa tidak enak.
"Gak apa-apa. Aku paham kok," ucap Arya.
"Jika dia adalah ayahku dan kamu ibuku, maka kamu tidak akan memanggilnya dengan sebutan Om. Aku jadi semakin ragu jika kalian berdua adalah orang tuaku. Sebenarnya siapa kalian? Apakah kalian hanya ingin memanfaatkanku?" Raya berusaha untuk memberontak, tetapi dengan cepat Naura melumpuhkan tangan Raya.
"Lepaskan! Turunkan aku! Kalian orang jahat!" teriak Raya yang tak bisa mengendalikan emosinya.
"Kamu tenang saja, Na. Sebentar lagi kita juga akan sampai."
Katakan jika saat ini Naura seperti orang jahat yang telah menculik Raya. Naura sendiri tidak tahu bagaimana caranya ia harus menghadapi Raya yang sama sekali tidak bisa mengingat dirinya. Hatinya benar-benar sangat hancur. Disaat Arya sudah mengetahui jika Raya adalah anaknya, tetapi mengapa tiba-tiba Raya harus kehilangan sebagian memorinya? Andaikan saja saya tidak kehilangan memorinya, mungkin dia akan merasa sangat bahagia karena dia masih memiliki seorang ayah yang telah lama ia rindukan.
Tak hentinya Naura menangis, ia benar-benar menyesali kebodohan yang telah ia lakukan selama ini. Naura mengira jika dirinya akan kuat tanpa adanya sosok Arya dalam hidupnya. Namun, nyatanya ia salah. Ia bisa saja memberikan kehidupan yang layak untuk Raya, tetapi ia tidak bisa memberikan kasih sayang seorang ayah kepada anaknya. Terlebih saat Raya benar-benar sangat merindukan ayahnya.
__ADS_1
"Semua ini salahku. Andaikan saja aku tidak menghilang, mungkin kejadian seperti ini tidak akan pernah terjadi," sesal Naura.
"Tidak usah menyesali apa yang telah terjadi, karena semua ini diluar rencana kita. Saat ini tugas kita adalah merawat Raya bersama-sama. Mungkin dengan seperti itu ingatan Raya perlahan bisa kembali," saran Arya.
Kali ini Naura menyetujui saran dari Arya. Kesehatan Raya adalah hal yang paling utama untuk, sekalipun ia harus berdamai dengan masa lalu yang seharusnya tak akan pernah terjadi dalam hidupnya.
Berhubung saat ini Raya sedang beristirahat. Arya mengajak Naura untuk keluar dari kamar Raya. Kali ini Arya menyerahkan sebuah map. Kedua alis Naura menaut. "Apakah ini adalah sebuah kontrak?" tanyanya langsung.
"Tidak! Ini bukan kontrak pernikahan atau kontrak apapun, melainkan surat pemindahan aset keluarga. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri, saat aku bisa menemukanmu dan juga anakku, maka aku akan menyerahkan semua aset yang kumiliki, sebagai bentuk ganti rugi atas apa yang telah aku lakukan kepada kalian. Mungkin semua ini tak sebanding dengan rasa sakit yang pernah aku berikan kepadamu, tapi aku ikhlas kehilangan semuanya asalkan aku bisa hidup bersamamu dan juga anakku. Maafkan aku yang telah egois, Na," sesal Arya.
Naura masih tidak percaya dengan apa yang ia dengar. Bagaimana mungkin ia bisa menerima pemberian Arya yang sangat berlebihan. Saat ini bukanlah harta yang Naura inginkan, tetapi tanggung jawab dan ketulusan Arya untuk mempertanggungjawabkan apa yang telah ia lakukan di masa lalu.
"Tidak, Om. Aku tidak bisa menerima pemberian Om Arya. Harta yang Om Arya miliki tidak akan pernah bisa untuk menebus rasa sakit yang pernah aku rasakan. Jika Om area serius ingin menebus penyesalan, maka Om Arya menunjukkan dengan tanggung jawab dan ketulusan. Bukankah Om Arya tahu jika harta tak akan menjamin kebahagiaan seseorang?" tanya Naura dengan tatapan tajam kearah Arya.
"Jadi aku harus bagaimana untuk mempertanggungjawabkan kesalahanku di masa lampau? Jika aku mengajakmu untuk menikah, apakah kamu bersedia?"
.
.
__ADS_1
...#BERSMBUNG#...
MOHON MAAF JIKA MASIH ADA TYPO DI MANA-MANA, KARENA BELUM SEMPAT AKU EDIT. 🙏