
"Sesuai yang kamu inginkan." Arya menyodorkan sebuah map kepada Naura.
Setelah berhasil meyakinkan sang papa, Arya pun langsung membawa Naura ke sebuah cafe terdekat.
"Bukankah kamu sudah setuju untuk membantuku dan menginginkan sebuah perjanjian tertulis? Sekarang kamu hanya tinggal menandatangani surat perjanjian kita. Jika kamu keberatan kamu boleh mengurangi atau jika kamu merasa ada yang kurang silahkan kamu tambahkan saja, asalkan kamu bersedia untuk bersandiwara," jelas Arya.
Naura menelan kasar salivanya. Ia tidak tahu apakah keputusannya salah atau tidak. Nalurinya sebagai seorang ibu, ia sangat merasa kasihan kepada Arya, tetapi sebagai seorang wanita yang dicampakkan, tentu saja hatinya masih terasa berdenyut.
"Bukankah tadi hanya sekedar meyakinkan saja, dan tak ada kata menikah?" protes Naura saat membaca surat yang harus ditandatangani.
"Aku berubah pikiran, Na. Selama ini aku terkurung dalam penyesalan. Jujur aku sangat menyesal telah melepaskanmu begitu saja. Na, bisakah kamu membantuku untuk melahirkan seorang anak. Aku berjanji tak akan menyia-nyiakanmu lagi."
Naura yang masih membaca poin demi poin langsung mendongak. Ia terkejut dengan pengakuan Naura. Matanya menatap wajah Arya yang terlihat penuh keseriusan saat menatap dirinya.
"Aku bisa membantu untuk meyakinkan orang tua Om Arya, tapi maaf aku tidak bisa menikah denganmu. Duniaku masih panjang, aku masih ingin bebas," tolak Naura.
Meskipun ia pernah bermimpi ingin memiliki sebuah keluarga yang utuh, tetapi tidak dengan menikah dengan Arya.
"Na, aku harus bagaimana agar kamu memaafkanku? Aku bukan orang yang mudah untuk jatuh cinta maupun melupakan sebuah perasaan. Selama 7 tahun aku telah berkurang dalam penyesalan. Izinkan saat ini aku menebus semua, Na."
Untuk saat ini Naura tidak goyah akan pendiriannya. Ia tetap bersikukuh tak setuju jika akan ada pernikahan diantara keduanya.
"Sepertinya aku tidak bisa menandatangani perjanjian ini. Maaf, aku harus segera pergi." Naura pun langsung meninggalkan Arya dalam kebisuan. Pria itu tak berniat untuk mengejar Naura. Ia sadar apa yang telah ia lakukan tak pantas untuk mendapatkan kata maaf.
Sepanjang perjalanan pulang, pikiran Naura berperang dengan hatinya. Saat rasa sakit yang masih berdenyut di dalam hati, pikirannya malah merasa iba dengan keadaan Arya saat ini.
"Na, kamu harus ingat, Arya adalah pria bajiiingan. Karena dia masa depanmu hancur. Kamu harus mengurung diri demi bisa hidup tenang. Lalu apakah kamu ingin terbuai dengan kata-katanya? Tidak, Na! Kamu tidak boleh menyerah begitu saja! Ingat bagaimana dia pernah mencampakkanmu!"
.
__ADS_1
.
Siang ini Naura sengaja ingin menemui Raya. Baru saja berpisah satu hari sudah membuatnya rindu serindu-rindunya. Bagaimana jika dalam hitungan bulan? Mungkin Naura tidak akan pernah bisa makan dan tidur yang nyenyak.
Baru saja ingin masuk, lagi-lagi tubuh Naura di tabrak orang seorang bocah perempuan. Bukan Khanza ataupun Raya, tetapi Alma.
"Bibi, tolong aku, mereka jahat!" Tunjuk Alma kearah Kala dan juga Raya yang sedang mengejarnya. Detik kemudian Alma bersembunyi di belakang Naura.
"Kenapa berlarian?" tanya Naura pada Raya dan juga Kala.
"Kami sedang bermain," jawab Kala dengan nafas yang tersengal.
"Tapi aku tidak mau bermain dengan kalian," kata Alma dari belakang Naura.
Mendengar sedikit keributan, Zahra yang sedang menonton televisi segera bangkit untuk mengecek anak-anaknya.
"Ada apa ini?" tanya Zahra heran.
"Mama Ara …. " Kini Alma berlari kearah Zahra. "Kak Kala dan Raya jahat. Mereka memaksaku untuk menikah dengan Kak Kala," adunya pada Zahra.
"Kami hanya bermain saja, Ma!" bantah Kala.
"Iya, Ma. Kami hanya sedang bermain pengantin-pengantin saja, tapi Raya malah kabur," timpal Raya.
"Aku tidak mau menikah dengan Kak Kala!" seru Alma.
Naura dan Zahra hanya bisa menggeleng pelan saat mendengar pengakuan anak-anak mereka. Entah darimana mereka mendapatkan ide permainan yang konyol itu. Perlahan Zahra memberikan pengertian jika mereka tidak boleh bermain seperti itu lagi.
Sebenarnya kedatangan Naura juga ingin mencurahkan isi hatinya. Namun, ia mengurungkan niatnya saat Alzam juga datang untuk menjemput Alma pulang. Sayangnya bocah itu tidak mau.
__ADS_1
"Mas Alzam, bisa kita bicara sebentar saja?" tanya Zahra.
Alzam mengangguk pelan dan mengikuti Zahra ke halaman belakang dimana Naura berada.
"Sebenarnya ada yang ingin aku bahas. Berhubung kalian berdua telah berada disini, lebih baik aku katakan saat ini juga," kata Zahra yang sudah menatap Alzam dan Naura secara bergantian.
"Ada apa, Mbak? Apakah ada masalah dengan anak-anak?" tanya Naura pemasaran.
"Iya, ada. Mas Alzam, duduklah!" pinta Zahra.
Saat Alzam telah duduk, Zahra segera mengutarakan keinginan hatinya. Memang terasa berat, tetapi semua demi kebaikan anak-anak mereka.
Saat ini keduanya sama-sama telah menjadi single parent. Alma yang sudah tak memiliki Ibu dan Ayah yang tak memiliki ayah. Alangkah baiknya jika mereka berdua bersatu agar bisa melengkapi kekurangan mereka. Alma bisa merasakan kasih sayang seorang ibu dan Raya bisa mendapatkan kasih sayang seorang ayah dengan cara mereka menikah.
"Jadi tidak ada salahnya bukan, jika kalian bersatu agar bisa saling melengkapi. Anak-anak kalian sangat membutuhkan peran seorang ayah dan ibu. Dan kebetulan status kalian berdua bisa melengkapi jadi tidak ada salahnya jika kalian mencoba untuk bersatu, bukan?"
Naura tercengang atas pengakuan Zahra, begitu juga dengan Alzam. Mereka berdua pun saling bersitatap.
"Maaf, Ra. Sepertinya aku tidak bisa, karena aku mampu untuk menjadi seorang ibu dan ayah untuk Alma," ujar Alzam.
"Tapi Alma membutuhkan peran seorang ibu, Mas!"
"Tolong buang jauh pikiran kamu untuk menjodohkan kami berdua, karena sampai kapanpun aku takkan pernah menikah lagi" tolak Alzam.
"Tapi Mas—"
"Ra, tolong mengertilah!"
...~^^~...
__ADS_1