
Sepeninggal Pamannya Arya masih berpikir keras mengapa Raya bisa meneriaki pamannya penjahat, sedangkan mereka baru bertemu dua kali saat di rumah orang tuanya dan hari ini. Namun, jika diperhatikan lebih dalam Raya terlihat sangat ketakutan saat melihat pamannya.
"Sebenarnya apa yang disembunyikan oleh Paman Sam sehingga dia berkunjung ke rumah dan Raya begitu ketakutan saat melihatnya. Apakah mereka pernah bertemu sebelumnya?" Arya bertanya dalam hati.
Sampai sekarang Arya masih menunggu kabar tentang kecelakaan yang menimpa Raya beberapa waktu lalu. Namun, karena tak ada CCTV yang merekam saat kecelakaan, Arya sedikit kesusahan untuk mengetahui siapa pelakunya. Berbagai pernyataan terus bermunculan untuk menebak-nebak apakah kecelakaan yang dialami oleh Raya murni sebuah kecelakaan atau memang ada seseorang yang se sengaja ingin mencelakai Raya.
"Tapi aku yakin jika kecelakaan itu telah sengaja direncanakan, tapi siapa? Apakah ada musuh yang sedang ingin menyerangku? Tetapi tidak mungkin, karena saat itu tak ada yang tahu jika Raya adalah anakku." Hati Arya berperang dengan otaknya, untuk dugaannya.
Baru saja ingin merasakan indahnya keluarga, tetapi dirinya harus dihadapkan dengan kenyataan, dimana sedang ada seseorang yang ingin mencelakai anaknya.
Saat Arya sedang sibuk di depan layar komputer, satu ketukan membuat menghentikan pekerjaannya. Dilihat Papanya sudah masuk ke dalam ruang kerjanya.
"Ada apa-apa, Pa?" tanya Arya langsung.
Papa Arya langsung menarik kursi yang berada di depan meja. Meskipun rambutnya banyak yang sudah memutih, tetapi wajahnya masih terlihat masih fresh.
"Sebenarnya ada sesuatu yang mengganjal dengan kematian mamamu," ujar Leo, papa Arya.
Arya langsung menautkan kedua alisnya dan menatap sang papa sangat dalam. "Maksud Papa?"
"Menurut catatan medis, mamamu sudah dinyatakan sembuh yang sudah bisa dibawa pulang. Namun, entah apa yang terjadi sehingga membuat mamamu meninggal. Bukan Papa ingin menyalahkan takdir, tetapi seperti ada yang ganjal dalam kematian mamamu," terang papanya dengan raut wajah yang masih layu.
Arya terdiam untuk beberapa saat. Jika kematian mamanya adalah unsur kesengajaan dari seseorang, dirinya sudah yakin jika pelaku adalah orang yang sama dengan pelaku penabrakan pada Raya.
"Bahkan pihak rumah sakit juga tak menyangka jika mama kamu dinyatakan meninggal, karena saat itu papa sedang mengurus dokumen Mama," lanjut papanya lagi.
"Apakah CCTV disana juga tidak berfungsi?" tebak Arya.
__ADS_1
Kepala papanya mengangguk pelan. "Benar. CCTV yang berada di depan dan kamar tidak berfungsi. Sepertinya semua sudah diatur dengan sempurna. Ini adalah tindakan pembunuhan, Ar. Papa tidak terima jika mama kamu benar-benar dibunuh. Kamu harus segera mencari tahu masalah ini sampai ke akarnya!"
"Papa tenang saja, aku yakin pelakunya adalah orang yang sama dengan kasus kecelakaan yang Raya beberapa hari yang lalu. Sepertinya orang ini bukanlah orang yang seberang, karena dia tahu jika Raya adalah anakku. Papa harus waspada dengan orang-orang disekitar papa. Bisa jadi orang kepercayaan sedang memberontak," pesan Arya yang semakin penasaran dengan orang yang tengah meresahkan hidupnya.
Sepeninggal sang papa, Arya langsung menelepon beberapa anak buahnya untuk segera menyelidiki kasus yang menimpa Raya. "Tidak salah lagi. Aku yakin jika pelaku adalah satu orang yang sama." Batin Arya.
Karena tak ingin terjadi sesuatu kepada Naura dan juga Raya, Arya segera mengutus seorang untuk menjaga anak dan istrinya.
.
.
Karena saat ini tubuh Raya sedang dikendalikan oleh Calline, tak heran jika Raya terlalu sensitif dengan keadaan sekitar. Dirinya tahu jika saat ini ada yang sedang mengintai dirinya di depan pagar sekolahnya.
"Ma, Raya kebelet," ujar Raya agar mereka tak keluar sekarang.
"Raya, kamu kenapa, Nak?" tanya Naura dengan heran.
"Mama diam saja disini. Sekarang di luar sedang tidak aman, karena ada orang yang sedang menunggu kita. Bahkan kemungkinan mereka akan masuk kesini untuk mencari kita. Mama diam saja jangan panik jika mendengar sesuatu dari luar. Raya pastikan mereka tidak akan bisa menemukan kita disini," jelas Raya dengan tatapan kosong.
Mendengar penjelasan Raya membuat bulu kuduk Naura berdiri, terlebih saat melihat wajah Raya tanpa ekspresi.
"Kamu gak papa, Nak?" tanya Naura dengan perasaan tidak enak.
Raya hanya menggelengkan kepalanya pelan. Matanya menatap lurus tanpa berkedip sedikitpun membuat Naura kian merinding.
Detik kemudian Naura mendengar derap langkah yang semakin dekat. Suasana semakin mencekam saat seseorang diluar sana terdengar sedang membuka satu persatu pintu toilet. Dada Naura berdegup tak karuan dengan tubuh yang bergemetar. Ternyata ucapan Raya benar-benar terjadi jika saat ini ada seseorang yang sedang mencari keberadaan mereka.
__ADS_1
Karena langsung semakin lama semakin dekat, Naura langsung memeluk tubuh Raya. Dirinya benar-benar sangat takut. Namun, tidak dengan saya yang tetap pada pandangan kosongnya.
Sebenarnya apa yang terjadi pada Raya, mengapa dia bisa memprediksi jika akan ada bahaya yang datang. Kali ini aku yakin jika dia bukanlah Raya yang sesungguhnya. Mungkin saat kecelakaan kemarin jiwanya tertukar?
Mata Naura memejam sambil menahan nafas saat sebuah tangan hendak membuka pintu toilet yang ia tempati. Kali ini tak ada harapan lagi untuk bisa kabur. Namun, beberapa detik ia memejam tak kunjung merasakan sesuatu yang aneh hingga ia memutuskan untuk membuka mata.
Naura melirik ke kanan dan kiri untuk memastikan jika keadaan telah aman. Namun, saat matanya telah terbuka lebar Naura sangat terkejut ketika menyadari jika saat ini dirinya sudah berada di dalam kamarnya. Dapat Naura lihat dengan jelas ketika Arya sedang menyuapi Raya.
"Kamu udah bangun, Na?" tanya Arya yang melihat Naura berusaha untuk bangkit.
"Kenapa aku bisa berada di atas tempat tidur, Om?" tanya Naura bingung, karena beberapa detik yang lalu dirinya masih berada di dalam toilet bersama dengan Raya. Namun, tiba-tiba dirinya sudah berbaring di atas tempat tidur.
"Lho, bukan kamu tadi yang bilang mau tidur siang? Aku pikir kamu sakit sehingga aku tak membangunkanmu," ujar Arya.
Naura hanya menggaruk kepalanya. Apa yang dikatakan oleh Arya sama sekali tak diingat olehnya.
"Bukannya beberapa detik yang lalu aku dan Raya masih berada di dalam toilet? Kenapa tiba-tiba bisa berada di sini?" tanyanya dengan heran.
"Kamu tidur terlalu lama sehingga bicara ngelantur. Sudah sana mandi! Aku juga sudah menyiapkan makan malam untuk kita."
"Makan malam? Memangnya Sekarang pukul berapa?"
Arya mende.sah pelan dan mengatakan jika saat ini telah pukul 8 malam.
"Apa?!" pekik Naura dengan terkejut.
...🥕🥕🥕...
__ADS_1