
Sesampainya ditempat yang dituju, Arya langsung membangunkan Naura. Saat mengerjap Naura sedikit heran dengan lingkungan sekitar yang tidak terlalu ramai. Namun, bukan berarti pantai itu sepi akan pengunjung. Arya memang sengaja memilih waktu biasa untuk menghindari lonjakan pengunjung.
"Kita udah sampai?" tanya Naura sedikit heran.
"Iya. Ayo turun! Kita langsung ke penginapan aja ya. Aku jamin kalian akan suka tempatnya karena berada diatas bukit. Kita bisa leluasa melihat pantai dari atas." Arya segera membukakan pintu untuk Naura.
Baru saja Raya turun dari mobil, dirinya merasakan hawa dingin yang menusuk kulit. Karena saat ini yang berada di dalam tubuh Raya adalah Calline, maka ia juga tahu jika ditempat itu juga banyak para penunggu lainnya yang sedang berkeliaran. Sejenak Raya memejamkan mata untuk melakukan komunikasi dengan makhluk sejenisnya dan meminta izin untuk melakukan liburan ditempat mereka. Dalam komunikasinya, Raya diizinkan untuk melakukan liburan dengan syarat dan ketentuan yang harus ditaati, dimana.
"Ra, kamu ngapain disitu? Ayo!" Arya memanggil Raya yang masih berdiri di dekat mobil yang terparkir.
"Iya, Pa." Raya langsung berlari kecil untuk menyusul kedua orang tuanya yang sudah berada didepan.
Namun, sebelum naik ke tempat penginapan mereka melakukan registrasi terlebih dahulu. Saat Raya ikut masuk ketempat sang pemilik penginapan dirinya terus ditatap oleh sang pemilik penginapan. Bahkan Raya dan juga Naura merasa heran dengan tatapan yang sang pemilik penginapan kepada Raya.
__ADS_1
"Maaf, Pak. Apakah ada yang salah?" tanya Arya yang langsung memutuskan pandangannya.
"Tidak ada. Ini kunci kamar kalian!" Sang pemilik penginapan langsung memberikan sebuah kunci kepada Arya. Namun, saat Arya dan Naura ingin keluar, langkah mereka tahan sejenak.
"Apakah dia anak kalian?"
Arya langsung mengiyakan pertanyaan sang pemilik penginapan. "Iya, dia anak saya, Pak. Ada yang salah?"
"Tidak ada. Hanya saja sebuah saran jangan bawa anak kalian untuk bermain kedalam air, jika tidak ingin terjadi sesuatu kepadanya."
"Baik, Pak."
.
__ADS_1
.
Jelas saja saran dari pemilik penginapan membuat sebuah pernyataan besar di kepala Arya. Padahal niatnya liburan ke tempat ini dirinya ingin mengajak Raya untuk melakukan snorkeling.
"Ra, kamu gak usah bersedih dengan ucapannya bapak yang tadi, ya. Besok kita akan tetap melakukan snorkeling," ucap Arya.
"Tidak, Pa! Itu adalah sebuah pantangan! Raya tidak mau melanggar pantangan itu." Raya menolak pemikiran papanya. Karena saat ini Raya sedang berada dikawasan terlarang baginya. Meskipun sudah diizinkan untuk menginjakkan kaki di tempat itu, Raya harus tunduk dengan peraturan yang ada. Dimana dirinya tidak boleh bermain air pantai, sekalipun hanya menyentuh airnya saja.
"Maksud kamu apa, Ra? Pantang apa? Perasaan bapak itu tadi hanya menyampaikan sebuah saran, bukan pantangan!" Naura memprotes ucapan Raya.
Sebisa mungkin Calline yang sedang menguasai tubuh Raya, tidak ingin terjadi sesuatu kepada tubuh Raya. Jika sampai tubuh Raya sampai terkena air laut, kemungkinan besar Calline langsung akan terhempas dari tubuh Raya dan tidak akan pernah bisa masuk kembali.
"Karena bapak itu tidak tidak ingin membuat kalian kecewa. Saat ini saja saran yang diberikan oleh orang itu tadi. Raya yakin jika itu memang untuk kebaikan Raya, Ma," ucap Raya.
__ADS_1
"Ya sudah kalau Raya tidak mau tidak apa-apa. Niat kita datang ketempat ini adalah untuk mencari udara segera dan ketenangan. Meskipun tak jadi melakukan snorkeling, tidak apa-apa yang penting bisa menenangkan diri," ujar Arya dengan sedikit rasa kecewanya.