Benih Pria Lain Di Rahimku

Benih Pria Lain Di Rahimku
Momen Persalinan


__ADS_3

BENIH PRIA LAIN DI RAHIMKU


Di saat rapuh seperti ini, kenapa pikiranku justru tertuju pada Mas Nandi. Bayangannya seperti terus menari-nari di benakku. Sudah kucoba untuk mengusirnya, tapi justru seolah bayangannya enggan pergi. Apakah aku begitu merindukannya malam ini hingga bayangannya enggan untuk pergi dari pelupuk mataku. Apakah rasa cinta itu sebenarnya masih ada di sudut hatiku meski hanya sedikit saja. Entahlah, aku juga tak dapat memahami tentang perasaanku sendiri.


Selama perjalanan menuju ke rumah sakit. Entah mengapa hanya wajah Mas Nandi dan senyum lembutnya yang terbayang di benakku. Apa yang terjadi padaku ini. Kenapa aku tak bisa menyingkirkannya barang sekejap dari ingatanku. Kenapa justru malah membayangkan wajah pria lain yang telah menjadi masa laluku.


Sesampainya di rumah sakit, Aku sudah tidak kuat untuk berjalan lagi. Sepertinya sudah ada pembukaan, pikirku. Tetangga yang menolong kami pun berinisiatif mengambil kursi roda untukku. Karena memang untuk berjalan pun aku sudah tak mampu. Rasa sakit yang mendera di jalan lahirku lah yang jadi penyebabnya.


Menyusuri ruangan dengan kursi roda yang didorong Uwak Mar. Berpacu dengan waktu menuju ruang persalinan. Seorang suster berseragam hijau muda itu mengiringi langkah kami. Aku terus menahan diri untuk berteriak keras karena rasa sakit yang tidak dapat aku tanggung lagi rasanya.


Walaupun aku sudah pernah melahirkan Anova dulu, tetapi tetap saja nyeri akibat kontraksi di perut sungguh tidak dapat kulukiskan dengan kata-kata. Semua wanita yang pernah melahirkan pun pasti akan dapat merasakan apa yang kini tengah kurasakan. Ditambah tidak ada suami yang mendampingi proses ini. Rasanya sangat lah mengenaskan. Tapi, beruntungnya aku masih memiliki keluarga yang sigap membantuku.


Aku sudah tak mampu berpikir lagi. Bahkan untuk memperhatikan keadaan sekitar. Aku terlalu fokus pada rasa mulas di perutku. Kontraksi demi kontraksi berdatangan dengan ritme yang mulai teratur. Aku yakin sudah saatnya bayi ini keluar dari rahimku.


Saat aku hampir sampai di ruang persalinan. Sepintas, aku seperti melihat Mas Nandi yang tengah berjalan di depanku. Aku sempat ragu dan mengira jika aku pasti sedang berhalusinasi.


Kami pun berjalan berpapasan. Tetapi, aku tak yakin juga itu Mas Nandi. Mataku berkabut oleh air mata yang mengumpul di pelupuk mata. Bisa saja kalau itu cuma halusinasiku. Sedari tadi pun wajahnya selalu menghiasi detik demi detik perjalananku ke rumah sakit ini. Aku pun memilih mengabaikannya dan kembali fokus dengan rasa sakitku. Menganggap bayangan Mas Nandi hanya imajinasiku karena hati kecilku masih berharap dirinya ada di sini, menemani momen melahirkanku seperti dulu saat kami masih menjadi pasangan suami dan istri.


Tapi ... sepertinya malam ini aku harus berjuang sendirian. "Tak apa, Risa, Kamu pasti bisa melewatinya. kamu kuat!" Aku meyakinkan diriku sendiri agar siap menghadapi saat-saat mendebarkan itu.


***

__ADS_1


Kini, aku sudah dibaringkan di ranjang pasien. Dokter muda berjilbab itu mulai memeriksaku. Memeriksa tensi darahku, detak jantung janinku, dan terakhir bagian intimku untuk mengetahui apakah sudah masuk pembukaan atau belum. Aku sempat meringis kesakitan.


"Bu, sudah pembukaan ke 9 ini. Nanti ikuti instruksi saya ya. Jangan mengejan dulu kalau belum lengkap bukaannya." Dokter memerintahkanku agar menuruti instruksi selanjutnya.


Uwak Mar yang sedari tadi menemaniku mengelus lembut kepalaku. Menyuntikkan semangat sama seperti yang dilakukan mas Nandi dulu. Yang saat itu dengan setia menemani proses persalinanku. Ah, kenapa lagi-lagi harus teringat mas Nandi.


Uwak Da pasti sedang menungguku di luar bersama satu orang tetangga yang tadi mengantar kami dengan mobilnya. Mungkin saat ini ia sedang mengabari kerabat serta keluarga dekatku. Kata dokter hanya satu orang yang boleh masuk untuk menemaniku. Jadi, hanya Uwak Mar yang menemaniku.


Mulas di perutku semakin tak tertahankan. Sudah pembukaan lengkap. Aku mengikuti seluruh instruksi dokter. Beliau berpesan agar mengejan ketika datang kontraksi saja.


Setelah berjuang hampir tiga puluh menit lamanya. Terdengarlah tangisan bayi yang memenuhi seluruh ruangan. Rasa sakit melahirkan langsung terbayar tunai demi mendengar tangisannya.


Aku memejamkan mataku. Bayiku tengah diurus oleh para perawat. Sorak bahagia terdengar dari suara Uwak Da dan Uwak Mar. Dokter tengah mengeluarkan ari-ari dari rahimku.


Aku menangkap sebuah suara yang tampak tak asing untukku. Saat dokter meminta seseorang untuk melantunkan adzan untuk putriku.


"Bu, silahkan bayinya kalau mau diadzani." Hening sejenak. Mungkin Uwakku bingung siapa yang akan mengadzani putriku.


Mas Dika pun tak nampak batang hidungnya. Sedangkan keluarga yang lain pasti masih dalam perjalanan kesini.


"Biar saya mengadzaninya, Dok." Suara itu... kenapa seperti suara Mas Nandi. Tapi mungkinkah itu nyata, atau lagi-lagi cuma halusinasiku saja.

__ADS_1


Dokter segera menangkupkan tubuh mungil bayiku di dadaku. Meski terpejam aku tak terlelap sepenuhnya. Aku masih dapat mendengar suara-suara di sekitar.


Hingga lantunan suara Adzan yang merdu membuatku sontak membuka mata. Mataku membulat demi melihat Mas Nandi yang berada di samping kiri ranjangku. Melantunkan adzan di telinga kanan putriku. Tuhan, apa ini mimpi.


Lekas kucubit tanganku agak keras. Sakit! Ini bukan mimpi, tapi nyata. Entah mengapa hati ini sangat tersentuh dengan keberadaannya.


Suara merdunya saat mengumandangkan Adzan dan Iqamah, berhasil menyentuh sisi terdalam di hatiku. Aku benar-benar merindukannya. Tak dapat ku pungkiri itu.


"Mas Nandi," panggilku. Setelah ia baru saja selesai. Ia menoleh ke arahku, dan hanya tersenyum tipis. Ini nyata. Mas Nandiku.


"Terima kasih ya, Nan. Sudah bantu mengadzani cucu keponakanku," ucap Uwak Da.


"Iya, Uwak. Nggak usah sungkan. Saya permisi dulu ya," pamit Mas Nandi. Aku hendak bertanya banyak padanya. Tetapi kuurungkan saat dia langsung berpamitan tadi. Uwak Da dan Uwak Mar pun meninggalkanku. Dokter akan memulai prosesi menjahit luka sobek di jalan lahirku.


Kenapa ada rasa tak rela dia pergi meninggalkan ruanganku. Dalam hati ini mengapa berubah menjadi mendung. Apakah ini karmaku karena telah menyia-nyiakannya. Jika iya, ingin kuputar waktu saja. Ingin ku perbaiki semuanya. Aku menyesal.


Aku terisak. Rasa sakit saat dijahit tak sebanding dengan penyesalanku ini. Sungguh bodoh diriku yang mencampakkan berlian demi memungut kerikil tak berguna. Aku merutuki kebodohanku sendiri.


"Sakit ya, Bu. Sampai nangis gitu. Tahan ya. Bentar lagi selesai nih, " ucap Dokter Ayu menghiburku. Ia melihatku terisak. Kutahu namanya dari name tag miliknya.


'Bukan. Bukan karena sakit itu, Dokter.' Racauku dalam hati.

__ADS_1


Andai aku tidak tergoda untuk bermain api. Andai aku menerima tawarannya dulu. Andai aku tak dibutakan oleh cinta semu Mas Dika. Berbagai pengandaian kusesali. Semua sudah tiada gunanya lagi. Sudah kepalang bagiku. Aku sudah benar-benar berpisah darinya. Dan, kini aku merasa menyesal.


Bersambung....


__ADS_2