Benih Pria Lain Di Rahimku

Benih Pria Lain Di Rahimku
Menuntut Tanggung Jawab


__ADS_3

PoV Risa


Usia kandunganku kini hampir memasuki bulan ke tujuh. Mas Dika seharusnya sudah pulang ke Indonesia sekarang Kabar terakhir yang kudapat darinya adalah dua hari sebelum kepulangannya ke Indonesia.


Akan tetapi, hingga kini hampir dua minggu dari kabar terakhirnya kudengar. Ia sama sekali belum menghubungiku lagi. Ia seperti menghilang bak ditelan bumi. Aku pun kewalahan dan sempat bingung untuk berbuat apa. Aku bahkan sempat berpikiran buruk padanya. Tapi, selalu kutepis dan mengira Mas Dika hanya sedang sibuk dengan hal yang lainnya sehingga dia belum bisa datang menemuiku. Ah, tapi tetap saja kenapa dia nggak bisa dihubungi atau menghubungiku. Apa susahnya sih, dia memberiku kabar kalau sudah pulang ke rumah dengan aman dan selamat. Kalau gitu kan aku nggak perlu galau begini.


'Sial! Apa dia akan lepas dari tanggung jawab,' pikirku. Aku mengumpat sendiri dalam hati, saat menyadari jika kini janjinya padaku terasa hanya bualan semata.


Aku segera mencari sesuatu di laci dekat tempat tidurku. Sebuah memo kecil dengan sampul batik berwarna coklat. Aku langsung mengambilnya. Lantas mencari sesuatu yang ada di dalamnya.


Setelah dapat, Aku pun tersenyum lega. Sebuah alamat rumah tertera di sana. Itu merupakan alamat Mas Dika yang diam-diam kusimpan di memo ini.


"Tidak semudah itu kau lari dariku, Mas Dika. Aku akan mengejarmu bahkan hingga ke ujung dunia sekalipun," geramku seraya melototkan mataku tajam menatap kertas berisikan alamat itu.


"Aku tak sebodoh itu. Lihat saja nanti, aku akan mencarimu di mana pun kamu berada, Mas!" Aku kembali menggumam.


Aku memang sempat mencatat alamatnya dulu. Itu kulakukan saat suatu hari kami sedang berkencan di sebuah hotel. Iseng-iseng aku melihat isi dompetnya. Dan menemukan KTP di dalamnya. Kucatat alamat yang ada di sana. Berjaga-jaga jika suatu saat hal seperti ini akan terjadi.


Benar saja dugaanku. Kini ketakutanku akhirnya terjadi. Tetapi, aku takkan menyerah. Akan kucari Mas Dika sampai ketemu. Tunggu aku, Mas Dika.


***


Dengan kondisi perut yang sudah terlihat membulat. Hari itu dengan ditemani kakak sepupuku, aku pergi menuju alamat yang dimaksud.


Dengan mengendarai mobil sewaan, aku akan menjemput paksa Mas Dika untuk menikahiku. Bila perlu menyeretnya jika dia berani mengelak.


Kau telah salah berurusan denganku. Enak saja pas bikinnya, tapi setelah itu mau lari dari tanggung jawab. Itu takkan kubiarkan terjadi.

__ADS_1


***


Perjalanan memakan waktu yang cukup lama, dan lumayan jauh. Hingga hampir dua jam lamanya. Rumahnya terletak di kota B, yang merupakan perbatasan antara Jawa Barat dan Jawa Tengah.


Kami sempat menanyakan alamat itu kesana kemari. Hingga sampailah kami di depan sebuah rumah model minimalis bercat biru muda. Dengan sebuah halaman luas dan banyak pot-pot bunga yang menghiasi halaman yang asri itu. Sebuah mobil juga nampak terparkir di carport. Tepat di sisi kiri rumah.


Aku langsung merangsek masuk, dan menggedor pintu dengan tak sabar. Kak Surya, sepupuku mengingatkanku untuk tak membuat kegaduhan di tempat ini serta memintaku untuk tak melakukan hal bodoh karena tersulut emosi.


Tak lama, pintu pun terbuka. Menampilkan sosok yang amat kukenal. Ia berdiri gagah dengan pakaian santai, celana pendek dan kaos putih polos. Ia masih sama tampannya seperti dulu. Pesonanya yang telah membuatku buta oleh cintanya.


"Mas ...," sapaku.


"K--kamu!" Wajah Mas Dika mendadak panik. Wajahnya tampak memucat bagai melihat hantu di siang bolong.


Tiba-tiba seorang wanita muncul di belakangnya. Wanita yang cantik dengan gamis maroon dan hijab yang senada. Kutebak ia adalah istrinya. Parasnya ayu, dan tatapan matanya teduh.


"Aku kesini mau minta tanggung jawab dari suami kamu Mbak! Mas Dika ini sudah menghamiliku, Mbak," ujarku berapi-api. Dan tanpa basa basi lagi.


"Mas siapa lagi wanita ini?" tanyanya terlihat tenang, dan apa katanya, siapa lagi wanita ini? Apa sebelumnya ada wanita lain yang datang kesini juga dan melakukan hal yang sama denganku? Entahlah.


"A--aku ... Aku bisa jelaskan, Aisyah." Mas Dika berkata dengan gugup. Aisyah bergeming.


"Baiknya kita masuk kedalam dulu, Mbak. Nggak enak kalau dilihat tetangga." Istri Mas Dika, yang kutahu bernama Aisyah itu dengan lembut mempersilahkan kami masuk ke dalam.


Kami sudah duduk saling berhadapan di ruang tamu rumah Mas Dika. Aisyah meminta pembantunya untuk membuatkan minuman untuk kami.


"Sebenarnya, Mbak ini siapa. Kenapa tiba-tiba datang dan mengaku telah dihamili Mas Dika " Ia menatap lurus perutku. "Apalagi sepertinya usia kandungan Mbak juga sudah tidak muda lagi. Mbak yakin itu anak Mas Dika, karena Mas Dika juga belum genap dua minggu di sini." Aisyah berkata dengan tenang. Perkataannya lembut tapi menusuk hingga ke sumsum tulangku. Jleb banget.

__ADS_1


Sedangkan Mas Dika hanya terdiam. Mungkin takut, kebobrokannya akan segera terbongkar. Awas kau, Mas! Rumah tanggaku sudah hancur, kamu pun harus merasakannya. Biar impas.


"Aku Arisa, Mbak. Dulu saat sama-sama bekerja di Taiwan, aku pacaran sama Mas Dika. Sampai aku hamil."


Aisyah menatap suaminya. Mas Dika tampak gusar.


"Benar itu, Mas?" tanya Aisyah.


Mas Dika menggeleng. "Tidak. Tidak mungkin, dia bisa saja tidur dengan lelaki lain selain aku," elaknya. Netranya nanar menatapku. Sial! Dulu, dia bahkan sangat bahagia saat tahu kalau aku hamil.


"Jadi, kamu selingkuh, Mas?" tanya Aisyah lagi. Entah bagaimana ia bisa pandai mengatur emosinya. Intonasinya masih tenang dan terkendali. Wanita hebat, pikirku.


"A-aku... I-iya aku pernah berhubungan dengannya. Maafkan aku, Aisyah." Air matanya luruh seketika. Dasar! Kuyakin itu hanyalah air mata buaya.


"Aku juga tak yakin bayi yang ada di perutnya adalah anakku," lanjutnya. Membuatku naik pitam, aku berdiri, dan ....


Pllaaakkkk!


Aku menamparnya dengan sangat keras. Pintar sekali dia bersandiwara. Dasar lelaki bermuka dua.


"Kamu bilang apa, Mas. Cuma sama kamu aku berhubungan. Bahkan, sebelum pulang pun kamu sempat mengabariku. Kamu janji mau tanggung jawab dan menikahiku. Tapi apa! Kamu malah merendahkanku di depan istrimu. Br*ngs*k kamu! Habis manis sepah di buang," ucapku penuh emosi. Suaraku menggelegar di seluruh ruangan.


Suara tangis anak kecil terdengar. Aisyah segera bergegas pergi kekamarnya. Itu pasti suara Aqilla, putri Mas Dika yang berumur 4 tahun. Aku pernah melihat fotonya di galeri ponselnya. Mungkin ia kaget mendengar suaraku yang cukup keras.


"Si*lan kamu, Mas,"umpatku mendelikkan mata tajam ke arahnya. Mas Dika hanya menatapku acuh.


Entah bagaimana nasibku kini. Dia yang kuharap akan bertanggung jawab hanya menorehkan luka. Janji manisnya hanya bualan semata untuk melenakanku. Bahagia yang ia berikan hanyalah fatamorgana. Aku lelah dengan semua yang terjadi. Kenapa aku harus mengalami hal seperti ini. Pandanganku tiba-tiba menggelap.

__ADS_1


__ADS_2