Benih Pria Lain Di Rahimku

Benih Pria Lain Di Rahimku
Penyesalan yang Sia-Sia


__ADS_3

BENIH PRIA LAIN DI RAHIMKU


Setelah proses melahirkan yang cukup menguras tenaga malam itu. Mataku terpejam erat. Lelah mendera sekujur tubuhku. Aku terlelap sebentar, setelah memberikan ASI pertama untuk putri cantikku. Kini dia telah terlelap di ruangan bayi. Aku bersyukur telah melahirkannya dengan sehat dan selamat. Rasa lelahku langsung terbayar demi melihat wajahnya yang mungil tak berdosa itu. Meskipun ada rasa sedih juga karena tak didampingi oleh suami saat proses menegangkan tadi.


Rasanya aku ingin sekali menyeret Mas Dika andai dia dekat. Agar dia menyaksikan betapa sulitnya perjuanganku dalam melahirkan buah cinta kami. Supaya dia dapat berpikir beberapa kali sebelum melakukan perselingkuhan. Namun, semua rasanya tidak mungkin.


Mas Dika saja masih belum ada kabar dan juga membalas pesanku. Aku sudah mengirimkan pesan dan memberitahunya kalau putri kami sudah lahir. Akan tetapi, pesan di aplikasi hijaunya hanya centang hitam dua sejak beberapa jam lalu. Pertanda pesan itu belum dibaca oleh Mas Dika. Dalam hatiku sempat bertanya-tanya tentang apa yang kira-kira sedang dilakukannya saat ini.


Aku pun sempat meneleponnya beberapa kali, tapi tak dijawab. Membuatku semakin kesal saja. Di mana dia, sedang apakah dirinya saat ini. Begitulah yang aku pikirkan sedari tadi. Bayangan buruk akan pengkhianatan Mas Dika tiba-tiba saja datang menghantuiku. Sungguh, mengapa hati ini selalu diliputi rasa ketidakpercayaan terhadap suamiku sendiri. Padahal hal itu sangat merugikan dan membuang waktu. Padahal apa yang kita pikirkan juga belum tentu terjadi kan?


Bagaimana pikiran buruk itu tidak datang, sedangkan di saat seperti ini saja justru suamiku menghilang tanpa satu pun kabar. Entah di mana rimbanya. Tak tahukah aku yang sudah susah payah berjuang antara hidup dan mati untuk buah cinta kami. Sungguh jahat jika dirinya saat ini bersenang-senang, sedangkan diriku di sini sedang bergumul dengan rasa sakit.


"Awas kau, Mas!" geramku tertahan.


***


Kehadiran Mas Nandi tadi ternyata sanggup menumbuhkan desiran halus di hatiku. Entah perasaan macam apa ini. Mungkinkah ini adalah rasa rinduku padanya yang telah bersembunyi di sudut terdalam hatiku. Mas Nandi, andai aku bisa memutar waktu. Aku sungguh ingin kembali dan memperbaiki rumah tangga kita. Aku menyesal dengan sikap keras kepalaku yang tetap kukuh meminta cerai darimu. Namun, aku salah, hati ini ternyata masih menyimpan cinta yang begitu dalam pada sosok Mas Nandi. Aku sangat menyesali semua itu kini.

__ADS_1


Aku terlalu terburu-buru saat mengambil keputusan. Dan kini aku menyesal, tidak bisa kujabarkan bagaimana penyesalan ini harus kuungkapkan. Penyesalan yang sia-sia belaka kurasakan. Aku telah dibutakan oleh pesona Mas Dika hingga mengabaikan ketulusan Mas Nandi. Ketampanan paras telah membutakanku hingga tak dapat membedakan mana cinta yang benar-benar tulus, dan mana yang hanya modus. Cinta buta itu telah menutup akal sehatku.


Ah, bodohnya aku. Membuang cinta tulus Mas Nandi demi mendapatkan cinta semu Mas Dika. Bodoh.


***


Pagi itu, Aku sudah dipindahkan ke ruang rawat inap. Sanak saudara pun sudah silih berganti berdatangan menjengukku. Dokter belum mengizinkanku pulang sebelum keadaanku dipastikan baik-baik saja. Baru dokter akan memberiku izin pulang.


Terlintas pertanyaan yang sedari tadi mengganjal di hatiku. Di sela-sela kebahagiaan yang sedang kurasakan atas hadirnya sang buah hati. Batinku bertanya-tanya kenapa Mas Nandi semalam bisa ada di rumah sakit ini. Apakah ini sebuah kebetulan, ataukah takdir?


Dia bahkan dengan tulus membantu mengadzani putriku dan menggantikan peran Mas Dika selaku ayahnya. Hatiku tersentuh oleh perbuatan baiknya. Setidaknya aku juga harus berterima kasih padanya karena sudah datang di waktu yamg tepat.


"Uwak, semalam kok mas Nandi bisa ada di sini. Apa Uwak yang kasih tau dia kalau aku mau lahiran?" tanyaku saat Uwak Mar menyodorkanku teh hangat dan roti untuk mengisi perut.


"Oh, itu. Nandi di sini karena sepupunya itu loh sedang dirawat juga di sini. Jadi, dia lagi nungguin sepupunya gitu, kebetulan dia lihat Uwak di depan ruang tempat kamu operasi semalam, lalu dia menyapa Uwak," jawab Uwak Mar. Aku hanya mengangguk tanda mengerti.


'Jadi, Mas Nandi berada di sini karena sepupunya? Bukan karena sengaja ingin menemuiku?' Aku terkekeh dalam hati sebab sudah terlalu percaya diri dari tadi dam mengira kalau alasan Mas Nandi ada di sini karena aku.

__ADS_1


Di sudut hatiku yang terdalam, aku masih mengakui semua kebaikannya. Dia masih saja sama seperti dulu. Tetap loyal dan solid terhadap orang-orang yang dia kenal. Dia selalu berbuat baik pada siapa pun. Dan dapat diandalkan di saat-saat genting seperti ini. Dialah Mas Nandi, pria baikku yang tak pernah berubah. Namun, sayangnya dia bukan lagi milikku. Apakah aku bisa memiliki Mas Nandi lagi? Penampilannya saat ini pun sangat keren. Aku sampai pangling dan sempat nggak nyangka jika penampilan Mas Nandi akan sekeren itu. Penampilannya yang dulu , kini telah berubah.


"Apa kamu pikir Uwak yang ngabari Nandi?"


Aku mengangguk samar. Malu, karena aku berharap jika Mas Nandi memang berniat menemani momen melahirkanku.


"Mana mungkin Uwak ngasih tahu Nandi kalau kamu mau lahiran. Kalian 'kan sudah bukan suami istri lagi." Perkataan Uwak Mar sukses membuatku sadar dengan perbedaan status kami saat ini. Ucapannya tadi telah berhasil menamparku. Melemparkanku jauh kedalam jurang penyesalan. Sadar, Arisa! Mas Nandi bukan suamimu lagi. Kamu harus terima kenyataan ini.


Fakta pahit itu seolah mengejekku. Kini aku dan mas Nandi sudah bukan siapa-siapa lagi. Aku sangat menyadari itu. Tetapi aku justru semakin berharap masih ada ruang untukku di hatinya. Itu ... sesuatu yang tidak mungkin, bukan?


'Mas Nandi, kembalilah,' jeritku dalam hati.


"Suamimu si Dika itu udah kamu kasih tahu belum kalau kamu sudah lahiran?" tanya Uwak Da mengalihkan topik pembicaraan.


"Udah, Uwak. Tapi sekarang masih sibuk. Jadi belum bisa kemari untuk melihat anaknya," ujarku berbohong. Biarlah, itu demi kebaikanku. Kalau aku berkata jujur mereka pasti akan menyesali keputusanku yang telah memilihnya.


Cukuplah, hanya aku yang merasakan kepedihan ini. Lelaki yang kupilih ternyata tak lebih dari seorang yang tak bertanggung jawab. Seperti apa harus kugambarkan penyesalan ini. Yang pasti sakit tapi tak berdarah. Aku menyesal hingga ke sumsum tulang.

__ADS_1


Bolehkah aku egois sekali saja, meminta Mas Nandi kembali padaku. Kembali merajut kasih yang sempat kandas oleh kebodohanku sendiri. Aku ingin memulainya dari awal lagi. Mas Nandi, dapatkah kumiliki dirimu lagi?


__ADS_2