
Sebulan sudah Arisa menjalani hidup seatap dengan mertuanya. Meskipun berat, setidaknya dia dapat membatasi ruang gerak suaminya. Risti masih saja tidak dapat menerima kehadirannya juga bersahabat dengan Arisa. Entahlah, gadis itu selalu berpikir memposisikan dirinya sebagai Aisyah. Diselingkuhi oleh orang yang paling dicintai tentu merupakan pukulan terbesar dan sangat menyakitkan.
Sehingga, rasa bencinya pada Risa tidak memiliki penawarnya. Risti akan terus menganggapnya sebagai pelakor yang sudah merusak rumah tangga kakak iparnya. Ia juga sangat membenci Dika, kakaknya, karena lebih memilih Risa dibandingkan mempertahankan rumah tangganya dengan Aisyah.
Begitulah pemikiran sederhana Risti sebagai gadis yang baru menginjak remaja. Ia pasti tak akan paham jika konflik orang dewasa sangatlah rumit dan Risti pasti akan sulit memahaminya.
Maka dari itu, saat tahu kakaknya berselingkuh ia jadi sangat membenci Dika. Apalagi dengan kenyataan bahwa sudah ada wanita lain yang akan menjadi iparnya. Dan dia memutuskan untuk membenci juga pelakor itu. Gara-gara dia rumah tangga kakaknya hancur. Ah, tapi Risti tak tahu menahu jika Dika jugalah yang menyebabkan rumah tangga Risa hancur. Orang dewasa memang serumit itu.
Petaka itu semuanya berawal dari perselingkuhan mereka. Maka mereka pun akan mendapat ganjaran setimpal. Membayar untuk semua rasa sakit yang tertoreh pada pasangan mereka masing-masing. Tuhan itu Maha Adil, bukan?
***
Ting..
Sebuah pesan kembali datang di aplikasi penyadap yang masih dimiliki Risa. Risa memeriksanya dengan seksama.
[Mas, aku kangen. Udah sebulan nggak ketemu kamu. Kamu nggak kangen?] Pesan dari Dinda.
[Kangen juga sayang. Tapi, sabar ya. Risa sekarang posesif banget sama aku. Aku nggak mau dia curiga sama hubungan kita.] Balas Dika.
[Katanya kamu udah nggak cinta lagi sama Risa.]
[Iya sih. Tapi kan masih ada darah dagingku yang harus aku nafkahi.]
[Ketemuan aja yuk, sayang. Ke rumahku. Lagi sepi nih.] Dinda mulai memancing naluri lelaki Dika.
__ADS_1
[Hmm. Gimana ya. Tapi, aku masih kerja di kebun sekarang.] Dika melihat jam yang ternyata masih pukul 2 siang. Tiga jam lagi baru bisa pulang.
[Ayo, Mas. Nggak kangen enak-enak sama aku emangnya?]
Balasan pesan dari Dinda sontak membuat Dika menelan salivanya berkali-kali. Jakunnya langsung naik turun. Angannya terbang jauh membayangkan panasnya permainan Dinda di atas ranjang. Imajinasinya liar seketika.
[Aku jalan sekarang.] Dika membalas dengan antusias. Rasanya sudah tak sabar untuk menemui Dinda setelah tahu jika rumah Dinda kosong. Kesempatan, pikirnya. Sudah lama dia tidak mendapat kehangatan dari Dinda. Dan Dika pun sangat senang dengan kabar ini.
'Mana mungkin aku tolak kesempatan ini!' batin Dika. Dirinya sudah dikungkung oleh hawa nafsu. Maka dari itu, dia pun segera izin pada Bapaknya untuk pulang lebih awal dengan dalih sedang tidak enak badan. Padahal hanya alasannya saja yang sudah tersulut hawa nafsu. Dan ingin bersenang-senang dengan wanita yang bukan muhrimnya. Tapi, Dika tak peduli tentang itu.Toh, Dinda sendiri yang seolah memberi kode padanya untuk datang. Seperti peribahasa, jika semut tidak akan datang jika tidak ada gula atau sesuatu yang manis lainnya.
Lelaki itu pun segera meluncur ke rumah sang perempuan cadangan tempat melabuhkan hasratnya selama ini. Pergi dengan hasrat membara yang harus segera dituntaskan. Dika memacu motornya dengan kecepatan cukup tinggi. Ingin segera sampai ke tempat yang dituju.
Dinda adalah seorang janda cerai tanpa anak. Mereka sudah menjalin hubungan terlarang itu setelah keduanya sama-sama pulang dari Taiwan. Bahkan saat di pesawat pun, tempat duduk mereka bersebelahan. Entah itu suatu kebetulan atau memang sudah direncanakan sebelumnya. Hanya Tuhan dan mereka yang tahu.
***
'Tega kamu, Mas!' Makinya. Himpitan sesak di dada seolah terluah begitu saja. Risa menangis terisak. Tidak tahan dengan perselingkuhan suaminya.
'Aku akan akhiri semuanya! Muak melihat kalian tertawa bahagia di atas deritaku. Aku tak peduli jika harus kehilangan orang sepertimu, Dika!' Risa menjerit dalam hati penuh emosi. Ia harus segera bertindak untuk meredakan amarahnya.
Inikah balasan dari segala pengkhianatannya terhadap Nandi dulu. Kini Risa hanya bisa merutuki kebodohannya sendiri selama ini. Ia telah mendapatkan hasil dari apa yang pernah diperbuatnya pada Nandi.
***
Risa segera memesan ojek online untuk pergi menuju tempat suaminya berada. Tempat dimana jal*ng itu dan dirinya tengah memadu kasih. Sebelumnya Risa sudah memeriksa lokasi Dika dari GPS di HP-nya. Beruntung GPS di gawai suaminya itu selalu dalam mode aktif. Zivanna, ia sempat menitipkannya sementara pada ibu mertuanya. Bersyukur kini ibu mertuanya sudah luluh padanya. Sudah mulai menerima dirinya dan juga Zivanna.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan pun, Risa tak hentinya terus mengumpat dalam hati. Dia merutuki segala tingkah bodohnya mempertahankan Dika saat itu. Seharusnya, saat itu ia terima saja tawaran Nandi yang mau menerima keadaannya yang tengah berbadan dua saat itu. Nasi sudah terlanjur menjadi bubur. Nandi pun belum tentu mau kembali padanya. Karma.
"Apakah ini karma untukku?" gumamnya lirih.
***
Sesampainya di alamat yang dituju. Risa turun dari motor yang mengantarnya. Memberi sedikit uang tip pada kang ojol. Meski tak banyak, dia menyambutnya dengan senyum sumringah dan ucapan terima kasih untuk Risa.
Risa memandangi rumah model minimalis itu. Ia langsung merangsek masuk ke pekarangan rumah itu. Ia pandangi sekitar rumah itu. Sepi. Pantas saja mereka berani bermaksiat di siang bolong begini, pikirnya.
Ia mendengar suara musik dangdut koplo yang cukup keras. Suara Via Vallen yang mendayu-dayu saat menyanyikan lagu Sayang itu langsung menyambut pendengaran. Sepertinya suaranya dari dalam.
Risa mencoba membuka pintu rumah itu.
Ceklek..
Krieet..
Pintu dengan mudahnya terbuka. Ternyata tidak di kunci. Ceroboh sekali dua mereka, pikirnya. Sampai-sampai lupa mengunci pintu sebelum ***-*** di dalam sana.
Risa pun masuk ke dalam rumah yang tak terkunci pintunya itu dan berjalan mengendap-endap mencari dua manusia yang mungkin saja tengah bergumul mesra. Risa sudah menyiapkan hatinya.
Aku harus kuat. Aku harus tegar menghadapi segala yang akan terjadi di depan mata, tekadnya dalam hati.
Walau tak dapat dipungkiri hatinya saat ini sedang tidak baik-baik saja. Ia yakin jika langkah yang tengah ditempuhnya saat ini adalah suatu keharusan untuk membongkar segalanya. Agar dirinya tidak lagi dihantui oleh prasangka buruk. Risa ingin melepaskan segalanya andai pengkhianatan itu benar-benar terjadi.
__ADS_1
Bersambung....