Benih Pria Lain Di Rahimku

Benih Pria Lain Di Rahimku
Berdamai Dengan Keadaan


__ADS_3

Setelah berpikir cukup lama, akhirnya aku pun setuju dengan usul kak Surya untuk mencabut tuntutan atas kasus perzinahan yang Mas Dika dan Dinda lakukan tempo hari. Cukuplah membiarkan mereka menginap di penjara selama tiga hari ini. Aku berharap akan ada efek jera untuk mereka.


Aku menyetujui usulan itu tentu saja dengan beberapa pertimbangan serta pemikiran yang matang. Aku memikirkan itu puluhan bahkan ratusan kali. Ada Zivanna yang saat ini masih membutuhkan sosok ayahnya. Pun juga aku takut suatu saat nanti dirinya besar, teman-temannya akan mengejak putriku jika ayahnya pernah menjadi narapidana. Aku tidak ingin hal itu terjadi. Tidak ingin mentalnya terganggu oleh masalah yang pernah menimpa kedua orang tuanya.


Sebisa mungkin sebagai ibunya aku ingin mengubur masa lalu kelam kami pada Zivanna. Serta hanya membiarkannya hanya mengetahui sisi baik kami. Tak akan kuizinkan satu orang pun mengejeknya atas kesalahan yang pernah kuperbuat.


Biarlah aku saja yang mengalah saat ini tapi tentu saja bukan untuk kalah. Aku hanya sedang mencoba berdamai dengan keadaan saja. Bukan untuk kalah karena diselingkuhi oleh sahabat dan suamiku sendiri. Bukankah semua perbuatan akan mendapat ganjarannya? Aku akan mulai memperbaiki diri dan belajar dari pengalaman yang pernah kualami.


Untuk Dinda, sebenarnya aku agak tidak ikhlas membiarkannya bebas begitu. Belum cukup rasanya dendamku ini terbalaskan. Karirnya belum sempat ku hancurkan. Padahal aku masih punya rencana untuk menghancurkan karirnya dengan video asusila Dinda itu. Biar dia tahu sedang berhadapan dengan siapa saat ini.


Tapi, mungkin takdir cuma mengizinkanku mempermalukannya pada para tetangga dan juga memberinya efek jera dengan tinggal di hotel prodeo selama tiga hari ini. Selebihnya biar sanksi sosial yang menghukumnya.


Bukankah lebih mengerikan? Cibiran, cemoohan, bahkan kemungkinan dikucilkan pun bisa terjadi jika sanksi sosial sudah berbicara. Benar kata kak Surya, aku harus membiarkannya menerima sanksi itu. Dan semua keputusan akan kembali padaku. Kak Surya hanya memberiku wejangan dan nasehat agar aku tidak akan menyesal untuk yang kedua kalinya.


Seperti yang kak Surya katakan, bahwa kami bertiga harus menandatangani perjanjian hitam di atas putih. Harus tertulis dengan jelas di situ, jika mereka berdua tidak boleh bertemu lagi maupun berkomunikasi lagi satu sama lain. Dengan alasan apa pun. Hubungan keduanya harus benar-benar berakhir.


Jika tidak, atau salah satu dari mereka melanggar kesepakatan ini maka mereka akan langsung diproses hukum lagi. Kira-kira seperti itulah kesepakatan antara aku, Mas Dika, dan Dinda.


"Sialan kamu, Risa! Ini yang kamu sebut sahabat huh! Asal kamu tahu aku nggak akan pernah terima diperlakukan seperti ini! Tunggu saja pembalasanku!" umpat Dinda setelah kami baru saja keluar dari rumah tahanan.


"Ck! Aku udah baik hati mencabut tuntutan kalian loh. Tapi malah seperti itu balasanmu, huh! Benar-benar nggak tahu terima kasih!" ucapku geram mendengarnya berkata seperti itu.

__ADS_1


Dinda hanya melengos sambil berlalu tidak menjawab lagi ucapanku. Dinda pasti pulang dengan membawa kedongkolan.


"Udah, Ris. Jangan diambil hati ucapannya. Anggap saja radio rusak," kata kak Surya menengahi kami.


Tadi saat tanda tangan perjanjian itu Dinda sempat menolak keras setelah membaca dengan seksama isi perjanjian itu. Hingga akhirnya dia terpaksa menandatangani perjanjian itu. Setelah melihat Mas Dika dengan tanpa beban langsung membubuhkan tanda tangan pada kertas bermaterai itu.


Sedangkan kulihat Mas Dika memang tanpa berpikir lagi menandatanganinya. Membuatku merasa aku dan Zivanna masih penting untuknya. Masih punya ruang di dalam hatinya. Ya, setidaknya itu lebih baik. Dan semoga saja Mas Dika mau mengubah tabiatnya itu.


Aku pun berpikir untuk mempertimbangkan kesalahan dirinya kali ini. Bukankah manusia pernah melakukan khilas dalam hidupnya. Mungkin saja mas Dika akan benar-benar berubah setelah kejadian ini.


"Ayo, kak kita pulang," ucapku pada kak Surya. Aku memilih pulang ke kontrakan Kak Surya karena memang tujuanku adalah ke sana.


"Loh, Dek. Kita nggak pulang bareng?" Mas Dika bertanya keheranan. Ia tampak mengernyitkan alisnya.


Untungnya, aku memiliki Kak Surya untuk menjadi tempatku berlindung dan berteduh kalau tidak, mungkin aku akan berakhir di jalanan bersama anakku.


Mas Dika tampak terkejut. Tidak menyangka hal itu terjadi hanya dalam waktu singkat. Saat dirinya berada di sel tahanan. Semua kondisi dapat berubah dalam sekejap.


"Ayo, kita pulang bareng, dek. Aku akan membujuk orang tuaku untuk menerimamu lagi," ucap mas Dika membujukku untuk ikut bersamanya.


"Nggak, Mas. Besok aku akan kembali ke rumahku di kampung," ucapku yakin. Mas Dika tampak terkejut dengan rencanaku. Ia pasti tak akan mengira jika aku akan menolak ajakannya untuk kembali ke rumahnya.

__ADS_1


Aku juga tak mungkin kembali ke sana setelah diusir sedemikian rupa oleh ibu mertuaku. Aku masih punya harga diri.


"Apa? Kamu mau kembali ke rumah kamu disana, Dek." Aku mengangguk. "Tapi, katamu nggak mau jauhan sama aku, Dek " ucapnya merasa frustasi.


"Itu dulu, mas. Sekarang, terserah mas saja. Kalau aku dan Zivanna masih penting untukmu mungkin kamu akan berpikir untuk ikut tinggal bersamaku disana." ucapku penuh penekanan. Berharap dia berubah pikiran dan mau tinggal bersama di rumahku. Memulai semuanya lagi dari awal.


"Tapi, dek. Gimana dengan pekerjaanku?" Mas Dika meragu.


"Disana juga ada kerjaan, kalau mas giat mencari."


"Beri aku waktu untuk berpikir dulu, Ris. Juga meyakinkan keluargaku untuk menerimamu kembali. Aku memang pantas dihukum seperti ini. Itu semua bukan salahmu, Ris. Tapi, tolong kamu percaya sama aku kalau aku akan berubah. Demi anak kita. Demi Zivanna. Aku nggak akan mengulangi kesalahan yang sama. Maafkan aku yang selalu menyakitimu." Mas Dika berkata panjang lebar. Meraihku dalam pelukannya. Sebelum akhirnya kami berpisah. Pulang ke arah yang berlawanan.


Dulu mungkin aku langsung percaya begitu saja dengan janjinya. Tapi kini, setelah pengkhianatan itu rasanya sulit sekali untuk percaya padanya lagi. Entahlah, rasa cinta ini seperti terkikis saat tahu dirinya bermain api di belakangku.


Bayang-bayang mas Nandi begitu saja melintas di benakku. Beginikah rasanya dikhianati dan diselingkuhi oleh pasangan kita? Mas Nandi, aku harus menemuinya setelah aku pulang nanti. Harus.


Bukan. Bukan untuk memintanya kembali. Aku ingin meminta maaf padanya. Sepatah kata yang seharusnya aku ucapkan dari dulu. Meski aku tahu, memaafkan itu sangat sulit. Melupakan kekecewaan pada kejadian dulu pun pasti lebih sulit. Aku tahu itu. Aku merasakannya saat ini.


Tapi, aku berharap pintu maaf itu masih terbuka lebar untukku. Semoga.


'Mas Nandi, maafkan aku.' Batinku pilu mengingat perpisahanku dengannya yang penuh luka. Luka yang kutoreh sangat dalam untuknya.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2