Benih Pria Lain Di Rahimku

Benih Pria Lain Di Rahimku
Terbakar Cemburu


__ADS_3

BENIH PRIA LAIN DI RAHIMKU


Keesokan harinya, ternyata aku sudah diperbolehkan untuk pulang ke rumah. Kondisiku sudah bisa dikatakan pulih dan tidak ada keluhan yang berarti. Sehingga dokter pun langsung bisa mengizinkanku pulang hari ini.


Uwak Mar dan Uwak Da yang membantuku membereskan barang-barang bawaanku. Sedangkan aku sibuk menggendong putriku. Setelahnya, kami berjalan pelan menyusuri lorong rumah sakit untuk segera pulang.


Saat kami sudah keluar dari rumah sakit. Kulihat pemandangan sekeliling. Aku memejamkan mata, menghirup udara pagi yang segar membuatku begitu bersemangat dan bahagia, terlebih karena sekarang putri kecilku sudah keluar dan menghirup udara dengan bebas. Aku tidak akan kesepian lagi dengan hadirnya pelita hatiku ini.


Pemandangan taman kecil yang asri segera menyambut mata ini. Tetapi, sebuah pemandangan dua orang yang tidak asing bagiku itu sukses membuat mataku membulat sempurna. Bagaimana mungkin? Kenapa mereka terlihat sangat dekat?


Mereka ....


Mas Nandi dan Dokter Ayu tampak berbincang akrab. Aku melihat tidak ada sedikit pun kecanggungan di antara mereka. Mereka saling bersenda gurau dan tertawa bersama layaknya orang yang sudah saling mengenal lama. Apakah mereka berteman? Tapi, aku nggak pernah tahu itu.


Kenapa aku merasa tak suka dengan kedekatan mereka berdua? Kenapa? Apa aku sedang cemburu saat ini? Netraku memanas demi melihat kedekatan mereka. Sungguh pemandangan yang memuakkan. Hatiku terasa terbakar mendengar sayup-sayup gelak tawa dari mereka dari kejauhan. Cih, apa-apaan! Apa Mas Nandi memang sengaja memanasiku?


Lantas tetap kulanjutkan langkahku yang sempat terhenti. Saat sampai di dekat tempat mereka tengah duduk bersama. Aku tidak bisa menahan diriku lagi. Dan akhirnya kuhampiri mereka berdua.


"Mas Nandi," sapaku.


Mas Nandi menoleh ke arahku.Tatapan mas Nandi masih sama seperti dulu. Mata elangnya tajam sanggup membuat jantung wanita deg-degan. Dokter Ayu pun mengulas senyuman manisnya. Aku tak membalas senyum ramah itu justru melempar tatapan sinis padanya karena berani mendekati mantan suamiku.


"Mau pulang ya, Bu?" tanya dokter Ayu padaku. Aku merasa enggan menanggapi pertanyaannya, tapi karena ada Mas Nandi di sini, aku pun menepis rasa kesalku setelah melihat kedekatan mereka.


"Iya nih," jawabku datar tanpa menoleh ke arah Dokter Ayu. Aku sibuk ingin tahu apa saja yang mas Nandi alami setelah kaki bercerai.


"Mas Nandi, gimana kabarmu, Mas. Siapa yang sedang sakit?" Tiba-tiba pertanyaan itu muncul begitu saja. Aku tak peduli dengan persepsi orang lain.

__ADS_1


"Eeh... A... Aku baik-baik saja kok." Mas Nandi menjawab dengan salah tingkah.


Aku yakin dia belum sepenuhnya bisa move on dariku. Dia pasti lagi grogi karena aku menanyakan kabarnya. Aku tidak salah, kan?


"Mas, kenal ya sama dokter Ayu ini?" tanyaku selanjutnya. "Dia dokter yang sudah bantu aku lahiran tadi malam loh," ujarku lagi.


"Ah, iya saya dulu pernah satu sekolah sama Nandi ini, Bu." Dokter Ayu yang menjawab pertanyaanku.


"Iya, benar. Ayu ini temanku semasa SMA dulu." Mas Nandi menimpali.


'Teman lama, toh,' gumamku dalam hati.


Tak sengaja aku memergoki dokter Ayu yang mencuri pandang pada lelaki di sampingnya itu. Dapat kutangkap sorot mata mengagumi dari mata dokter cantik yang mengenakan hijab itu.


Sungguh hati ini semakin terbakar api cemburu dibuatnya. Aku tak suka melihat dokter Ayu menatap Mas Nandi dengan tatapan mendamba seperti itu.


Kenapa seolah hati ini jadi tak rela jika mas Nandi menemukan tambatan hatinya yang lain. Aku nggak ikhlas, meski ku tahu itu salah. Tapi tetap, hati tak bisa dibohongi.


Senyum itu, senyum tulus yang dulunya kumiliki. Mas Nandi tidak akan dengan mudah mengulas senyumnya pada wanita lain. Sekarang, kulihat mereka saling melempar senyum keakraban. Membuat hatiku sakit, seperti di remas-remas tangan tak kasat mata.


Pernikahanku dan Mas Dika saat ini tak ubahnya seperti neraka. Neraka yang telah kuciptakan sendiri. Kebahagiaan-kebahagiaan yang pernah dia janjikan padaku , nyatanya hanya tong kosong yang berisi janji-janji sampah.


Musnah seiring dengan rasa nestapa dari penyesalanku. Lihat saja, sampai saat ini dia tak kunjung mengabariku. Benar-benar keterlaluan pria itu! Sungguh, aku membencinya kini.


***


Dua hari setelah kepulanganku ke rumah, tanpa diduga-duga Mas Dika akhirnya pulang ke rumahku. Penampilannya tampak semrawut. Hari sudah beranjak malam saat ia sampai. Saat ia baru saja duduk di sofa. Aku langsung menanyakan bermacam-macam pertanyaan padanya.

__ADS_1


"Kemana aja kamu, Mas. Dari kemarin dihubungi nggak bisa. Kamu nggak tahu aku berjuang antara hidup dan mati buat melahirkan buah hati kita."


Aku mencecarnya tak peduli dengan air mukanya yang sedang kacau itu.


"Aku 'kan udah bilang ada urusan pekerjaan, Ris. Kenapa nggak ngerti juga sih," sanggahnya dengan cepat.


"Bohong! Kamu pasti main wanita lagi 'kan di sana," tuduhku emosi. Aku tidak bisa lagi menahannya.


"Kalo iya, terus kenapa? Udah lah jangan mikir aneh-aneh. Masih untung aku ingat buat pulang ke sini." Ia menjawab tuduhanku dengan wajah datar dan tak acuh.


"Tega kamu, Mas! Kamu nggak seperti mantan suamiku dulu!" ucapku membandingkannya dengan Mas Nandi. Aku menutup mulutku saat sadar telah salah bicara.


"Apa! Kamu bandingin aku, Arisa? Kalo mantan suamimu lebih baik dariku, mending kalian balikan aja gih! Aku ikhlas kok!" balasnya mulai tersulut emosi yang kupantik.


Bukan ungkapan rindu yang terucap setelah lama tak bertemu. Justru adu mulut yang terjadi. Aku mengurung diri di kamar dengan putriku. Seketika aku meraza menyesal, kenapa harus marah padanya dan meninggalkannya sendiri di ruang tamu.


Bagaimana kalau dia pergi lagi? Atau bahkan setelahnya dia tidak kembali lagi padaku. Aku sangat frustasi. Aku masih membutuhkannya sekarang. Meskipun entahlah itu bisa disebut cinta atau bukan. Atau mungkin hanya sebuah cara untuk menutupi penyesalanku.


Aku bergegas keluar kamar. Aku berniat meminta maaf pada Mas Dika. Aku harus pintar mengambil hatinya lagi. Kulihat ia masih berada di sofa, Ia tengah membaringkan tubuhnya.


"Mas Dika. Ayo masuk ke kamar aja. Jangan tidur di sini." Aku mengguncang-guncangkan tubuhnya yang mulai terlelap. Tak lama dia membuka matanya.


"Hmm. Kamu ngomong apa Ris, tadi?" tanyanya yang masih setengah sadar.


"Itu ... Masuk ke kamar aja yuk, Mas. Jangan di sini tidurnya. Aku minta maaf soal yang tadi." Aku merendahkan nada bicaraku. Berharap dapat meluluhkan hatinya lagi.


Ia hanya mengangguk, "Jangan di ulangi lagi seperti itu, Ris. Siapa pun akan jengah jika dituduh seperti itu." Aku mengulas senyum lalu menggandeng lengannya menuju ke kamar untuk beristirahat dan melihat putri kami yang tengah terlelap.

__ADS_1


Bersambung .....


__ADS_2