Benih Pria Lain Di Rahimku

Benih Pria Lain Di Rahimku
Hari yang Berat


__ADS_3

Aku segera beranjak keluar dari rumah itu. Membawa luka yang masih luka dan berdarah. Aku berjalan sedikit cepat tepat di samping kak Surya. Saat akan naik ke motor kak Surya, tiba-tiba seseorang memeluk kedua kakiku. Mas Dika?


"Ris, aku mohon beri kesempatan sekali lagi. Aku janji akan berubah." Mas Dika masih memegangi kakiku. Mengiba padaku untuk sebuah kesempatan.


"Pikirkan Zivanna, anak kita, Ris. Apa jadinya jika suatu saat hidupnya di bully karena ayahnya pernah masuk penjara."


Aku menatap kak Surya, meminta pendapat untuk keputusanku selanjutnya. Tapi, tak di duga Dinda yang sudah berpakaian lengkap itu menarik mas Dika.


"Ngapain sih mas sampe berlutut segala. Talak aja dia. Istri siri aja sok bergaya kaya istri sah!" hina Dinda padaku.


"Diam kamu!" Mas Dika menghardik Dinda.


Cukup! Aku sudah tidak tahan lagi! Kurogoh tasku lalu mengambil sesuatu dari dalamnya. Kukeluarkan dua buku nikah dan kulemparkan langsung ke muka Dinda. Sontak jal*ng itu terpelongo. Mungkin mas Dika belum cerita kalau pernikahan kami sudah disahkan negara juga.


Saat bulan-bulan pertama Zivanna lahir, aku sudah mengamankan statusku. Aku tahu hal seperti ini pasti akan terjadi suatu saat. Maka, akupun sempat gencar memintanya mengesahkan status pernikahan kami.


Dengan desakanku dan juga keluargaku akhirnya terkabul juga permintaanku saat Zivanna genap berusia 2 bulan. Kami mendaftarkan lagi pernikahan kami pada Kantor Urusan Agama. Supaya tercatat pula dalam hukum negara.


Seketika wajah Dinda berubah pias.


"Lihatlah! Posisiku lebih kuat disini. Aku seorang istri SAH! Dan kamu, cuma pelabuhan hasrat suamiku. Maaf, mas. Aku akan tetap melanjutkan perkara ini," ucapku sambil berlalu dari hadapan mereka.


Tak lupa kurebut lagi buku nikahku dari tangan j*lang itu. Aku sudah puas rasanya melihat ekspresinya antara marah dan malu. Berbaur menjadi satu.


***


Hari yang sangat melelahkan untukku belum berakhir. Setelah dari kantor polisi, Aku pulang ke rumah mas Dika untuk membawa Zivanna menginap di kost-an kak Surya malam ini. Sekalian mengambil pakaian kami yang sempat kubereskan sebelum pergi tadi siang. Tak banyak memang. Aku memutuskan pulang ke rumahku beberapa hari ke depan.

__ADS_1


Sesampainya di rumah, mertuaku langsung memberondongku dengan berbagai pertanyaan. Sorot tajam langsung mereka tunjukan padaku. Si menantu durhaka.


"Tega kamu ya! Menjebloskan suami sendiri ke penjara." ucap ibu mertua seraya menampar pipiku saat aku baru saja masuk ke dalam rumah.


"Puas kamu sekarang, hah! Egois! Kamu sudah mempermalukan keluarga kami. Jangan harap kamu masih punya tempat disini. Pergi kamu!" Bentaknya keras. Aku tahu ini pasti terjadi. Aku sudah menyiapkan mental dari jauh hari.


"Tidak ada asap, kalau tidak ada api! Kalau anak kesayangan ibu nggak kegatelan buat selingkuh mana mungkin saya melaporkan perbuatan mereka. Dasarnya putra ibu saja yang tak bermoral." aku membalas ucapan mereka dengan sinis. Gurat kemarahan tergambar jelas dari keluarga suamiku.


"Heh, nggak usah sok suci lah. Loe juga dulu kan pelakor. Selingkuhan yang naik kelas jadi istri sah. Nggak ingat ya?" Risti ikut menghakimiku. Mencibirku.


"Itu cuma masa lalu. Sekarang, aku istri sah mas Dika. Jadi jaga ucapanmu anak kecil!" Aku tak mau kalah berdebat.


"Diam kamu! Pergi dari sini sekarang juga!" ibu mertua berteriak mengusirku.


"Siapa juga yang mau berlama-lama disini. Aku kesini mau membawa Zivanna dan pergi dari sini. Anak kalian itu tukang selingkuh, biarkan saja dia mendekam di penjara. Biar kapok!"


"Tutup mulutmu!" ibu mertua semakin histeris memakiku. Sedangkan ayah mertua lebih banyak diam. Tidak banyak bicara sejak tadi.


Gegas pergi keluar dari rumah ini. Rentetan peristiwa yang terjadi seperti de javu untukku. Saat mas Dika selingkuh. Tertangkap basah. Lalu pada akhirnya aku yang diusir oleh keluarga mas Dika. Seperti inikah perasaan mas Nandi dulu saat ku usir dulu? Miris, mungkin nasibku lah yang berkali lipat lebih menyakitkan.


Kak Surya sudah menungguku di depan rumah. Orang-orang di dalam rumah itu menatap sinis kepergianku. Biarlah, sebentar lagi mereka juga akan jadi masa laluku. Sebagai mantan mertua dan adik ipar.


Setelah ini, aku mungkin akan mengurus perceraian kembali. Malang sekali nasibku! Pernikahan keduaku bersama mas Dika hanya dapat bertahan beberapa bulan saja. Ironis.


***


Sampai di kost-an kak Surya, aku langsung duduk di sofa. Lelah. Hari ini adalah hari terberat bagiku. Berbagai peristiwa yang menguras emosi dan tenaga terjadi bersamaan.

__ADS_1


Aku menidurkan Zivanna ke kamar setelah menyusuinya. Aku membersihkan badan setelah memastikan Zivanna pulas tidurnya. Kost-an kak Surya cukup lengkap fasilitasnya meski tak luas. Terdiri dari satu ruang tidur, kamar mandi dalam, dan ruang serbaguna, bisa untuk menerima tamu dan sebuah TV berukuran 21 inch.


"Kamu yakin dengan keputusan kamu, Ris?" tanya kak Surya saat kami sedang berbincang.


"Yakin." jawabku tegas.


"Jangan gegabah, Ris. Ingatlah, dan pikirkan Zivanna. Ia masih butuh sosok ayah." kak Surya berusaha mengubah pendirianku.


"Aku nggak mau terus-terusan makan hati jadi istrinya."


"Tapi pikirkanlah sekali lagi, Ris. Aku nggak mau kamu menyesal seperti dulu lagi."


"Mas Nandi dan mas Dika itu berbeda orang dan perilaku, Kak."


"Dulu kamu sendiri yang memilih Dika sampai tega membuang Nandi. Apa kamu nggak pikirin hubungan persahabatanku dan Nandi setelah kejadian itu?" Intonasi suara kak Surya meninggi. Aku terkesiap.


Ya. Kak Surya dan mas Nandi adalah sahabat dekat bahkan sebelum aku berpacaran dengan mas Nandi. Tentu berat baginya dengan kenyataan saat aku mencampakkan mas Nandi. Bagaimanapun mereka sudah bersahabat cukup lama.


"Nandi, masih tetap ramah terhadapku bahkan setelah pengusiran dirinya malam itu. Bahkan bersikap seolah tak pernah terjadi apa-apa. Aku yang merasa malu pada dirinya, Ris." Kak Surya berkata dengan nada pedih di dalamnya. Netraku menerawang, mengingat malam pengusiran mas Nandi itu. Hatiku mendadak terasa tergelitik perih.


Saat itu, aku memang terlalu gegabah dalam mengambil keputusan. Dan hampir ku lakukan lagi saat ini. Hampir terulang kesalahan yang sama lagi.


"Berpikirlah jernih, Ris. Pertahankan Dika setidaknya demi Zivanna." ucap kak Surya melembut.


"Terus gimana dengan Dinda, kak. Aku nggak mau dia lepas begitu saja. Setidaknya harus ada ganjaran buat dia karena sudah menghianatiku." ucapku bergetar menahan isak tangis yang hampir pecah.


"Lepaskan saja, Ris. Biar sanksi sosial yang menghukumnya. Tapi dengan syarat. Buat perjanjian di atas materai antara kalian bertiga."

__ADS_1


Aku manggut-manggut mendengar penuturan dari kak Surya. Lumayan membuka pikiranku yang sempat berpikir pendek. Benar apa yang dikatakannya. Aku pernah salah melangkah. Maka, kali ini aku tidak boleh salah lagi. Bertahan, demi Zivanna.


Bersambung ....


__ADS_2