Benih Pria Lain Di Rahimku

Benih Pria Lain Di Rahimku
Malam Menegangkan


__ADS_3

BENIH PRIA LAIN DI RAHIMKU


Keputusan besar dan sulit sudah diambil oleh Mbak Aisyah. Nampaknya ia ikhlas melepas Mas Dika untukku. Meski ku tahu, ada rasa sakit yang menderanya, namun ia memilih untuk tak memperlihatkannya.


Akan tetapi biarlah, bukankah ini merupakan tujuanku mencari Mas Dika sampai kesini. Tak lain adalah untuk meminta pertanggung jawabannya. Peduli setan, dengan rumah tangganya yang hancur. Aku pun juha sama, telah menghancurkan rumah tanggaku sendiri. Jadi kita impas, 'kan. Rumah tangga kami sama-sama hancur oleh hawa nafsu yang tidak dapat kami kendalikan. Melakukan yang tak seharusnya kami lakukan sejak dulu. Namun godaan tetaplah godaan. Dan kami kalah dalam menolak godaan itu.


Kami akhirnya larut dalam kenistaan akibat godaam yang tak dapat kami hindari hingga perselingkuhan itu terus berlanjut dan aku rela memberikan apa saja yang ada di dalam diriku termasuk, tubuhku.


Setelah dua hari dirawat, aku diperbolehkan pulang. Mbak Aisyah membawaku serta untuk pulang ke rumahnya. Kebaikannya ini justru membuatku semakin digelayuti rasa bersalah. Telah mengambil kebahagiaannya dengan paksa.


"Maafkan aku, Mbak. Aku harus mengambil Mas Dika untuk bertanggung jawab atas bayi ini," ucapku tiba-tiba saat sudah duduk di sofa rumahnya.


"Nggak apa-apa, Ris. Mungkin ini sudah jalan hidupku. Jodohku dengan mas Dika hanya sampai di sini," sahutnya lembut seraya tersenyum padaku.


Mas Dika sedang ada di rumah orang tuanya. Mbak Aisyah bilang tujuannya kesana adalah untuk meminta restu menikahiku. Saat ini, Mbak Aisyah sudah melayangkan gugatan cerainya. Mas Dika pun sudah menalaknya. Kini langkahku takkan terhenti. Jalan yang kutempuh sudah terbuka lebar. Keinginanku akhirnya akan terwujud. Senangnya hatiku.


***


Setelah drama yang cukup panjang, aku berhasil memboyong Mas Dika datang ke kampungku. Tentu, kami berangkat dengan mobil sewaan yang kusewa kemarin.


Mas Dika tidak sendiri, ayahnya pun turut serta. Karena kami akan mengadakan ijab qabul di rumahku.


Semua terkesan mendadak dan buru-buru. Persiapan pun hanya seadanya. Karena memang kami hanya menikah secara siri. Aku tak terlalu memusingkannya, toh yang penting sah dulu. Dan statusku jelas sebagai istrinya. Dan nasib bayi ini juga, tidak akan terlahir tanpa sosok ayah.

__ADS_1


Sikap Mas Dika kurasakan sangat berbeda dari yang kukenal dulu. Dulu, dirinya sangat romantis, perhatian dan penuh kasih sayang. Tapi sekarang, berubah total. Rumah tangga yang baru kubina pun terasa hambar.


Tatapan penuh cintanya yang dulu, kini telah tiada. Bagai hilang tak berbekas. Apakah ini hukuman bagiku? Raganya bersamaku, tapi hati dan pikirannya entah melayang kemana.


"Aku mau balik ke kota B. Kamu tau kan aku harus membantu usaha kedua orang tuaku di sana, " ucap mas Dika, saat kami baru saja selesai makan malam.


"Kenapa sih, Mas. Baru juga kita nikah tiga hari yang lalu. Sekarang udah buru-buru pergi." Aku berpura-pura merajuk agar dia membatalkan niatnya untuk pulang ke kotanya. Sayangnya hal itu sudah tak mempan lagi sekarang.


"Nggak bisa, Ris. Kamu 'kan tau aku nggak ada kerjaan lain selain di kebun sayur orang tuaku. Kalau aku gak kerja, gimana nanti bisa nafkahi kamu," tegas mas Dika. Benar juga perkataannya, tabunganku pun kian menipis.


Sedangkan Mas Dika setelah bercerai, ia tak mendapat sepeser pun harta gono gini. Ternyata Mbak Aisyah itu punya perjanjian dengan Mas Dika.


Jika salah satu dari mereka berkhianat, maka perceraianlah yang akan terjadi. Pihak yang berkhianat tidak akan mendapat harta gono gini, maupun hak asuh anak-anak. Begitulah yang dikatakan Mas Dika. Entah itu sebuah kebenaran atau kebohongan, aku sulit untuk percaya pada lelaki yang kini berstatus sebagai suamiku itu.


Licik juga Aisyah itu, dia berhasil menguasai seluruh harta yang Mas Dika hasilkan selama bekerja di Taiwan. Rumah, mobil, dan tabungan yang mas Dika siapkan untuk pendidikan Aqilla.


Mas Dika bilang, Aisyah memberinya 10% dari hartanya. Itupun hanya karena kebaikan hatinya saja. Ia memuji Aisyah sangat baik hati meski sudah dia sakiti bahkan di depan mataku. Ck! Sandiwara Aisyah memang begitu sempurna. Huh, Aku jadi hilang respect padanya. Entahlah, tiba-tiba aku jadi sangat membencinya.


***


Hari itu, aku mengantar kepergian Mas Dika. Dia bilang akan sering berkunjung kesini. Tapi, aku tak yakin. Mengingat janji-janjinya dulu padaku yang ternyata palsu.


"Aku berangkat ya. Jaga kesehatanmu juga bayimu." Ia berkata sambil mengusap perutku.

__ADS_1


"Iya, hati-hati di jalan, Mas. Kabari aku, kalau sudah sampai," ucapku.


"Pasti," balasnya. Aku mencium pipinya, ia mengacak pelan rambutku lalu ia segera berlari masuk ke angkutan umum yang akan membawanya pulang.


***


Setiap minggu, Mas Dika rutin mengirimiku uang. Lima ratus ribu tiap minggunya. Kami rutin bertukar kabar meski tak seintens sewaktu pacaran dulu.


Sebulan dua kali ia juga pulang ke rumahku. Tentu, untuk memberiku nafkah batin. Tidak baik 'kan, jika suami dan istri terlalu lama berjauhan. Biasanya hanya dua hari satu malam ia menginap di tempatku.


Mendekati Hari Perkiraan Lahir, jantungku semakin bertalu hebat penuh kegelisahan. Kontraksi-kontraksi palsu yang mendera membuatku kepayahan. Sedangkan Mas Dika sudah tiga minggu ini tidak berkunjung lagi.


Alasannya ia sedang menangani sebuah proyek besar. Entahlah. Ponselnya sejak tadi tidak dapat kuhubungi. Aku pun membanting ponselku kesal. Kemana dia, di saat aku begitu membutuhkannya!


Sakit yang kurasakan sanggup mengalihkan pikiran negatifku. Aku mencoba mempercayai Mas Dika. Meski tak dipungkiri rasa ragu pun masih menghantui hatiku. Kenapa sulit sekali bagiku mempercayainya kembali.


Malam itu, mulas di perutku semakin menjadi. Di rumah ini aku hanya tinggal sendirian. Aku pun memanggil Uwak Mar yang tinggal di sebelah rumahku untuk datang menemaniku.


Pukul sebelas malam nyeri kontraksi yang kurasakan sudah tak tertahankan lagi. Sepertinya aku akan melahirkan malam ini juga.


Uwak Mar dan Uwak Da pun panik. Akhirnya langsung meminta tolong pada tetangga yang punya mobil untuk mengantarku ke rumah sakit terdekat. Tidak ada lelaki yang sigap menemani saat ini. Suami Uwak Mar dan Uwak Da sedang mencetak bata di sungai sebelah selatan kampung. Mas Dika pun sama sekali tak memberi kabar. Aku pasrah dengan apa pun yang akan terjadi nanti.


Kali ini, mungkin aku harus melahirkan tanpa didampingi suami. Tak seperti dulu, saat melahirkan Anova. Mas Nandi suami yang siaga. Dia setia menemaniku berjuang melahirkan buah cinta kami.

__ADS_1


Ia dengan telaten menghapus peluhku. Menyuntikkan kata-kata semangat. Genggaman tangannya bahkan tak pernah lepas. Mas Nandi ... kenapa aku jadi mengingat tentang dirinya lagi saat ini? Rindukah aku padanya?


Bersambung....


__ADS_2