Benih Pria Lain Di Rahimku

Benih Pria Lain Di Rahimku
Pilihan Aisyah


__ADS_3

PoV Risa


Setelah tersadar ternyata aku tengah berbaring lemah di ruangan serba putih. Bau obat-obatan langsung terhidu di indra penciumanku. Jarum infus pun terpasang di punggung tangan kananku. Kepalaku masih terasa sangat pening. Aku memicingkan mataku demi menyesuaikan cahaya yang masuk ke kornea mataku. Perutku terasa bergejolak seakan menuntut untuk mengeluarkan seluruh isi di dalamnya.


Bau obat-obatan adalah yang paling kubenci seumur hidupku!


Hueekkk!


Perutku seketika terasa mual seperti sedang diaduk-aduk. Arghh! Aku benar-benar tak suka berada di sini. Kak Surya yang tengah tertidur pun, langsung terbangun saat mendengar suaraku. Ia berjalan menghampiriku yang masih terbaring.


"Kamu sudah sadar, Ris?" tanyanya sembari mengamatiku. Ia pasti sedang merasa khawatir padaku.


"Aku hanya sedikit mual dan pusing, Kak. Apa yang terjadi tadi, Kak? Kenapa aku bisa ada di sini?" tanyaku langsung menghujaninya dengan beberapa pertanyaan.


"Tadi kamu pendarahan, cuma sedikit sih. Terus kamu pingsan, waktu di rumah yang kita datangi tadi," jawab kak Surya. Ia sedikit sangsi untuk memanggil nama Mas Dika. Mungkin dia hanya belum terbiasa saja.


"Pendarahan?" Dengan refleks kusentuh perutku. Takut terjadu sesuatu yang buruk saat aku pingsan tadi.


"Terus bagaimana bayiku? Dia ... dia baik-baik saja, kan?" tanyaku khawatir, sungguh aku tak ingin terjadi hal yang buruk pada kandunganku. Bayi ini adalah satu-satunya hal yang kupunya untuk memiliki Mas Dika.


"Bayimu tidak kenapa-napa kok, Ris. Dokter memintamu supaya tidak terlalu stress."


Aku menghela napas lega. Syukurlah, batinku. Aku sudah panik dan khawatir jikalau terjadi pada bayiku. Rasanya aku ingin mati saja jika harus kehilangan bayiku juga. Percuma hidup jika aku harus selalu hidup menyedihkan seperti sekarang.

__ADS_1


Saat ini, hanya bayi ini yang kupunya. Dia juga lah alasanku bertahan hingga kini. Jika sampai Mas Dika sialan itu tak mau bertanggung jawab dan menikahiku. Aku tetap bertekad untuk membesarkannya seorang diri. Persetan dengan lelaki buaya darat itu. Bunga cinta yang tumbuh subur di hati, kini perlahan berubah menjadi bibit kebencian. Aku tak dapat mengendalikan perasaanku sendiri.


Biarlah saja, hinaan dan cacian para tetangga pasti akan makin menjadi demi melihatku pada akhirnya melahirkan bayi ini tanpa sosok ayah. Aku sudah tidak peduli lagi. Paling hanya sementara, seminggu, sebulan, setahun kemudian mereka pasti akan lupa. Dan kabar itu akan menguap begitu saja seiring berlalunya waktu. Aku meyakinkan diri andai Mas Dika tak dapat kumiliki, maka akan kusiapkan mentalku juga telingaku dalam menerima hujatan dari mereka.


***


Pintu ruangan terbuka, Mas Dika datang bersama dengan istrinya. Aku membuang muka saat netraku beradu dengan Mas Dika. Sungguh, sekarang hanya ada rasa kebencian untuk Mas Dika. Rasa cinta yang dulu menggelora seakan musnah tak berbekas. Entah kemana perginya. Aku sudah cukup kecewa tadi karena dia justru berpura-pura tidak mengenalku bahkan tidak mengakui jika bayi yang ada di perutku bukanlah benihnya.


Mbak Aisyah mengayun langkahnya, berjalan mendekatiku, lalu duduk di samping ranjang. Ia menggenggam tanganku. Aku heran, terbuat dari apa hatinya ini. Kok dia sama sekali nggak marah sama aku. Atau sekedar memaki-makiku karena menjadi selingkuhan suaminya. Apa hatinya sudah mati rasa? Aku tak tahu sebab aku tak dapat membaca isi hati seseorang.


"Mas Dika ... tadi sudah mengakui kalau bayi yang kamu kandung adalah darah dagingnya," ucap Aisyah lembut. Aku menatap mas Dika sekilas. lalu ia membuang muka, tampak salah tingkah. Aku pun kembali menatap Mbak Aisyah. Menunggu hal apa lagi yang hendak dikatakan olehnya.


"Lalu?" Aku bertanya acuh. Kulemparkan pandang ke arah jendela.


"Sebelum kamu, sudah ada dua wanita lagi yang datang dan meminta pertanggungjawaban Mas Dika." Aisyah berkata lagi. Aku terbelalak kaget dengan fakta yang baru saja kuketahui ini. Mas Dika, ternyata aku telah salah menilaimu! Aku menatap tajam Mas Dika. Sorot mata penuh murka serta ingin menerkamnya. Namun sayangnya kondisiku sekarang ini tak memungkinkan.


"Aku sudah muak dengan tingkah laku Mas Dika. Aku sudah sampai pada batas sabarku sebagai istrinya. Jadi, aku akan menceraikan Mas Dika secepatnya," ucap Aisyah sangat tegas. Wanita itu berkata dengan penuh penekanan di setiap kalimatnya. Menandakan jika ia juga benar-benar geram dengan tingkah laku suaminya.


Kulirik mas Dika, wajahnya tampak menyedihkan. Mungkin menyesal karena akhirnya boroknya tercium oleh istrinya. Meski begitu, tak kupungkiri aku juga bahagia jika Mas Dika benar-benar berpisah dengan istri sahnya.


Akan tetapi, bagaimana dengan dua wanita yang Aisyah sebutkan tadi. Aku penasaran dengan nasib mereka. Br*ngsek juga kamu Mas Dika, suka tebar benih kemana-mana rupanya, ucapku dalam hati.


"Bagaimana dengan nasib dua wanita yang Mbak sebutkan tadi?" tanyaku penuh rasa ingin tahu.

__ADS_1


"Mereka pulang dengan tangan kosong. Karena Mas Dika bisa membuktikan kalau dua wanita itu ternyata berhubungan dengan pria lain selain dirinya. Jadi, aku pun pernah menaruh curiga padamu awalnya," sahut Aisyah dengan yakin. Ia begitu tenang, meski tahu suaminya telah berselingkuh dengan beberapa wanita di perantauan. Sungguh mulia hatimu, Mbak Aisyah. Tetapi, kamu terlalu baik untuk suamimu.


"Saat kudesak tadi, Mas Dika akhirnya mengakui kalau kamu hanya berhubungan dengannya selama ini. Jadi, aku memintanya bertanggung jawab padamu sebagai laki-laki sejati."


"Aisyah. Apa tidak bisa kamu mengubah keputusanmu?" Mas Dika menginterupsi pembicaraan kami.


Aisyah menatap suaminya dengan tatapan yang entah. Aku tak bisa mengartikannya. Aisyah juga pandai menyembunyikan perasaannya. Sulit bagiku untuk membaca pikirannya.


"Aku memaafkan semua pengkhianatanmu, Mas. Tapi lebih baik kita berpisah. Ada Risa yang lebih membutuhkanmu," ucap Aisyah begitu tegar. Tak ada air mata setetes pun yang jatuh dari mata indahnya.


"Bagaimana dengan kamu dan Aqilla, Dek?" tanya Mas Dika lirih. Bagai harimau yang kehilangan taringnya.


"Jangan khawatir, Mas. Aku akan tetap mengizinkanmu menemui Aqilla kapan pun mas mau." Aisyah tampak yakin tak tergoyahkan dengan keputusannya.


Mas Dika tertunduk lesu. Keputusan Aisyah sudah tidak bisa diganggu gugat. Aku justru bersorak dalam hati. Dia pasti akan menikahiku setelah resmi bercerai dari istrinya.


Oh, semoga saja semuanya seperti yang kuinginkan, sorakku dalam hati. Tanpa sadar seulas senyum lolos begitu saja dari bibirku. Biarlah, jalan hidupku mungkin harus seperti ini. Cukup aku ikuti saja alur kehidupanku ini.


Mungkin sudah nasib dan takdirku seperti ini.


Mau protes pun sama siapa? Siapa yang harus ku salahkan jika aku harus bernasib seperti ini. Menjalin hubungan terlarang, hingga membuahkan benih yang tumbuh di rahimku. Cacian dan ejekan selalu mengiringi setiap langkahku.


Hingga harus berkendara cukup lama untuk menemui lelaki yang telah membuatku kehilangan harga diriku sebagai wanita.

__ADS_1


Aku akan mencoba menerima semua itu.


Bersambung....


__ADS_2