
Benih Pria Lain Di Rahimku
PoV Risa
Ruangan putih serta bau obat-obatan kembali menjadi saksi tubuh lemahku yang terbaring. Saat sadar, aku sudah berada di sana lagi. Aku masih syok, terlebih setelah Dinda menelponku tadi.
Porak poranda sudah pondasi kebahagiaan yang ingin kucoba perbaiki lagi. Kenapa hal seperti ini harus terjadi padaku. Aku sudah melepaskan semuanya. Mengikhlaskan mas Nandi bahagia. Mas Nandi pun sudah berbesar hati memaafkanku. Aku sudah cukup bersyukur dengan semuanya itu. Salahkah, jika aku mengharapkan kebahagiaan dalam hidupku?
Aku bahkan tidak memiliki niat terselubung saat hadir di acara pernikahan mantan suamiku. Semata untuk ikut mendoakannya. Apakah itu salah? Cukup aku saja yang jadi istri tidak tahu diri selama berumah tangga dengannya. Aku berharap rumah tangganya kali ini bahagia. Sakinah, Mawaddah, dan Warrahmah, hanya satu pintaku. Hanya itu. Kenapa seolah badau tiada hentinya menerpaku. Aku sungguh frustasi. Tak tahu harus bagaimana saat masalah selalu datang bertubi-tubi.
Andaikan diriku ini lebih bersyukur dengan keadaan waktu itu. Mungkin aku tidak akan pernah aku tergoda untuk menjadi tenaga kerja di negeri formosa. Dan tidak akan ada perselingkuhan itu. Hancur, segalanya hancur akibat nila setitik itu. Ah, bukan nila setitik tapi sebuah kesalahan besar dan fatal. Aku menyadari semua kesalahan itu.
Kejadian ini telah membuatku merasa malu. Sudah merusak suasana pesta mas Nandi. Kenapa, ****** itu menghubungiku di saat yang tidak tepat. Menyebalkan! Aku harus minta maaf sama mas Nandi setelah ini. Ya, aku harus minta maaf padanya dan meyakinkannya serta Ayu jika aku tak memiliki maksud apa pun karena ulahku yang tiba-tiba pingsan itu.
***
Mas Dika masuk ke ruangan tempatku di rawat dengan terengah. Seperti habis berlari. Disusul wak Mar yang menggendong Zivanna di belakangnya. Mereka berdua pasti panik saat mendengar kabar jika aku berada di rumah sakit.
"Kamu, nggak apa-apa, sayang?" tanya mas Dika khawatir. Seraya meraba setiap inci wajahku.
"Nggak apa-apa, mas," sahutku lirih. Rasanya diri sudah tidak punya kekuatan lagi untuk menatap hidup. Aku sudah sangat hancur.
"Syukurlah." Mas Dika mengecup keningku, membawa kepalaku dalam pelukan dada bidangnya. Entah mengapa tiba-tiba ada rasa nyaman yang menjalar lembut di relung hatiku.
Aku terisak menahan sesak yang mendera di dada. Haruskah saat ini juga kutanyakan tentang ucapan Dinda tadi. Sepertinya, nanti saja. Ada uwak Mar di antara kami sekarang. Tidak mungkin bagiku menceritakan apa yang baru saja kudengar tadi. Uwak Mar pasti akan khawatir jika tahu rumah tanggaku bermasalah.
***
Dokter sudah memperbolehkanku untuk pulang. Aku hanya kelelahan dan juga telat makan. Maka dari itu tadi aku pingsan. Aku pulang ke rumah dengan mas Dika mengendarai mobil milik tetangga.
__ADS_1
"Kenapa kamu bisa pingsan dan sampai ke rumah sakit tadi? Dan kenapa Zivanna kamu titipkan ke uwak?" tanya mas Dika langsung mencecarku dengan pertanyaan. Ia pasti penasaran dengan apa yang kulakukan tadi sampai harus meninggalkan Zivanna.
"Aku... cuma pergi ke suatu tempat, mas," jawabku sengaja berkelit. Takut jika mas Dika akan salah paham jika tahu yang sebenarnya. Dia pasti ingin tahu apa alasanku sampai nekat ingin menghadiri acara pernikahan mantan suamiku.
"Ya sudah. Istirahat saja sekarang, sayang. Aku akan buatkan bubur untukmu," ucap mas Dika. Kemudian Ia mengusap lembut rambutku sebelum beranjak ke dapur. Zivanna tengah menyusu, sepertinya ia sangat mengantuk. Tak berapa lama lagi pasti bocah itu akan segera lelap dalam tidurnya.
Mas Dika benar-benar membuktikan dirinya telah berubah. Aku merasakannya. Perubahan itu, tulus dari dalam hatinya. Aku hanya perlu menanamkan rasa syukur dalam hati dengan keadaan ini. Tidak ingin kuulang cerita yang sama. Cukup satu kali saja aku pernah tersesat dan salah dalam bertindak dan melakukan sesuatu.
Perihal ucapan Dinda tempo hari, biarlah saja aku akan mengabaikannya kali ini. Mungkin hanya caranya untuk kembali menggoyahkan mahligai rumah tanggaku. Setelah sempat hancur oleh perselingkuhan mas Dika. Bukankah Dinda masih mempunyai dendam padaku. Biar, aku tidak akan menggubrisnya. Dan menganggap jika kemarin hanyalah mimpi buruk dan tidak nyata. Akan tetapi, bagaimana jika itu menjadi sebuah kenyataan.
***
Hari-hari yang kujalani berjalan seperti biasa. Keharmonisan rumah tanggaku tetap terjaga. Terlepas dari teror-teror Dinda yang selalu gencar menelepon maupun mengirimi SMS untuk meminta pertanggungjawaban mas Dika setiap hari.
Hingga pada suatu hari aku sudah tidak tahan dengan setiap terornya. Akupun mencoba membicarakannya dengan mas Dika. Tanpa berusaha menuduhnya.
"Mas, lihat ini," ucapku suatu malam. Menyodorkan gawaiku untuk mas Dika lihat isi pesan-pesan teror dan ancaman dari Dinda.
"Kenapa kamu baru bilang sekarang, jadi waktu kamu pingsan tempo hari karena hal ini."
Aku mengangguk pelan. Setidaknya mas Dika peka terhadap apa yang kurasakan.
"Apa yang harus kita lakukan, Mas?"
"Entahlah. Dia menuntutku untuk menikahinya."
Mas Dika meremas rambutnya frustasi. Aku memegang bahunya.
"Kita pikirkan baik-baik langkah yang harus diambil, mas. Setidaknya baik untuk semuanya."
__ADS_1
Mas Dika terheran melihatku yang tampaknya tidak menunjukkan emosi seperti saat memergoki perselingkuhannya.
"Kamu nggak marah, sayang?" Mas Dika memelukku erat.
Aku menggeleng pasti. Emosi hanya akan menambah rumit keadaan. Aku sudah banyak belajar dari pengalaman.
"Nggak. Kita pikirin solusinya sama-sama, mas."
Kamipun tenggelam dalam pikiran kami masing-masing. Aku hanya merutuki diri yang bersalah di masa lalu. Inikah balasan telah menyiakan mas Nandi. Kenapa bahagia seperti enggan ku raih.
***
Selama seminggu aku mengintropeksi diri. Lebih mendekatkan diri pada yang Maha Kuasa. Aku sadar telah lalai selama ini. Menjauh dari Sang Pemilik Hidup. Aku ingin memperbaiki diri. Semoga Tuhan masih menerima taubatku.
Dalam sujud malam dan hamparan sajadah, aku beristikharah. Memohon untuk diberi jalan keluar atas masalah yang tengah menerpa. Ikhlaskah aku jika nantinya harus dimadu? Relakah aku jika nantinya berbagi raga dan kasih sayang dengan wanita lain.
Penuh. Pikiranku amat penuh. Semoga segala keputusan yang kubuat tidak akan pernah membuatku menyesal. Semakin hari Dinda makin gencar menerorku. Akhirnya kuberanikan diri untuk menghubunginya.
"Akhirnya.." ucapnya sumringah di ujung telepon.
"Jadi gimana keputusan kamu, Arisa?" tanyanya penuh penekanan. Mungkin dia begitu berharap aku yang mundur.
"Kita harus bertemu. Aku akan membawa mas Dika juga. Kita bicarakan baik-baik semuanya."
"Baguslah! Aku juga sudah rindu dengan calon suamiku itu. Kapan kita bertemu?"
"Secepatnya."
'Tuhan, jika memang ini jalan takdirku maka akan kuterima dengan ikhlas.' ucapku dalam hati. Seraya menenggelamkan diri berselimut malam.
__ADS_1
***
Bersambung ....