
Aku pun memindai pandanganku ke seluruh ruangan. Rumah itu terlihat sangat sepi. Seperti tidak ada orang di sana. Hanya ada suara musik yang berdentum keras dan sangat berisik. Lantas aku melangkah mencari tempat yang mungkin menjadi tempat mereka tengah memadu kasih. Hati ini memang belum siap untuk menyaksikan hal yang menyakitkan yang akan tersaji di depan mataku.
Tanpa menimbulkan suara, aku segera berjalan mengendap-endap layaknya seorang maling. Dan benar saja. Dari sebuah kamar yang pintunya sedikit terbuka di sayap kiri rumah itu, terdengar suara ******* yang saling bersahut-sahutan. Suara ******* lelaki itu terdengar tidak asing bagiku. Kusiapkan kamera yang ada di ponselku dalam mode video dan bersiap untuk merekam aksi panas mereka.
'Tuhan, aku kuat!' tekadku dalam hati sebelum akhirnya kulangkahkan kaki ini dengan berat untuk masuk ke kamar itu.
Sebentar lagi, kak Surya pasti akan segera sampai di rumah ini, bersama Pak RT setempat dan beberapa warga sekitar. Sebelumnya, aku memang sempat menghubungi kak Surya lebih dulu yang sedang libur hari ini untuk membantuku. Aku sudah mengatakan rencanaku untuk membongkar perselingkuhan mas Dika hari ini. Dia pun hanya mendukung rencanaku dan tidak berbicara banyak atau bahkan menolak rencanaku. Mungkin dia iba padaku sehingga hanya mengiyakan saja pintaku tanpa tapi.
Kubuka lebar-lebar pintu itu. Kedua manusia itu masih belum menyadari kehadiranku. Aku jadi leluasa untuk merekam adegan mesum mereka. Mereka begitu terhanyut dalam pergumulan itu. Desah-desah menjijikkan itu membuat telingaku semakin panas. Mataku terasa panas dan berkabut. Namun, sekuat hati kutahan agar tidak pernah menumpahkan air mata ini terutama di hadapan kedua sejoli laknat itu.
Kulirik sebuah vas bunga yang berdiri kokoh di atas meja rias d sebelah kananku. Tiba-tiba terpikir sebuah ide untuk membuat mereka terkejut lalu menyadari kehadiranku. Ku ambil vas bunga itu lalu ku banting dengan sangat keras hingga menimbulkan bunyi yang sangat nyaring.
Praaangggg...
Kedua pengkhianat itu pun menoleh ke sumber suara. Lantas mereka membulatkan matanya dan terkejut bukan main saat melihatku berada di rumah ini. Seketika keduanya saling melepaskan diri. Wajah mereka tampak pucat, mungkin karena serangan panik. Mereka mencari apa pun yang ada disana untuk menutupi tubuh polos mereka.
"Jahanam kamu, Mas!" teriakku sambil menunjuk pada wajah pasi mas Dika. Aku segera menyudahi rekaman video di ponselku. Cukup! Aku sudah cukup merekam kebejatan mereka berdua.
Video panas itu sudah cukup jadi bukti kecurangan mereka. Aku akan mempermalukan mereka. Beraninya, mereka telah membangunkan singa betina yang sedang tertidur.
"Dan kamu, perempuan ******! Tak tahu malu!" Aku lepas kendali, kuhampiri perempuan itu lalu menjambak rambutnya yang kusut masai akibat pergumulan itu.
__ADS_1
Aku membabi buta menyerangnya. Mencakar bahkan mendorong tubuhnya. Lihatlah! Aku tidak lemah. Aku bisa berubah jadi wanita yang bar-bar! Tidak sudi memberi ampun. Luka pengkhianatan ini begitu dalam.
"Dasar lo*te! Pelakor! Janda gatel! Apa nggak ada lelaki lain selain suamiku, hah! Si*lan kau!" umpatku.
"Kalo gue pelakor, loe apa, hah! Dulu juga loe pelakor kan. Udah tahu si Dika udah punya istri, masih aja mau lanjutin hubungan haram kalian itu, cuih." Dinda berkata lantang, bahkan meludahiku.
"Kurang ajar! Aku ini sudah jadi istrinya sekarang. Sedangkan kau! Kau cuma lo*te yang dipakai cuma buat main kuda-kudaan!" geramku.
Dinda memelototkan matanya demi mendengar perkataanku. Matanya membulat seperti hampir keluar dari rongganya. Dia menamparku cukup keras.
"Si*lan kamu, Risa! Lihat saja Dika pasti lebih memilihku!" umpat Dinda dengan emosi yang membuncah.
Akupun membalas tamparannya pada pipi mulusnya itu hingga meninggalkan bekas merah di sana. Adu mulut serta baku hantam pun tak terelakkan lagi.
"Diam kamu, mas! Aku kira kamu sudah berubah, ternyata sama saja! Apa kehadiran aku dan Zivanna tidak cukup bagimu, hah! Kamu anggap aku ini apa, hah! Br*ngsek!"
Nyali mas Dika menciut demi mendengar teriakanku yang menggelegar itu. Bibirnya mengatup tidak mengeluarkan suara lagi. Sementara tangannya melingkar di perutku. Berusaha melerai. Namun justru keadaan semakin panas. Jal*ng itupun tak mau kalah dariku. Terjadilah pertikaian di antara kami.
Mas Dika semakin erat memegangi tubuhku berusaha menghentikanku tapi tetap saja terlanjur sakit hati ini. Apapun akan kulakukan untuk mengobati rasa sakit ini. Melihatnya babak belur dan di permalukan seluruh warga kampung sepertinya cukup bagiku.
"Risa, hentikan. Hentikan kekacauan ini." suara kak Surya tiba-tiba terdengar. Disusul suara riuh di ambang pintu kamar.
__ADS_1
"Mohon hentikan bapak dan ibu-ibu sekalian." Pria paruh baya yang bersama kak Surya membuka suara. Dari wajahnya tampak bijak dan berwibawa ku yakin dia adalah ketua RT di tempat ini.
Kulepaskan cengkeraman ku pada selimut yang menutupi bagian dada jal*ng itu. Kuhempas dengan kasar hingga perempuan itu terhuyung hampir terjatuh. Mas Dika dengan sigap menangkapnya. Cih! Masih saja melindungi perempuan murahan itu.
"Mari kita musyawarahkan dulu duduk masalahnya. Biar ada solusi untuk masalah kalian." pak RT berucap penuh wibawa.
Kami semua menuju ruang tamu rumah Dinda. Para warga yang datang bahkan menghujat kelakuan Dinda yang sudah berzina itu. Aku tersenyum menyeringai penuh kemenangan.
Dinda dan mas Dika tak ku izinkan memakai baju yang pantas. Hanya selimut yang menutupi tubuh polos Dinda. Sedang mas Dika bertelanjang dada dengan hanya menggunakan boxer pendek.
Bisik-bisik para warga yang hadir disana semakin menambah gaduh suasana. Akhirnya aku bisa mempermalukan mereka berdua. Tak peduli dengan perasaanku yang juga hancur saat ini. Bagiku ini adalah permulaan untuk mereka. Akan kubuat mereka malu sampai ingin mati.
Dinda, sebentar lagi karirmu sebagai guru mandarin di sebuah BLK akan kuhancurkan. Camkan itu! Geramku dalam hati. Tunggu tanggal mainnya!
Setelah suasana dirasa cukup kondusif, pak RT memulai membuka musyawarah itu. Aku duduk berdampingan dengan kak Surya. Sedang mas Dika dan perempuan itu duduk bersebelahan di depanku.
Mas Dika terlihat gusar. Sorot matanya menunjukkan ketakutan. Sedangkan j*lang itu terlihat lebih santai. Seolah-olah dialah yang jadi pemenangnya. Cih! Memuakkan. Ingin ku cabik wajah pongahnya itu!
"Jadi, masalahnya bapak dan ibu-ibu ini apa?" Pak RT membuka suara. "Ibu ini, kayaknya bukan warga kampung sini ya." tambahnya lagi seraya menunjuk ke arahku.
"Iya, pak. Saya Risa, saya memang bukan warga sini. Saya dari kampung sebelah. Dan lelaki itu adalah SUAMI saya." jelasku. Sengaja saat mengucapkan suami sedikit kutekan intonasiku. biar perempuan itu sedikit tahu diri.
__ADS_1
"Benar itu, pak?" Kali ini pak RT bertanya pada mas Dika.
Bersambung ....