
(Pov Author)
Usai makan malam, Risa akhirnya mengutarakan keinginannya untuk ikut serta tinggal bersama suaminya. Dika tampak keberatan dengan usulan itu. Mana mungkin membiarkannya ikut tinggal di rumahnya. Bisa-bisa ia tidak leluasa lagi menemui Dinda.
"Mas, nanti aku ikut pulang ya sama kamu. Aku gak mau kita jauhan terus kaya gini." rayu Risa dengan suara yang dibuat mendayu-dayu. Dika tersentak dengan ucapan Risa.
'Gawat nih kalo Risa sampai maksa mau ikut. Aku harus cari cara agar dia membatalkan rencananya itu.' ucap Dika dalam hati.
"Tapi, memang kamu nggak apa-apa kalo tinggal disana, sayang?" Dika menggantung ucapannya.
"Memang kenapa, Mas. Aku cuma mau deket sama kamu. Apa itu salah?" Risa bertanya, lagi.
"Bukan begitu. Tapi, sebenarnya Ibuku belum terlalu setuju dengan pernikahan kita, Ris." Dika membuat alasan.
Risa merasa terpukul dengan kenyataan. Dia tahu caranya mendapatkan Dika adalah hasil dari merebutnya dari Aisyah, istri sahnya. Dika pernah bilang, Aisyah adalah menantu kesayangan ibunya itu. Sejenak, Risa merasa ragu untuk tetap melancarkan aksinya atau tidak. Ia tampak sedang berpikir.
"Hmm.. aku akan coba mengambil hati ibumu, Mas." ucap Risa merasa yakin dapat meluluhkan hati orang yang sudah melahirkan suaminya itu.
'Hah! Alasan apa lagi aku. Kenapa Risa tetap keukeuh ingin tinggal bersamaku.' geram Dika dalam hati.
Dengan segala bujuk rayu Dika, Risa pun luluh. Risa memutuskan untuk tidak ikut tinggal bersama suaminya. Akan tetapi, lain di mulut lain di hati. Mulut mengatakan iya, hati mengatakan tidak.
Risa punya rencana untuk pergi tanpa sepengetahuan suaminya. Biar saja, itu akan jadi kejutan untuk Dika nantinya. Bukan Risa namanya jika cepat menyerah. Masih banyak seribu satu cara yang bisa dia pakai.
Malam itu, mereka menghabiskan malam dengan meneguk indahnya penyatuan raga mereka. Risa mau tak mau melayani suaminya. Walau bagaimanapun ia masih istri Dika. Meski, dalam pergumulan itu bayangan Dinda selalu menghantui.
Risa yakin, Dika pun sudah melakukan hubungan yang jauh dengan Dinda. Terbukti dari foto-foto seksi yang sering di kirim ke pesan WA suaminya.
***
Dua hari setelah Dika menginap, hari itu Dika sudah bersiap untuk kembali ke kotanya. Sebenarnya, Dika lelah jika harus seperti ini tapi apalah dayanya.
Memang benar, ibunya masih belum sepenuhnya menerima Risa sebagai menantu keduanya. Tapi, Dika pun punya alasan lain untuk melarang keras Risa untuk tinggal bersamanya. Tentu saja, karena ia tidak mau hubungannya dengan Dinda terendus oleh Risa.
Bagaimanapun, Risa adalah istrinya. Ibu dari putrinya, Zivanna. Walau sudah tak ada cinta di hatinya setidaknya kehadiran Zivanna lah yang merekatkan ikatan mereka. Mengikat Dika, atas nama tanggung jawab pada buah cinta mereka. Begitu yang dipikirkan Dika. Dia akan tetap bersikap tulus di depan Risa. Meski sudah tidak ada lagi cinta membara yang dulu ia rasakan saat pertama mengenal Risa.
Dinda juga seorang sahabat dekat Risa. Dialah yang memperkenalkan Risa padanya. Risa pun sudah menganggap Dinda sebagai sahabatnya. Bagaimana kalau Risa akhirnya tahu kalau dirinya telah bermain curang di belakangnya.
Dika tak mau itu semua terjadi. Ia ingin selamanya Risa tak tahu kenyataan pahit itu. Kenyataan jika, sahabat dan suaminya mengkhianatinya dalam waktu yang bersamaan.
***
Risa sudah bersiap dengan tasnya. Ia akan pergi ke kota A untuk tinggal bersama Dika, sebenarnya ia khawatir saat harus menghadapi kenyataan nanti jika ia harus hidup dengan mertuanya juga iparnya.
Tentu, mereka belum sepenuhnya menerima Risa. Risa hanya berharap mertua maupun iparnya dapat bersikap baik setidaknya pada Zivanna. Cukup dirinya saja yang harus menelan pil pahit itu.
Tak semudah itu bagi dirinya menggantikan posisi Aisyah sebelumnya di hati mertuanya itu.
__ADS_1
Risa sudah siap dengan resiko apapun yang harus ia tanggung. Apapun yang akan terjadi, Risa sudah mantap menyiapkan hatinya.
(PoV Arisa)
Dengan modal nekat, aku membawa serta Zivanna menaiki angkutan umum untuk ke kota A. Kupikir nanti sesampai disana bisa minta tolong kak Surya untuk mengantarkanku ke rumah mas Dika.
Kebetulan kak Surya juga sedang ada pekerjaan di kota ini.
Setelah sampai di terminal, aku langsung menghubungi kak Surya. Hari itu adalah hari liburnya. Maka dia pun segera meluncur untuk menjemputku. Lalu mengantarku ke rumah mas Dika. Tepatnya rumah mertuaku.
***
Tok.. Tokk..
Kuketuk pintu pelan, sesaat setelah sampai di rumah bergaya sederhana ini. Tak lupa juga kuucapkan salam. Kak Surya langsung pulang ke kost-annya begitu sampai di tempat.
"Assalamu'alaikum, Bu.." ucapku. Tak lama seseorang dari dalam menjawab salamku dan membuka pintu.
"Wa'alaikumussalam. Kamu.. " ibu mertuaku tampak kaget dengan kehadiranku. Dia menatapku dengan tatapan yang tak bersahabat.
"Iya bu. Aku sudah bilang sama mas Dika kalau akan ikut tinggal disini." ujarku dengan nada gembira. Ibu mertua hanya membeku di tempatnya. Tampaknya memang benar kalau dia belum sepenuhnya menerimaku sebagai menantunya. Huh! Menyebalkan sekali nenek tua itu!
"Siapa, Bu?" tanya seorang gadis berusia 18 tahun yang kuyakin adalah adik mas Dika, iparku yang tiba-tiba datang dari arah belakang.
Sama seperti ibunya, dia juga tampak kaget dan heran dengan kehadiranku. Sampai-sampai mereka lupa untuk mempersilahkanku masuk.
"Aku nggak disuruh masuk nih, Bu. Aku capek banget tadi naik bus kesini." ucapku akhirnya. Lama-lama aku tak tahan juga dengan rasa lelah yang mendera.
"Hm, masuklah." ucap ibu mertuaku datar. Huh! Tidak seperti mak Rini yang selalu menyambutku dengan senyum semringah. Menyayangiku layaknya anak perempuannya sendiri. Aku merupakan menantu kesayangan juga, tapi dulu. Ah, andai saja dapat aku putar waktu. Aku ingin jadi menantu mak Rini lagi.
"Mas Dika masih di kebun ya, bu?" tanyaku setelah menjatuhkan bobot di atas sofa.
"Iya, nanti sore baru pulang." jawab Ibu mertua, dari suaranya tampak sedikit bersahabat. Meski begitu, sang adik ipar yang kutahu bernama Risti itu masih menatapku sinis. Dasar! Kenapa seolah mereka kompak belum move on dari mbak Aisyah itu. Tapi semoga saja, mas Dika sudah move on dari mantan istrinya itu.
"Risti, buatkan minuman ya buat kakakmu ini." Ibu menitahkan Risti untuk menyiapkan minuman.
"Iya bu. Tapi, jangan sebut dia kakakku. Dia bukan kakak aku. Kakak aku cuma mas Dika dan mbak Aisyah. Titik!"
Wah! Kalau tidak ingat dia adalah adik iparku, sudah aku kruwes mulutnya yang sepedas Boncabe level 30 itu. Aku hanya membatin. Si*l!
"Huss. Jangan ngomong gitu." ibu berbisik sambil menyenggol pelan siku Risti. Meski suaranya pelan, tapi aku mendengarnya.
"Apaan sih, Bu. Dia bikin aja sendiri. Kayak tamu agung aja. Manja banget!" ketusnya lalu melenggang pergi masuk ke kamarnya.
"Maafkan Risti ya, Arisa. Ibu minta maaf." ibu tampak tak enak dengan sambutan Risti padaku. Sehingga ia meminta maaf atas nama putri bungsunya itu.
"Oh ya. Siapa namanya cucu ibu ini, Risa?"
__ADS_1
"Namanya Zivanna Aulia, Bu. Panggilnya Zivanna."
"Wah, cantik ya namanya." ibu mengulurkan tangannya seraya mencubit gemas pipi gembil Zivanna. Aku tersenyum tipis. Semoga ini awal yang baik untuk hubunganku dengan ibu mertua.
"Kamu sudah makan belum, Risa?" Ibu menanyaiku sesaat setelah menidurkan Zivanna di kamar yang ditempati mas Dika.
"Aku. Belum, Bu. Tadi sempat makan lontong dan tahu di bus, Bu." ucapku. Aku masih merasa canggung. Terlebih aku harus menjaga image-ku di hadapan mertuaku ini. Aku harus bersikap manis demi upayaku bisa mengambil hatinya.
"Ayo, kamu makan dulu. Ibu ambilkan nasi dan lauknya, ya." Aku hanya mengangguk. Sepertinya tidak akan susah upayaku dalam mengambil hati mertuaku itu. Seperti sudah ada sinyal hijau yang menyala. Tapi, gimana dengan si adik ipar biang kerok itu. Huh, aku pikirkan nanti.
Sore pun tiba, aku dan Zivanna tengah duduk di kursi bambu yang berada di teras rumah. Aku ingin menanti kedatangan suamiku tercinta. Zivanna baru saja mandi. Aroma minyak telon dan bedak memenuhi indra penciumanku. Harum semerbak menyegarkan suasana sore.
Sebuah motor berhenti di halaman tepat di depanku. Aku yakin itu adalah mas Dika. Aku sangat mengenali postur tubuhnya. Mas Dika turun dari motor. Dan sontak langsung kaget melihatku kini berada tak jauh di depannya. Ia melangkah menghampiriku.
"Risa. Ke.. kenapa kamu ada disini?" tanyanya tergagap.
"Emang kenapa, Mas. Nggak salah kan kalau aku ikut dimanapun suamiku tinggal."
"Ng..,nggak salah. Tapi.. gimana kamu bisa kesini tadi. Sama siapa?"
"Ada deh. Zivanna kangen nih sama kamu, Mas."
Aku mengangsurkan Zivanna ke pelukan mas Dika. Tapi mas Dika menolaknya.
"Mas kan habis dari kebun, sayang. Belum mandi juga. Ayok kita masuk dulu, nanti Ayah gendong kamu setelah mandi ya." ucapnya mengajak Zivanna mengobrol.
"Oh, iya ya." aku terkekeh kecil.
Kami pun masuk ke kamar. Mas Dika langsung ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Aku terbaring di ranjang bersama Zivanna yang tengah tengkurap itu. Aku mengajaknya bicara banyak hal.
Tiba-tiba bunyi suara ponsel mengagetkanku. Tapi itu suara bukan ponselku. Kucari benda pipih itu. Ternyata ada di saku celana mas Dika. Tertulis di sana nama si pemanggil. Dinda. Si ulat bulu itu.
Aku tekan lencana hijau itu, lalu menempelkan benda itu. Suara serak-serak manja langsung memenuhi pendengaranku.
"Sayaangg.. nanti malam jadi kan kesini." ucap Dinda. Suaranya hampir bikin aku muntah. Lalu aku tutup aja teleponnya. Jijik juga lama-lama dengar suara dia.
Jadi, kalian akan ketemuan nanti malam. Lihat saja. Akan aku gagalkan rencana kalian. Aku mengetik sebuah pesan di HP mas Dika.
[ Maaf sayang. Aku nggak bisa ke rumahmu nanti malam. Maaf ya. ] Send.
Tak lama muncul balasan dari jal*ng itu.
[ Hmm, sayang banget. Padahal aku sudah siap loh. ]
Lagi, si j*lang itu mengirim foto seksinya yang memakai lingerie hitam kali ini. Benar-benar ulat bulu. Langsung kuhapus semua pesan keluar dan masuk sebelum mas Dika selesai mandi. Saat baru saja mengembalikan ponsel itu ke tempat semula. Pintu kamar terbuka, ternyata mas Dika sudah selesai mandi.
'Aku nggak akan biarin kalian ketemuan. Awas kalian!' makiku dalam hati.
__ADS_1