Benih Pria Lain Di Rahimku

Benih Pria Lain Di Rahimku
Badai Di Awal Bahagia


__ADS_3

Benih Pria Lain di Rahimku


PoV Risa


Akhirnya aku pulang dari rumah mas Nandi dengan membawa sekeping hati yang terluka. Meski begitu aku tetap mengendara dengan selamat. Ada Zivanna yang membutuhkan kewarasanku untuk bertahan dan mengutamakan keselamatan.


Lunglai lesu tubuhku saat tiba di rumah. Seolah tidak punya semangat untuk hidup lagi. Kenapa aku harus menjalani hidup seperti ini. Kenapa kebahagiaan sejati seolah enggan hinggap dalam hidupku. Terlalu hinakah diri ini hingga tak pantas bahagia? Terlalu banyakkah dosa-dosaku hingga aku tak layak merasakan kebahagiaan. Sedikit saja.


Kini aku harus menyesal. Seharusnya aku tak pernah memulai perselingkuhan itu. Kini hanya menjadi petaka bagiku yang tiada akhir menghantui setiap langkahku. Lelah, hubunganku dan mas Dika pun entah akan bertahan hingga kapan. Mungkin ada masanya juga dia akan melepasku dan Zivanna. Akankah dia mempunyai keberanian untuk mempertahankanku. Entahlah. Diri sudah terlanjur pasrah dalam keadaan ini. Mungkin aku hanya akan berakhir menjadi janda jika Mas Dika memutuskan untuk berpisah denganku.


Aku tahu, aku tak punya hak lagi untuk mencampuri kehidupan mas Nandi. Maka aku pun mencoba menerima dengan ikhlas kenyataan jika nanti mas Nandi akan segera menikah lagi dengan pilihannya. Meski ada bagian dari hati ini yang tak rela. Tapi ya sudahlah. Semua memang karena kebodohanku. Kini kusadari, dan baru kumengerti jika diri ini nyatanya masih mendamba sosok mas Nandi. Andai tidak pernah ada perselingkuhanku. Andai saja. Mungkin saat ini aku sudah dapat hidup berbahagia dengan Mas Nandi dengan Zivanna juga. Harusnya aku menerima tawarannya dulu. Ah, sungguh penyesalan itu selalu ada di akhir cerita.


***


Ponselku tiba-tiba menjerit nyaring. Ternyata Mas Dika meneleponku saat baru saja meletakkan Zivanna yang tertidur ke ranjang. Aku menerima teleponnya dengan sedikit enggan.


"Iya, ada apa, mas?" tanyaku masih dengan suara lemah, layaknya orang yang kehilangan semangat hidup.


"Aku punya kabar gembira, sayang!" serunya bersemangat.


"Kabar apa?" Aku menyahut lagi, masih dengan nada suara yang lemas.


"Kok kamu suaranya kaya gitu, sayang. Kamu lagi sakit ya?" tanya mas Dika mulai khawatir.


"Nggak, kok. Aku nggak apa-apa," ucapku sedikit menaikkan intonasi.


"Benar kamu nggak kenapa-napa?" Mas Dika masih terdengar panik.


"Iya. Kabar gembira apa sih?" tanya ku penasaran dengan kabar yang hendak disampaikan oleh suamiku.


"Aku berhasil bujuk keluargaku, Ris!" serunya sumringah dari nada bicaranya.

__ADS_1


"Terus?" Aku tak mengerti apa maksud ucapannya itu.


"Lusa aku akan mulai tinggal di sana. Di rumahmu." Mas Dika berucap lagi dengan tawa renyahnya.


"Kerjaanmu disitu gimana, mas?" tanyaku masih heran.


"Aku sudah dapat pekerjaan di sana, nggak jauh dari tempat tinggal kamu, kok. Kebetulan aku ada teman di sana. Jadi, kita akan tinggal bersama mulai sekarang," ucapnya bersemangat. Tapi, entah dengan perasaanku kini. Haruskah aku bahagia mendengar kabar baik ini?


"Hmm, baguslah, Mas," ucapku dingin. Entahlah, rasanya diriku sedang tidak berselera untuk bicara.


Sejak kutahu mas Nandi tengah dekat dengan perempuan lain. Terus terang diri ini penasaran siapa sosok perempuan yang berhasil mencuri hati mantan suamiku itu.


"Tapi, Ris. Beri waktu untuk keluargaku menerimamu kembali. Aku akan buktikan pada mereka jika aku bisa memulai lagi semuanya dan lebih baik lagi bersamamu, Ris."


"Iya, mas. Syukurlah kalau begitu. Aku mau istirahat mas."


"Ya sudah. Sampai jumpa besok lusa, sayang."


Aku bersumpah akan mengikhlaskan segalanya. Kubiarkan mas Nandi bahagia dengan pilihannya. Dan akupun akan bahagia bersama mas Dika dan Zivanna.


***


Sebulan sudah berlalu, hari-hariku kini lebih bahagia dan sedikit berwarna. Dengan kehadiran mas Dika, nyatanya sanggup menghapus bayang mas Nandi dari dalam ingatan. Perhatian dan kasih sayang semua tercurahkan di keluarga kecilku. Aku bersyukur. Nikmat mana lagi yang harus aku dustakan.


Kudengar mas Nandi akan melangsungkan acara pernikahannya di rumah mempelai wanitanya. Kabar itu kudengar dari selentingan kabar yang beredar di sekitar rumahku. Memang salah satu tetanggaku masih kerabat dekat mas Nandi. Tentu baginya, momen ini dijadikan bahan ghibah massal.


Dia sengaja memanasi ku. Mengatakan kalau calon istri mas Nandi sekarang adalah seorang dokter juga wanita sholehah. Tak ayal namaku pun di seret menjadi bahan perbandingan. Cukup aku tebal muka dan telinga saja dalam menghadapi ocehan mereka.


Hidup di kampung kecil memang seperti itu. Diam saja pun jadi bahan gunjingan. Apalagi jika kita bertingkah. Habislah menjadi buah bibir serta bulan-bulanan para tetangga.


***

__ADS_1


Hari itu, kuberanikan diri untuk datang ke pesta pernikahan mas Nandi. Aku hanya ingin melepasnya dengan ikhlas. Tidak ada yang harus kusesali lagi. Aku akan menjalani hidup bahagiaku dengan mas Dika. Dan mas Nandi dengan dokter cantik itu. Ikhlas, aku akan mengikhlaskannya. Biarlah jika aku di anggap tamu tak di undang.


Acara akad nikah berlangsung dengan khidmat. Aku turut terharu menyaksikannya meski dari kejauhan. Tak sadar aku meneteskan air mata. Aku datang sendirian, Zivanna kutitipkan pada uwak Mar. Mas Dika sedang bekerja dan aku juga tidak mungkin memberitahunya kalau aku nekad datang ke pesta pernikahan mantan suami.


'Ikhlas! Aku sudah ikhlas!' ucapku dalam hati.


Drrtt...


Sebuah pesan masuk ke gawaiku. Aku membukanya. Dari nomor baru dengan isi pesan yang membuatku tercengang. Sebuah test pack dengan dua garis merah yang jelas. Pertanda si empunya pesan tengah berbadan dua. Tapi siapa? Dan apa maksudnya?


"Aah, mungkin orang salah kirim." gumamku lirih.


Akupun mengabaikan pesan itu. Hingga tak lama sebuah panggilan dari nomor tadi menggangguku.


Satu kali, dua kali, hingga panggilan ketiga aku pun mengangkatnya.


"Halo?" sapaku.


"Hai! Masih ingat aku, sahabatku?" Suara yang tak asing bagiku.


Dinda!


"Mau apa lagi kamu, hah?" sentakku keras.


"Mau apa katamu? Bukannya kamu sudah baca pesanku? Atau kamu pura-pura bodoh. Cih!" Desis Dinda menyahut dari seberang sana.


"Katakan apa maumu! Aku tidak punya waktu untuk jal*ng sepertimu."


"Hei! Santai lah! Nggak usah ngegas kali. Aku cuma mau kasih tahu kalau aku lagi hamil. Dan ini anak Dika. Pilihanmu cuma dua, menerimaku jadi madumu atau cerai dari Dika. Itu aja sih!" ucap Dinda lantang.


Aku terperanjat mendengar pernyataan Dinda. Cobaan apa lagi kali ini yang menerpaku. Tuhan, ini begitu berat bagiku. Pandanganku berputar lalu tiba-tiba gelap. Aku tak sadarkan diri.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2