
Benih Pria Lain Di Rahimku
PoV Aisyah
Aku dan mas Dika menikah karena dijodohkan. Kedua orang tua kami berteman dekat sejak dulu. Hingga ide perjodohan itu pun muncul. Aku tidak bisa menolaknya. Apalagi mas Dika juga kelihatan baik juga sopan. Wajahnya yang rupawan adalah bonus. Kuharap dia bisa bertanggung jawab sebagai kepala keluarga.
Di tahun pertama pernikahan, seorang putri cantik hadir di antara kami. Kami beri nama Aqilla Asyahra. Kehadiran putri kecil kami, otomatis menambah berat beban yang harus mas Dika tanggung untuk menghidupi keluarga kecil kami. Sedangkan dirinya hanya bekerja sebagai buruh pabrik biasa. Dan aku hanyalah ibu rumah tangga yang full mengurus rumah dan seisinya.
Kebutuhan hidup yang semakin tinggi membuatnya menyampaikan keinginannya untuk pergi merantau. Tak tanggung-tanggung, negara Taiwan yang menjadi tujuannya.
"Kalau merantau masih di sekitar sini, paling cuma cukup buat makan aja, Dek. Makanya aku mau merantau ke Taiwan, gajinya lumayan. Kita juga bisa renovasi rumah ini." rayu mas Dika suatu hari. Saat Aqilla baru berumur 1 tahun.
Beruntung, orang tuaku memberiku rumah sederhana ini sebagai tempat tinggal. Bangunannya sudah lama, hanya butuh di renovasi. Tapi aku tetap mensyukuri pemberian kedua orang tuaku itu.
Dengan modal tekad yang kuat, serta uang 40 juta untuk proses ke PT mas Dika pun berangkat ke Taiwan sebagai pekerja pabrik disana. Uang itu di pinjamkan oleh kedua orang tuaku juga orang tua mas Dika.
Mayoritas di tempat kami tinggal memang banyak yang merantau ke luar negeri. Laki-laki maupun perempuan. Entah itu di negara Timur Tengah maupun negara Asia. Semua memilih merantau jauh di negeri orang, demi mengubah taraf hidup yang lebih baik.
Hampir 4 bulan lamanya mas Dika bolak balik dari penampungan ke rumah. Memang setiap sabtu dan minggu para calon TKI di bolehkan untuk izin pulang(IP). Mempelajari bahasa serta melakukan beberapa interview dengan boss pemilik pabrik mas Dika lakukan. Beberapa kali gagal hingga akhirnya ada yang merekrutnya. Sungguh perjuangan yang berat.
__ADS_1
Mas Dika selalu menceritakan setiap proses yang dilaluinya padaku. Saat ia izin pulang maka tak habis cerita yang mengalir dari bibirnya. Mas Dika adalah lelaki yang supel dan ramah. Tak heran jika dirinya tidak canggung dalam mengekspresikan perasaannya.
***
Segala proses yang melelahkan akhirnya usai. Mas Dika akhirnya bisa di berangkatkan ke Taiwan. Mas Dika suami yang baik, dia tidak pernah lalai terhadap tanggung jawabnya kepadaku. Ia pun mempercayakan semua gajinya untuk ku olah agar bisa merenovasi rumah. Aku Pun menjadi sangat jeli dalam pengeluaran yang tidak terlalu penting. Semata demi rumah impian yang kami harapkan selama ini.
Sebanyak 60% gajinya selalu tak absen ia kirimkan setiap bulannya padaku. Akupun memanfaatkan uang itu untuk membuka usaha warung makan dan lauk pauk di depan jalan besar. Aku menyewa sebuah ruko disana. Aku juga menyambi berjualan baju secara online di samping usaha kulinerku.
Dua tahun, jatuh dan bangunnya usahaku kini aku memetik hasilnya. Rumah sudah berhasil di renovasi menjadi rumah minimalis dengan desain kekinian. Usahanya maju pesat. Aku pun membuka cabang baru di kabupaten sebelah. Aku bersyukur mas Dika tak pernah mengurangi jatah bulananku.
Kini, setelah usahaku maju pesat aku mengusulkan padanya jika gajinya disimpan saja sebagai tabungannya. Suatu saat jika sudah selesai kontrak kerja, biar menjadi modal usaha mas Dika. Ia pun menyambut usulanku dengan pikiran terbuka. Ia memujiku sebagai istri yang baik. Dan dapat dipercaya dalam mengatur keuangan.
***
Aku tak pernah menaruh curiga maupun mendengarkan gosip-gosip tak sedap yang hinggap di telinga. Aku abaikan bak angin lalu. Hingga tiba saat hari kepulangannya. Awalnya, semua baik-baik saja. Tapi tidak saat sudah seminggu kepulangannya.
Dua orang perempuan berturut-turut datang ke rumah dan mengaku dihamili oleh suamiku. Kaget. Aku sangat terkejut dengan kenyataan itu. Walau dua orang itu sudah datang minta tanggung jawab, tapi mas Dika mengelak bahwa bayi yang mereka kandung bukanlah benihnya.
Dia pun bisa membuktikan ucapannya. Tapi tetap saja perasaan ini hancur lebur mengetahui kebusukannya. Akhirnya, kedua orang itu pun pulang tanpa membawa hasil.
__ADS_1
"Aku minta maaf, dek. Aku cuma khilaf waktu itu." ucap mas Dika memberi pembelaan.
"Beri aku kesempatan satu kali lagi, Dek. Aku menyesali perbuatanku."
"Aku beri satu kesempatan lagi sama kamu, mas. Tapi, kalau ternyata ada lagi selain mereka. Aku takkan pernah memaafkanmu." ucapku tegas.
Hari-hari berjalan normal setelahnya. Kami bersikap seolah tak pernah terjadi apa-apa. Setidaknya di depan Aqilla. Kami seperti pasangan harmonis demi menjaga psikis Aqilla. Meski jujur, hati ini remuk redam dengan kenyataan mas Dika pernah berbagi peluh dengan perempuan lain. Aku jadi merasa jijik. Entah sudah berapa perempuan yang dia tiduri.
Untuk berhubungan suami istri pun, aku terkadang menolaknya. Mengingat dia juga melakukannya dengan yang lain. Jika sangat terpaksa melakukannya, maka aku memintanya menggunakan 'Sutra'. Bagaimanapun aku masih istrinya, dia masih berhak atas diriku. Akupun takut dilaknat malaikat jika menolak melakukan kewajibanku.
***
Hari tenang itu hanya berlangsung selama seminggu, tidak lebih. Badai besar datang begitu saja. Seorang perempuan kembali datang ke rumah, dalam keadaan hamil besar. Ku taksir berusia 7 bulan. Dan benar saja, kali ini mas Dika tak mampu berkutik dengan kehadiran Risa, nama perempuan itu.
Hancur sudah segala kepercayaanku selama ini. Diri menolak untuk memberi kesempatan lagi. Usai. Segalanya harus ku akhiri sekarang.
Akupun memutuskan bercerai dari mas Dika. Harta gono-gini sepenuhnya jatuh ke tanganku. Tepatnya untuk masa depan Aqilla. Itu semua berkat perjanjian pranikah yang sempat kubuat saat sebelum menikah dengannya. Mengingat kami menikah karena dijodohkan. Sudah tentu rasa cinta pun belum sepenuhnya tumbuh. Hal itu memicuku untuk membuat perjanjian itu. Jaga-jaga hal seperti ini terjadi.
Yang kutakutkan terjadi begitu saja. Dalam sekejap mata segalanya hancur tak berbentuk lagi. Akupun memilih sendiri setelah bercerai dari mas Dika. Fokus menjadi single parent yang membesarkan Aqilla juga mengembangkan usahaku.
__ADS_1
Dengan alasan kemanusiaan, akupun memberi 10% asset kepada mas Dika. Bagaimanapun dialah yang dulunya susah membanting tulang untukku. Memberi modal usaha dari awal hingga kini berkembang. Meski keputusan hakim telah mutlak tidak ada harta yang menjadi miliknya. Namun, aku sungguh tak tega.