Benih Pria Lain Di Rahimku

Benih Pria Lain Di Rahimku
Kenyataan Pahit


__ADS_3

BENIH PRIA LAIN DI RAHIMKU


Besok lusa adalah acara aqiqahan putriku. Acara itu akan diselenggarakan di rumahku di pagi hari. Aku pun merayu Mas Dika agar dia mau lebih lama tinggal di sini. Sudah cukup telinga ini panas dengan nyinyiran tetangga yang selalu menggosipi pernikahan siriku. Aku nggak akan membiarkan di acara aqiqah nanti juga jadi sasaran empuk bahan menggibah dari mereka.


Ketidakhadiran Mas Dika mungkin akan menambah level pedas nyinyiran mereka. Kuharap kehadiran Mas Dika mampu membungkam mulut-mulut nyinyir mereka. Sejenak saja. Biarkan aku menikmati kebahagiaanku dengan suami baruku dan anakku. Bukankah setiap orang berhak untuk bahagia. Bukankah kebahagiaan itu adalah milik semua insan yang masih bernapas.


"Mas, nanti kita mau kasih nama siapa putri kita ini?" tanyaku dengan suara manja di malam kedua suamiku menginap di rumah. Kami baru saja merebahkan tubuh di tempat tidur. Anakku sudah tidur sejak sehabis isya tadi.


"Siapa ya? Hm, Mas belum kepikiran namanya, sih," jawabnya datar dan dengan raut wajah yang terkesan menyebalkan.


Kok bisa sih dia bahkan belum memikirkan nama untuk anaknya. Padahal, dulu saat aku masih hamil dan belum melahirkan pun, Mas Nandi sudah menyiapkan nama untuk anak kita. Benar-benar keduanya adalah dua orang dengan kepribadian yang berbeda pula.


"Mas kok gitu sih, masa' anak sendiri sampai belum kepikiran namanya," sungutku marah. Benar-benar Mas Dika ini sangat jauh berbeda jika dibandingkan dengan Mas Nandi. Aku benar-benar kesal.


Saat dulu aku mengandung Anova, Mas Nandi dengan antusias mencari inspirasi nama-nama yang memiliki makna yang bagus darin internet. Bahkan butuh waktu yang cukup lama baginya untuk benar-benar menemukan nama yang bagus untuk anak kami.


"Ya gimana. Aku masih belum kepikiran aja. Kamu kan tahu aku sibuk sama kerjaan." Mas Dika memberikan alasannya untuk membela dirinya sendiri. Bener-bener pengen tak hih! Alasan terus bisanya!


Entah mengapa, Aku tiba-tiba menyadari jika saat ini dia lebih sibuk dan fokus dengan gawainya. Benda itu kulihat seperti tidak pernah lepas dari genggamannya barang sedetik pun. Aku jadi curiga. Jiwa kekepoanku muncul. Aku jadi menduga-duga jika suamiku tengah bermain api di belakangku. Aku menjadi was-was dan takut. Takut apa yang menimpa Aisyah dulu juga akan terjadi padaku. Benar kata pepatah, barang siapa yang merebut maka nantinya akan direbut. Aku sendiri telah merebut kebahagiaan wanita lain, dengan merebut paksa Mas Dika dari istri dan anaknya.

__ADS_1


Kenapa aku jadi merasa jika Mas Dika sebenarnya terpaksa menerima keberadaanku dan putriku. Padahal dia sendiri yang bilang akan tanggung jawab padaku dulu, apa pun yang terjadi. Saat kami memulai hubungan ini dengan segala kenistaan. Semua ini tak pernah aku pikirkan sebelumnya. Aku hanya mendambakan hal yang indah-indah saja.


Aku lupa jika roda kehidupan itu akan selalu berputar selama kita masih menjalani kehidupan di dunia. Hari ini kita boleh bahagia namun besoknya belum tentu kita merasakan kebahagiaan yang sama.


Itulah kehidupan yang mungkin tengah kujalani saat ini.


Mengapa semuanya terasa begitu indah dulu, tapi tidak dengan sekarang. Meski kami sudah menjadi suami istri tapi hubungan kami seakan tak ubahnya sayur kemarin yang dihangatkan. Rasanya ambyar dan tak karuan.


Akhirnya malam itu juga, Aku sendiri yang mencari nama untuk anakku. Dengan mengunjungi website yang memposting beberapa usulan nama-nama anak perempuan. Aku membacanya satu per satu dan akhirnya pilihanku jatuh kepada satu nama.


Zivanna Aulia. Akhirnya setelah mengutak-utik ponsel cukup lama, aku menemukan nama yang cocok untuk putriku. Itu adalah nama yang cocok untuk putri kecilku. Aku meminta pendapat Mas Dika. Dan Ah, lagi-lagi ia masih fokus pada ponselnya itu. Aku sangat benci melihatnya. Aku begitu geram dibuatnya.


Entah kenapa rumah tanggaku selalu panas seperti ini? Apakah karena aku dan Mas Dika memulai pernikahan ini dengan cara yang salah. Kami berdua saling menyakiti pasangan sah masing-masing demi ingin bersama. Aku tak percaya karma, tapi .... kalau dipikir-pikir benar juga, sih. Karma itu ada, karena setiap perbuatan akan selalu mendapatkan balasannya.


"Boleh, terserah kamu saja," ucapnya masih datar. Matanya seperti enggan lepas menatap ponselnya. Aku jadi penasaran tingkat tinggi dan ingin tahu apa isi ponselnya itu. Sungguh bukan itu jawaban yang aku ingin dengar darinya.


Jawaban terserah adalah yang paling menyakitkan untukku. Seakan hanya aku yang menghadirkan Zivanna ke dunia ini. Padahal dia juga ikut andil dalam proses pembuatannya.


Merasa enggan berdebat lagi, aku pun memutuskan untuk memejamkan mata dan tidur dengan menghadap ke dinding dan memunggunginya.

__ADS_1


Lihat saja, jika aku menemukan kebusukan Mas Dika dalam ponselnya itu. Aku tak akan segan melakukan hal yang bar-bar bahkan di luar nalar sekali pun.


Jangan samakan aku dengan mantan istrinya itu. Aku bukan lah Mbak Aisyah yang lemah lembut dan terima saja saat suaminya selingkuh dengan beberapa wanita. Aku bisa berbuat nekad. Tunggu saja!


***


Acara Aqiqah putriku berjalan dengan lancar. Benar dugaanku. Kehadiran Mas Dika berhasil membungkam mulut nyinyir mereka. Meski sekejap tapi tak apa-apa. Setidaknya telingaku dapat berlibur dari panas yang menjalar akibat gunjingan mereka.


Hari ini adalah hari terakhir Mas Dika berada di sini. Besok dia sudah harus pulang ke kotanya. Aku harus segera mencari cara supaya bisa mengecek isi ponselnya itu


Memang agak susah karena sepertinya benda itu lengket di tangannya. Tak pernah lepas barang sedetik pun. Aku akan mencoba saat malam nanti. Saat aku terbiasa terbangun untuk menyusui putriku. Aku akan menyidaknya. Semoga saja rencanaku berhasil.


***


Malam harinya, jam dua dini hari. Aku terbiasa bangun untuk menyusui Zivanna. Kulirik Mas Dika yang tidur di sampingku. Sepertinya dia sudah pulas hingga suara dengkuran pun terdengar.


Aku mencari ponselnya segera setelah selesai menyusui. Ternyata ia sembunyikan di balik bantal. Kubuka ponselnya sembari mengamati takut-takut ia terbangun. Aman, pikirku. Ia hanya menggeliat sebentar, dan mengubah posisi tidur.


Ternyata ponselnya tidak dikunci. Ini kesempatan yang bagus untukku. Aku bisa leluasa mencari tahu apa yang ingin kuketahui. Aku langsung menuju pada aplikasi hijau. Memeriksa satu persatu chat yang masuk. Hingga sampai pada satu nama yang sangat sering dihubungi oleh Mas Dika.

__ADS_1


Kubuka dan kubaca seluruh pesan mereka dari awal hingga akhir. Mataku membeliak. Dadaku terasa sebak. Netra ini tak mampu lagi menahan bulir yang ingin berjatuhan, Aku terisak tertahan. Sebodoh itukah aku di matanya. Rasanya aku ingin mati saja. Kenyataan ini begitu menyakitkan!


Bersambung ....


__ADS_2