Benih Pria Lain Di Rahimku

Benih Pria Lain Di Rahimku
Cinta Yang Jadi Nyata


__ADS_3

Benih Pria Lain Di Rahimku


PoV Ayu


"SAH!" teriak suara para saksi yang hadir. Saat mas Nandi dengan satu kali tarikan napas berhasil mengucap ijab qabul atas diri ini. Menghalalkan ku menjadi pasangannya. Ah, momen itu sangatlah membuat jantungku berdegup tak karuan. Ada desiran hangat yang kurasakan seiring kalimat sah diteriakan para saksi yang hadir. Hari ini sungguh telah menjadi saksi jika cintaku sudah menjadi nyata.


Terharu, itulah yang kurasakan kini. Ada nyeri yang menggelitik kala mengingat begitu lama dan panjang penantianku selama ini. Mas Nandi ... sejak masa putih abu-abu dulu aku memang sudah menyukainya. Ya, aku memang menyukainya diam-diam.


Hanya saja mas Nandi yang kelewat tidak peka hingga menganggap pertemanan kami sebagai pertemanan murni. Tanpa ada perasaan lebih yang mencampuri. Padahal, dalam diam aku selalu mengaguminya, menyayanginya, dan bahkan mencintainya. Sejak dulu, bayangkan berapa lama penantianku agar cinta ini menjadi nyata. Aku pun tak mengira justru cinta kami bersatu setelah Mas Nandi menjadi seorang duda.


Rasa cinta yang dulu adalah rasa yang hanya kupendam dalam diamku dulu. Hingga sampai saat lulus sekolah, aku memutuskan melanjutkan kuliah kedokteran ke kota yang jauh. Harapanku agar dapat sedikitnya melupakan kisahku dan mas Nandi. Memupus asa sia-sia itu dengan menjauh dari segala kenangan tentang mas Nandi.


Bertahun-tahun berlalu, aku pun sudah lulus kuliah kedokteran. Juga sudah melewati masa-masa sebagai dokter magang di rumah sakit. Aku bekerja di rumah sakit yang tidak jauh dari rumah masa kecilku.


Tentang cinta pertamaku yang tak pernah terucap, kudengar saat itu dia sudah menikah dengan gadis pilihannya. Dan sudah memiliki anak. Setidaknya itu yang kutahu dari grup reuni sekolah. Aku tidak sempat datang saat itu. Selain menghindari bertemu mas Nandi, aku juga tengah disibukkan dengan kegiatanku sendiri. Aku tak mau terluka dengan menyaksikan kebahagiaan dari Mas Nandi.


Ternyata sekuat apa pun usahaku untuk melupakan Mas Nandi rasanya sia-sia saja. Karena rasa itu seakan tak dapat hilang serta musnag dari hatiku dan rasa itu selalu subur di dalam hatiku.

__ADS_1


***


Suatu ketika saat aku tengah bertugas malam itu, aku kembali dipertemukan dengan mas Nandi. Benar-benar sangat tidak terduga. Orang yang kuhindari selama ini justru kini ada di hadapanku. Entah ada keperluan apa dirinya disini. Yang jelas gelenyar di dada mulai tak beraturan. Tak dapat kukendalikan. Hingga aku tersadar harus segera bergegas untuk membantu persalinan seorang pasien.


Akupun segera berlari meninggalkan mas Nandi saat itu. Demi profesionalitas, aku segera bergegas ke ruangan bersalin. Pertemuan dengan mas Nandi sanggup membuat rindu tertahan ini kembali menggebu. Entah mengapa. Sadarlah, Ayu! Dia sudah memiliki istri. Aku menghela nafas berat demi mengusir kerinduan yang gila itu.


Saat aku tengah membersihkan bayi mungil itu. Seorang lelaki yang tak asing bagiku masuk. Ia akan mengadzani bayi mungil ini. Benar dugaanku, pasien ini ternyata istri mas Nandi. Kenapa dalam hatiku seperti ada yang tercabik?


Sekian lama aku mengubur dalam-dalam perasaan ini, nyatanya perasaan itu masih ada. Bahkan semakin dalam kurasakan. Semakin aku berusaha melupakan, semakin tak bisa diri ini lepas dari bayang-bayang mas Nandi. Bahkan sudah melalui sekian tahun pun. Diri ini ternyata tak pernah bisa melupakan rasa cinta ini.


Aku mencoba bersikap biasa saja. Meski gurat kecewa tentu jelas terlihat dari raut wajahku. Setelah mengadzani mas Nandipun pamit keluar. Kenapa aku melihat keanehan dari gestur tubuh dua orang itu. Seperti bukan sepasang suami istri yang tengah berbahagia dengan kehadiran buah hati. Aneh sekali, namun hanya kutelan sendiri tanda tanya itu.


Setelah kejadian itu, tak kuduga mas Nandi datang menemuiku di ruang kerja. Menawarkan untuk mengantarkanku pulang. Tentu, aku merasa tak enak untuk langsung mengiyakan tawarannya.


Bagaimanapun aku belum tahu pasti apa statusnya. Hingga dia mengatakan kalau sudah resmi bercerai dengan perempuan itu lima bulan yang lalu. Tapi, ada yang mengganjal, kenapa mereka bercerai saat sang istri tengah hamil? Aku hanya menyimpan tanya itu dalam hati.


Saat dalam perjalanan, akhirnya mengalir juga cerita dari bibirnya. Cerita kelam dalam rumah tangganya yang berakhir perceraian. Aku merasa prihatin dengan yang menimpa mas Nandi. Hingga sebuah pertanyaan lancang kuucapkan. Membuat suasana menjadi canggung. Ah, kenapa aku harus menanyakan padanya. Tentu, lelaki mana yang terima dan tidak sakit hati saat dikhianati.

__ADS_1


Tapi aku salut terhadap mas Nandi, kemarin dia bahkan sukarela mengadzani bayi itu. Tidak ada amarah apalagi dendam. Dia begitu pintar memposisikan diri. Aku semakin mengagumi pesonanya.


Sejak hari itu hubungan kami kian dekat layaknya tanpa sekat. Mas Nandi tak pernah absen mengantar jemputku, serta kadang kami menghabiskan waktu makan siang dengan makan siang bersama. Kami tidak berpacaran. Karena tidak ada kata cinta yang terucap.


Mas Nandi sudah mengakrabkan diri dengan kedua orang tuaku. Mereka Pun tak mempermasalahkan status mas Nandi yang seorang duda cerai tanpa anak itu. Aku sangat lega. Semakin hari semakin terpupuk subur benih cinta dalam hatiku. Bunga-bunganya sudah bermekaran. Aku bahagia. Hanya menunggu kepastian kelanjutan hubungan ini. Diri sudah siap jiwa raga di milikinya.


Hingga hari ini, terucaplah ikrar suci pernikahan. Di hadapan semua orang. Senyum sumringah tak luput terukir di semua wajah para tamu yang hadir disana. Puji syukur kupanjatkan pada Tuhan, yang telah mengijabah do'aku. Setiap untaian do'a selalu ku sebutkan nama mas Nandi. Bagaikan mimpi yang jadi nyata. Mas Nandi kini telah sah menjadi suamiku. Aku bahagia.


***


Tiba-tiba suasana resepsi menjadi kacau. Seorang tamu yang hadir disana pingsan. Teman mas Nandi memberi tahu jika yang pingsan adalah Risa, mantan istri mas Nandi. Kenapa dia ada disini. Kulihat mas Nandi hendak melangkah menghampiri kerumunan itu. Tapi kutahan langkahnya. Kupegang erat tangannya seraya menggelengkan kepala. Biarlah, orang lain yang akan mengurusnya.


Tidak apa jika kalian menganggapku kekanakan seperti ini Aku hanya tidak mau mas Nandi ikut campur lagi dengan yang terjadi pada mantan istrinya. Walau aku tahu mas Nandi sudah tak ada rasa lagi terhadapnya.


Niatnya hanya menolong sesama, aku yakin itu. Orang baik seperti Mas Nandi pasti tidak akan ragu untuk mengulurkan bantuan. Tapi aku tak rela, tak ikhlas. Takut jika Risa atau siapapun menganggap lain kebaikan mas Nandi. Tidak akan kubiarkan hal itu sampai terjadi! Tidak akan!


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2