
"Benar itu, pak." jawab mas Dika menunduk tak berani menatap kami semua. Mungkin malu atau apalah itu, aku tak peduli.
"Jangan lemah dong, Mas! Risa itu cuma istri siri kamu, kan! Kamu talak saat ini juga status kalian langsung bukan suami istri lagi" hardik ulat bulu itu. Dinda begitu percaya diri saat mengatakan itu. Kedua bola matanya menatap tajam ke arahku. Aku pun tidak gentar. Dan kutatap balik matanya dengan tatapan yang tajam pula.
Semua yang berada disana terperangah mendengar ucapan Dinda. Ia seperti tidak merasa bersalah sedikit pun telah berselingkuh dengan suamiku. Dan menganggap jika apa yang dilakukannya itu. Padahal sudsh jelas jika dia bersalah karena berzina dengan suami orang. Masih bisa keras juga suara si Dinda itu. Apakah dia sudah nggak punya urat malu. Ah, lupa. Urat malunya kan sudah putus, pikirku gemas dengan tingkah Dinda yang non akhlak itu.
"Diam kamu! Jangan bikin semuanya jadi runyam!" Mas Dika menukas ucapan Dinda. Dinda tampak memutar bola matanya. Wajahnya menunjukkan raut tak suka saat Mas Dika nyatanya tidak membelanya.
"Sudah, sudah! Bagaimanapun perbuatan suami Ibu Risa dan Dinda ini adalah salah. Kalian sudah jelas-jelas berzina di kampung ini. Kalian tahu, perbuatan zina itu bisa menyebarkan sial hingga ke empat puluh rumah di sekitarnya." Pak RT berusaha menengahi perdebatan kami. Mungkin juga pusing dengan drama rumah tangga yang sedang terjadi secara langsung di depan mereka.
Riuh suara para warga yang hadir di sana pun ikut mengomentari drama ikan terbang yang sedang live mereka saksikan. Kebanyakan dari mereka menghujat perilaku Dinda. Tentu saja karena posisi dia salah saat ini. Tidak ada yang akan membela pelakor sepertinya.
"Jadi pelakor kok sombong. Jambak aja tuh!"
"Udah salah, malah nyolot. Emang nggak tahu malu deh."
"Emang dasarnya janda genit, makanya suami orang juga diembat."
"Diarak aja tuh, biar kapok!"
Selentingan hujatan dan makian yang ditujukan untuk Dinda terdengar sangat jelas di telingaku. Kutarik sebelah bibirku membentuk senyum tipis. Ini baru permulaan, Dinda. Akan ada jackpot yang menantimu nanti, gumamku dalam hati.
"Mas! Jangan diam saja dong! Aku dihujat habis-habisan sama orang-orang tuh!" Dinda geram dengan sikap Mas Dika yang hanya diam saja dan terkesan tidak membelanya.
__ADS_1
"Terus apa maumu! Sudah jelas kan kalau kita yang salah." Mas Dika tak mau disalahkan dan justru menghardik Dinda kembali. Wanita itu bersungut kesal dengan balasan Mas Dika yang mungkin tak sesuai dengan ekspektasinya.
"Ris, maafin aku. Aku janji bakal berubah demi kamu dan Zivanna. Aku hanya khilaf, Ris. Percaya sama aku." Mas Dika meraih dan menggenggam tanganku, kutepis tangannya pelan. Jijik rasanya bersentuhan dengan dia. Apalagi kalau ingat adegan panas yang langsung kusaksikan tadi. Sakit tak berdarah rasanya. Beginikah rasanya dikhianati.
Hati terasa remuk redam rasanya dan entah bagaiman mengobatinya
"Khilaf sampe berbulan-bulan ya! Aku sudah tahu dari awal kalian main curang di belakangku," ucapku berapi-api. Mas Dika kaget saat aku bilang sudah tahu segalanya dari awal. Tentu saja dia nggak nyangka kalau aku sudah tahu perselingkuhan mereka jauh sebelum hari ini terjadi.
"Kalau aku nggak menangkap basah kalian hari ini. Mungkin sampai kapanpun kalian akan tetap berzina seperti ini," tambahku.
Luruh sudah air mata yang sedari tadi kutahan. Mas Dika terlihat merasa bersalah. Hati ku sudah sangat hancur, tak utuh lagi saat ini. Rasanya hari-hari yang kujalani begitu berat setelah aku berkhianat dari Mas Nandi. Seakan aku tak diizinkan untuk bahagia.
Apakah aku sedang memetik buah hasil dari perbuatan zina ku dulu? Entahlah.
"Sudah deh, Mas. Nggak usah sok-sokan minta maaf. Kamu lupa janji kamu bakal nalak Risa di depanku. Kamu juga janji akan memilihku." Dinda berkata dengan sombongnya. Raut wajahnya begitu angkuh menantangku. Sungguh, sebagai sesama wanita dan pernah bersahabat dulu, dia sungguh tak memiliki perasaan.
"Diam kamu, perempuan murahan! Kalau kamu mau suamiku, silahkan ambil saja dia. Aku nggak butuh!" ucapku tak tahan lagi mendengar celotehan ulat bulu itu. Kak Surya menepuk-nepuk punggungku pelan seolah menyuntikkan kekuatan.
"Ris, aku janji bakal berubah. Jangan dengerin omongan Dinda. Dinda duluan yang selalu menggoda aku. Aku bisa buktikan itu." Mas Dika masih mencoba meyakinkanku.
"Nggak usah dibuktikan, Mas. Aku sudah tahu segalanya. Kalian sama saja. Sama-sama gatel!" ucapku ketus.
"Sudah cukup berdebatnya. Sekarang saya yang akan bicara." Kami sampai lupa dengan keberadaan pak Rt. Duh.
__ADS_1
"Jadi, kesimpulannya ini suami bu Risa berselingkuh dengan Dinda selama ini. Dan hari ini bu Risa berhasil membongkar perselingkuhan mereka. Nah, sekarang saya tanya pada bu Risa. Apakah akan membawa kasus ini ke jalur hukum. Atau diselesaikan secara adat kampung kami saja?" pak RT memberi opsi pada kami.
"Ja-jangan pak. Jangan sampai dibawa ke jalur hukum. Saya nggak mau," teriak Dinda, histeris. Dia pasti taku kalau sampai masalah ini sampai ke jalur hukum.
"Itu semua tergantung keputusan bu Risa," jawab pak Rt. Dinda melotot tajam ke arahku.
Aku tertawa dalam hati, kini aku tahu kelemahanmu, jal*ng. Awalnya, aku hanya akan menyerahkan kasus zina mereka sesuai adat kampung mereka. Bagaimanapun mereka sudah mengotori kampung yang asri ini dengan perbuatan mereka.
Tapi, melihat Dinda yang ketakutan setengah mati saat dengar jalur hukum. Aku jadi berubah pikiran. Lagi, aku pun punya banyak bukti perselingkuhan mereka. Cukup untuk memberi mereka sedikit pelajaran.
"Sa-saya ... akan melaporkan kasus perzinahan mereka, pak. Saya sudah mengantongi bermacam bukti. Dari chatting WA mereka dan bahkan video mesum mereka tadi yang sempat saya rekam,"ucapku tegas masih dengan air mata yang bercucuran.
Drama ini harus benar-benar sempurna, dimana si istri yang diselingkuhi menangis dramatis saat tahu suaminya selingkuh. Padahal ini hanya air mata palsu. Semata untuk menarik simpati siapapun yang melihatku.
"Heh, kurang ajar ya kamu, Ris. Jadi kamu mata-matai obrolan kami selama ini, hah! Sampai ngerekam video segala. Aku laporin kamu ya pasal UU ITE." Dinda marah berapi-api saat tahu aku sempat memvideo mereka tadi.
"Hapus nggak videonya!" Dinda bersungut, seraya meraih gawaiku. Tidak akan semudah itu j*lang. Aku belum puas bermain denganmu!
"Sudah, keputusan sudah saya simpulkan. Dinda dan suami bu Risa silahkan bersiap untuk ikut kami ke kantor polisi. Bu Risa dan Nak Surya juga. Kalian pergi dulu untuk membuat laporan." Pak RT menutup musyawarah itu.
"Huuuuuuuu. Pelakor." Semua yang hadir disana serempak menyoraki Dinda. Aku menang!
Aku beranjak keluar dari rumah itu. Aku berjalan di samping kak Surya. Saat akan naik ke motor kak Surya tiba-tiba seseorang memeluk kedua kakiku. Mas Dika?
__ADS_1