
(PoV Nandi)
Butuh waktu beberapa bulan lamanya untukku bisa kembali menata diri, menata kembali hidup yang sempat terpuruk. Menyembuhkan bekas luka atas pengkhianatan yang tertoreh dalam biduk rumah tanggaku bersama Risa. Kegagalan itu membuatku menjadi lebih berhati-hati lagi dalam membina rumah tangga ke depannya.
Sungguh sangat disayangkan mahligai rumah tangga yang kumulai dengan sangat indah berakhir dengan luka dan menyedihakan. Aku sungguh tak pernah menyangka hal ini akan menimpaku. Melupakan segala bayang-bayang tentang Risa. Jujur, di awal perceraianku dengannya, hati ini terkadang masih menangis jika ingat tentang dia. Perih mengingat luka yang dia tinggalkan begitu dalam. Mungkin aku lah yang gagal sebagai imamnya. Aku menyayangkan karena dia pada akhirnya tak bisa kujaga hingga akhir.
Bagaimanapun, Risa adalah cinta pertamaku. Wanita yang juga pertama kalinya mengisi relung kalbuku. Kini, aku sudah bisa melupakan segala tentangnya. Move on kalau kata orang. Aku ingin menjalani kehidupan yang lebih baik lagi setelah ini. Aku yakin masih ada sejumput kebahagiaan yang tersisa untukku.
Aku selalu menanamkan kepercayaan pada diri sendiri. Mungkin hanya sampai disitu jodohku dengannya. Begitulah kepercayaan yang selama ini ku bangun di atas luka dan asa. Ya, kupikir semua yang sudah terjadi adalah suratan takdir dan aku maupun Risa tidak dapat bisa menghindarinya.
Aku yakin rencana Tuhan lebih baik dari rencana kita. Mungkin saat ini Tuhan tengah mengujiku, agar aku dapat memetik hikmah dari ujian itu. Ya, aku hanya menganggap ini ujian dalam hidupku agar ke depannya aku dapat belajar lebih baik lagi menjadi imam bagi istriku.
Tuhan pun tak akan menguji makhluknya di atas batas kesabarannya. Artinya, aku pasti mampu melewati ujian ini. Pasti. Aku akan bersabar dan ikhlas menghadapinya.
***
Tiga bulan pasca bercerai, Tuhan memberiku nikmat yang sangat tak terduga. Aku dipromosikan dan akhirnya berhasil naik jabatan sebagai seorang manajer. Sujud syukur langsung kulakukan. Usahaku selama ini tak sia-sia. Benar, tidak ada usaha yang menghianati hasil. Aku telah membuktikannya.
Memang, setelah bercerai aku lebih fokus dan giat dalam bekerja. Tak peduli siang ataupun malam. Jika ada lembur pun aku tak pernah absen. Aku berubah menjadi gila dalam bekerja. Dan atasanku menganggap itu sebagai bentuk kinerjaku yang bagus. Akan tetapi, alasan sesungguhnya adalah karena sengaja mengalihkan luka yang ada di hati ini.
Ibuku sampai tak tega melihatku yang seakan gila bekerja. Menatapku iba dengan hal buruk yang menimpa rumah tanggaku. Gurat kesedihan terlihat jelas dari sorot matanya saat menatapku.
Bukan tanpa alasan, itu semua kulakukan semata demi menghalau pikiranku agar tidak melayang kemana-mana. Sepulang dari bekerja sudah sangat lelah, setelah itu aku langsung tertidur. Tidak ada waktu untukku memikirkan masa lalu. Maupun menyesalinya.
Badai itu sudah berlalu, pelangi akan menyambut esok hari dengan warnanya yang indah. Badai yang sempat mengoyakku hingga terpuruk, kini telah pergi. Diri sudah merasa jauh lebih baik sekarang. Tak baik pula larut dalam kisah masa lalu.
Menguburnya tanpa berniat membukanya kembali. Mengikhlaskan dan merelakan yang sudah terjadi.
***
Hari itu, aku sedang menunggui seorang saudara yang sedang sakit. Aku meminta izin untuk tidak masuk kerja. Tidak disangka malah bertemu seseorang yang membuat hati ini sanggup berdenyar lagi. Ayu Widyaswari. Seorang dokter Obgyn di rumah sakit itu.
__ADS_1
Pertemuan kami sangatlah klasik. Bertabrakan saat sama-sama lengah berjalan. Dia yang sedang buru-buru dan aku yang fokus pada gawai. Tidak memperhatikan jalan.
BRUGG!
"Aww!" pekiknya. Kami sama-sama terduduk.
"Maaf saya nggak sengaja." Aku berdiri seraya membantunya berdiri juga.
"Iya nggak apa-apa kok. Saya juga salah."
Lalu mata kami bersitatap. Dan sama-sama membulat.
"Nandi?"
"Ayu?" Ucap kami hampir bersamaan.
"Hei, gimana kabar?" tanyaku. Ayu Widyaswari ia merupakan teman semasa putih abu-abu. Kami cukup dekat dulu.
"Aku juga baik. Oh, ya sudah kalau begitu. Gampang nanti kita ngobrol-ngobrol lagi." ucapku sedikit kecewa.
"Iya, aku pergi duluan ya." katanya, lalu gegas beranjak meninggalkanku.
Ekor mataku mengikuti langkahnya. Ia masuk ke sebuah ruangan. Dan, apa aku tidak salah lihat? Aku melihat dua orang yang sangat ku kenal tengah berdiri dengan cemas di depan ruangan itu.
Aku Pun berjalan mendekati mereka. Benar saja. Mereka adalah Uwak Mar dan Uwak Da. Keduanya tampak ketar-ketir, terlihat dari bahasa tubuhnya.
"Uwak, apa kabar? kok ada disini?" tanyaku.
"Eh, Nandi! Itu, si Risa mau lahiran. Tadi sudah bukaan lengkap. Makanya bu Dokter tadi buru-buru kesini." jawab uwak Mar masih dengan raut khawatir.
"Uwak cuma berdua disini. Kemana yang lain?" Aku memindai sekitar cuma ada mereka berdua.
__ADS_1
"Iya, Nan. Yang lain masih di perjalanan mungkin." uwak Da menimpali.
"Kamu, kok ada disini Nan. Siapa yang sakit?" Tanya uwak Mar.
"Ada saudara yang sakit, Uwak."
"Oh gitu."
Kami Pun terdiam hanyut dalam pikiran masing-masing. Tak lama, suara tangis bayi terdengar dari dalam ruang bersalin. Uwak Da dan Uwak Mar yang tadi duduk langsung berdiri. Demi mendengar suara tangis bayi.
"Alhamdulillah!" seru mereka bersamaan. Aku Pun mengucap hamdallah, meski hanya dalam hati.
Seorang suster keluar dari ruangan tempat Risa melahirkan.
"Keluarga ibu Risa." ucapnya.
"Iya, sus." jawab Uwak Mar dan Uwak Da berbarengan.
"Bayinya sudah lahir dan sehat. Perempuan. Oh iya kalau mau mengadzani boleh masuk ya. Siapa yang akan mengadzani."
"Biar saya saja yang mengadzani, Sus." ucapku dengan sukarela mengadzani bayi yang baru lahir itu. Melihat Uwak yang tadi tampak kebingungan, aku tak tega. Tidak ada laki-laki selain aku disini.
"Oh, baik. Mari masuk, Pak" suster membimbing langkahku masuk ke dalam ruangan.
Dokter Ayu yang tengah membersihkan bayi mungil itu terperanjat melihatku. Mungkin mengira akulah ayah dari bayi itu. Karena dia melihatku mengadzani bayi cantik itu.
Sungguh, wajahnya bak pinang dibelah dua dengan Anova. Keduanya mirip karena memang terlahir dari rahim yang sama. Meski dari ayah yang berbeda.
Risa membuka matanya yang sedari tadi terpejam, kala aku hampir selesai mengiqomah bayi itu. Dia menatapku sayu. Menyapaku dengan gumaman lirih.
"Mas Nandi." gumamnya pelan hampir tak terdengar. Aku hanya membalasnya dengan mengulas senyum. Lalu segera pamit keluar. Uwak Da dan Uwak Mar pun mengucapkan terimakasih padaku.
__ADS_1
Aku menatap Ayu sekilas. Pandangan kami bersirobok dalam sesaat. Tampak gurat kecewa dari wajah cantiknya itu. Entahlah. Kenapa aku merasa khawatir jika Ayu jadi salah paham padaku. Menganggapku sebagai ayah dari bayi yang baru saja ku adzani. Aku harus menemuinya nanti dan menjelaskan padanya. Harus.