
Seminggu lamanya aku sudah berada di rumahku. Berdua dengan Zivanna mampu mengusir rasa sepiku. Mas Dika sempat mengantarku pulang. Hanya sampai ke terminal saja. Sekarang pun, kami masih tetap menjaga komunikasi.
Selama itu pun belum ada tanda-tanda Dinda menghubungi mas Dika. Mungkin saja dia sudah kapok. Atau mungkin takut jika harus berurusan dengan polisi lagi.
Aplikasi penyadap masih ku pasang. Jaga-jaga untuk segala kemungkinan. Yang aku tahu mas Dika sudah memblokir semua akses perempuan j*lang itu. Ia bahkan melakukannya depanku agar aku percaya.
Sebenarnya, masih sulit bagiku percaya lagi padanya. Kecurigaan selalu menghantuiku. Rasanya sungguh tak nyaman hidup dengan bermacam praduga terhadap suami sendiri. Hatiku menjadi tak tenang dan selalu dipenuhi rasa was-was.
Hidup memang selucu itu. Dulu, aku mengkhianati kepercayaan mas Nandi. Dan kini, suamiku menghianati kepercayaanku. Seperti hukum tabur tuai. Mungkin kini aku tengah menuai apa yang ku perbuat dulu. Karma kalau kata orang. Iyakah? Apa benar karma itu ada dan nyata?
Ah, tentang mas Nandi. Sampai sekarang aku belum sempat menyambangi rumahnya. Aku... masih mengumpulkan segenap keberanian yang tersisa. Keberanian untuk menghadapi cibiran yang mungkin akan kudapat dari keluarga mas Nandi. Terutama mak Rini, ibunya. Beliau pasti begitu kecewa padaku. Aku berniat untuk meminta maaf padanya juga.
Aku harus mencari waktu yang tepat untuk kesana. Mungkin, besok lusa. Akan kubawa serta Zivanna bersamaku. Zivanna, semakin mirip dengan Anova. Mas Nandi pasti terenyuh saat melihat Zivanna. Semoga masih ada maaf untukku, meski terlambat kulakukan.
***
Aku tengah bersiap ke rumah mas Nandi. Hari itu hari minggu. Mas Nandi pasti sedang libur bekerja. Masih jam 10.30 pagi saat aku memacu motorku menuju kampung sebelah, ke tempat tinggal mas Nandi.
Kukenakan baju atasan tunik dan celana bahan dipadukan dengan hijab polycotton yang nyaman kupakai. Setidaknya aku harus memperbaiki sedikit penampilanku untuk bertemu mas Nandi.
Pukul 11.30 ketika aku sampai di pekarangan rumah mas Nandi. Aku melihat mobil terparkir di depannya.
"Mobil siapa, ya. Setahuku mas Nandi nggak punya mobil. Apa sedang ada tamu ya?" gumamku. Sempat ragu melanjutkan langkahku. Antara masuk ke dalam atau putar balik untuk pulang ke rumah.
Kukumpulkan segenap keberanianku, dan kuputuskan untuk tetap melangkah masuk. Aku mengetuk pintu rumah itu. Seseorang membukanya. Ternyata mak Rini.
"Loh, Arisa. Kamu kenapa disini?" ucap mak Rini yang masih terkejut dengan kehadiranku.
"Risa mau silaturahmi aja, Mak. Mau ketemu sama mas Nandi juga." ucapku agak terbata. Mak Rini mungkin menganggapku sangat tidak tahu diri. Setelah apa yang kulakukan pada mereka. Kini dengan tak tahu malunya muncul di hadapan mereka.
"Nandi ada di dalam, Nak. Ayo masuk. Oh ya, ini anak kamu? Siapa namanya?" ucap mak Rini dengan seulas senyum mengiringinya.
Di luar dugaanku mak Rini justru menyambutku dengan baik. Tidak,ada gurat amarah disana. Senyumnya tulus menyambut kedatanganku. Tuhan, aku semakin merasa bersalah sudah menyakiti orang-orang berhati mulia ini.
"Namanya Zivanna Aulia, mak. Panggil aja Ziva atau Anna. Terserah Emak." jawabku dengan senyum sumringah.
"Cantik. Kok mirip ya sama Anova, hidungnya, matanya, bibirnya persis mirip sekali sama cucuku Anova." ucap mak Rini seraya mencubit gemas pipi chubby Zivanna.
Aku sudah duduk di sofa ruang tamu ketika mas Nandi keluar dari kamarnya dan heran melihatku berada di rumahnya. Penampilannya sangat rapi, menawan dengan kemeja berwarna tosca yang lengannya dilipat hingga siku serta celana bahan warna hitam, berpadu sempurna membalut tubuhnya. Aku sampai terpana dibuatnya. Mas Nandi tampak lebih gagah dan... tampan sekarang.
__ADS_1
"Loh, Ris. Kamu... kapan sampai disini?" tanya mas Nandi. Suara itu, masih sama. Bolehkah kukatakan kalau aku merindukannya?
"I.. iya Mas. Barusan aja belum lama kok." jawabku gugup. Jantung memompa lebih cepat dari biasanya, rasanya dag dig dug tidak karuan.
"Hei, anak manis. Siapa namamu?" mas Nandi menghampiri tempat dudukku sembari mengusap kepala Zivanna yang hanya ditumbuhi rambut tipis. Meski begitu tetap Kuhias dengan bando bunga yang lucu. Zivanna tergelak merespon ucapan mas Nandi.
Mas Nandi mengambil alih Zivanna dari pangkuanku lalu menggendongnya.
Zivanna begitu riang di gendongan mas Nandi meski ini adalah kali pertama ia bertemu. Biasanya, Zivanna selalu menolak untuk digendong siapapun yang ia tidak kenal. Tapi, dengan mas Nandi berbeda.
"Namanya siapa, Ris." tanyanya.
"Zivanna Aulia, mas." jawabku. Masih menikmati pemandangan membahagiakan itu.
"Cantik namanya. Kayak fotocopy nya Anova, ya." ucap mas Nandi seraya menimang-nimang Zivanna yang berada dalam dekapannya. Aku hanya tersenyum kikuk menanggapi ucapannya.
"Oh, ya. Mas mau pergi ya, udah rapi begitu."
"Iya nih. Tapi nanti." ucapnya santai. Tak tahukah dirinya bahwa diriku berupaya keras menjinakkan detak jantung yang kian tak menentu ini. Senyuman mas Nandi, betapa rindu diri ini.
Mak Rini datang dengan segelas jus jeruk dan beberapa toples berisi kudapan. Menyuguhkannya di meja yang ada di depanku. Sungguh, tak menyangka mereka masih memperlakukanku sama seperti dulu. Hanya status saja yang berbeda. Kini, kami hanya mantan.
"Diminum Nak, jus jeruknya. Nggak usah sungkan ya." ucap mak Rini. Aku mengangguk pelan. Aku meneguk perlahan jus jeruk dingin yang di suguhkan. Segar.
"Em.. Anu.. Itu.." aku tergagap ditanya seperti itu ditambah wajah mas Nandi membuatku gagal fokus sedari tadi.
"Anu... Aku... Mau minta maaf sama kamu, mas." ucapku terbata. Bagaimanapun maafku sudah terlambat.
"Maaf untuk?" Mas Nandi tampak heran.
"Untuk.. kejadian dulu mas. Aku banyak melakukan kesalahan sama kamu, mas. Aku sudah jahat sama kamu. Aku menyesali perbuatanku sekarang, mas." kataku, lancar juga permintaan maafku terucap. Semoga mas Nandi berkenan memberiku maaf.
"Risa, jauh sebelum kamu minta maaf, aku sudah memaafkanmu. Yang dulu biarlah berlalu. Aku juga minta maaf jika selama menjadi suamimu belum bisa membahagiakanmu." mas Nandi berucap dengan suara begitu lembut.
"Mas sudah sempurna dalam menjadi imamku dulu. Hanya saja aku yang kurang bersyukur hingga aku jatuh terperosok dalam kenistaan."
"Sudah, Ris. Jangan diingat lagi jika hanya menimbulkan luka. Aku sudah ikhlas mungkin jodohku bersamamu hanya sampai disitu."
"Aku minta maaf, mas." Derai yang sedari kutahan nyatanya luruh juga.
__ADS_1
Mendengarnya masih memberi maaf dengan tulus membuat hatiku hancur. Dialah yang ku patahkan hatinya dulu. Namun, dia pula yang dengan tulus memaafkan kesalahan fatalku. Lelaki baik sepertinya telah kusia-siakan dulu. Akibat kebodohanku sendiri. Hancur rasanya di dalam sini.
"Jangan nangis, Ris. Jangan disesali juga yang sudah terjadi. Semua sudah jadi kehendak dari Tuhan." Mas Nandi menenangkanku. Mak Rini yang sedari tadi diam memelukku.
"Sudah, Nak. Jangan menangis lagi. Ikhlaskan yang sudah terjadi. Jalani apa yang menjadi pilihan nak Risa dulu. Kami sudah memaafkanmu jauh sebelum kamu datang kemari." ucap mak Rini seraya mengusap pelan punggungku. Memberiku kekuatan menghadapi kenyataan bahwa diri sudah bukan siapa-siapa lagi. Itulah takdir yang kupilih sendiri, dan aku begitu menyesalinya, kini.
Kususut perlahan netraku yang masih berlinang. Menghirup nafas dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Sesak itu hilang seketika. Tangisku segera mereda. Sudah. Mereka sudah memaafkanku, tidak ada lagi yang mengganjal hatiku. Sudah waktunya menjalani hidupku lagi dengan lebih baik.
"Nan, jam berapa nanti kita pergi." tanya mak Rini pada mas Nandi. Zivanna sudah terlelap di pangkuannya.
"Sebentar lagi, mak." jawab mas Nandi. Netranya lekat menelisik wajah Zivanna yang dinilai memiliki banyak kemiripan dengan Anova. Wajar, mereka lahir dari rahim sama meski dari benih yang berbeda.
"Kalian mau pergi?" tanyaku merasa tak enak dengan kehadiranku yang mengganggu rencana mereka.
"Iya, Ris. Nandi mau memperkenalkan seseorang sama Emak." jawab Mak Rini dengan senyum mengembang.
"Siapa nih. Pasti orang spesial ya, Mas." candaku pada mas Nandi. Meski tak dipungkiri ada yang tercabik di dalam sini.
"Hehe.. apaan sih." mas Nandi menimpali candaanku dengan wajah yang tersipu malu. Aku tertawa kecil.
Dering ponsel mengagetkan kami semua. Ponsel mas Nandi yang berbunyi. Seseorang menelponnya. Mas Nandi memberikan Zivanna padaku lagi. Ia masih terbuai dalam tidurnya. Mas Nandi segera mengangkat teleponnya.
"Assalamualaikum, Yu." ucap mas Nandi. Aku tak dapat menangkap suara si penelepon. Meski rasa penasaran membuncah.
"Ya sudah. Aku sama Emak akan segera jalan kesana, Yu. Tunggu ya. Wassalamualaikum." ucap mas Nandi mengakhiri obrolan.
"Gimana, Nan. Apa kata nak Ayu?" tanya mak Rini.
Ayu? Namanya seperti tidak asing bagiku.
"Sudah hampir siap, Mak. Kita jalan aja sekarang."
"Ayo kalau begitu, Mak ngambil tas dulu di dalam ya."
"Ris, maaf. Aku sama Emak harus pergi sekarang."
"Tidak apa-apa, mas. Ya udah kalau gitu aku pamit pulang mas. Sampaikan salam juga buat Emak, mas. Assalamualaikum."
Aku berlalu, menyeret langkahku menuju tempatku memarkirkan motorku. Pikiranku kacau. Entah bisa membawa motorku atau tidak. Takut terjadi hal yang buruk.
__ADS_1
Ayu! Mungkinkah Ayu si dokter wanita itu yang pernah membantuku melahirkan Zivanna? Tidak mungkin!
Bersambung .....