Benih Pria Lain Di Rahimku

Benih Pria Lain Di Rahimku
Bertemu Risa


__ADS_3

Benih Pria Lain Di Rahimku


(PoV Nandi)


Keesokan harinya aku berangkat lebih pagi dari biasanya. Ibuku sampai terheran melihat tingkahku yang tak biasa ini. Padahal ini adalah hari libur kerjaku. Karena Ayu seorang dokter, hampir tidak ada libur untuknya. Palingan hanya bekerja setengah hari saat weekend. Atau disesuaikan dengan jadwal pasien yang ditangani.


"Kamu mau ke mana, Nan? Bukannya hari ini kamu libur, ya?" tanyanya sambil menyajikan sarapan untukku.


Hari ini aku akan mengantar Ayu ke tempat kerjanya. Aku berdoa agar kecanggungan yang terjadi semalam sudah sirna. Saatnya meyakinkan diri, bahwa yang kurasakan kini adalah cinta. Jantungku selalu berdegup dengan cepat setelah bertemu dengannta. Gelora asmara yang pernah menggebu dulu, kini seakan hadir kembali dalam kalbuku. Rasa yang lebih sempurna dari yang pernah kurasakan dulu.


Aku membunyikan klakson setelah sampai di depan rumahnya. Aku pun lantas turun dari mobil. Tidak sopan rasanya jika membawa anak orang tanpa meminta izin kedua orang tuanya. Tak lama kemudian Ayu muncul dari dalam.


"Yuk, berangkat," ucap Ayu. Pagi itu dia terlihat sangat cantik sama seperti biasanya. Aku sempat terpana dengan kecantikannya. Tetapi, kemudian segera kutundukkan pandanganku agar syetan tak menggodaku. Kami masih belum menjadi mahram bagi satu sama lain.


"Aku mau ketemu dulu sama orang tuamu, boleh?" tanyaku meminta persetujuan dari Ayu.


"Boleh. Tapi untuk apa, Nan?" balasnya terlihat bingung.


"Aku cuma mau ketemu dan meminta izin mengantarmu pergi ke tempat kerja." Aku pun menjelaskan tujuanku untuk menemui kedua orang tuanya.


"Oh gitu. Kirain apa. Yaudah yuk masuk, kebetulan Bapak sama Ibu lagi ngeteh di ruang keluarga," ucapnya seraya menuntun langkahku memasuki rumahnya. Tampak sebuah kelegaan dari sorot matanya.


"Assalamu'alaikum," ucapku dan Ayu bersamaan.


"Waalaikumussalam," sahut keduanya secara bersamaan juga


"Loh, Ayu. Tadi katanya mau berangkat, kok sekarang balik lagi, Nak. Terus dia siapa?" Ibu Ayu langsung mencecar putrinya dengan pertanyaan.


Beliau pasti bingung kenapa Ayu masuk lagi ke dalam rumah padahal dia baru saja berpamitan dengan mereka tadi.

__ADS_1


"Ini, bu. Saya Nandi temannya Ayu. Saya hari ini mau mengantar Ayu ke tempat kerja. Bolehkah?" ucapku mengungkapkan maksudku menemui mereka.


Aku dan Ayu sudah duduk di sofa berhadapan dengan mereka. Mereka berdua tampak saling pandang. Ayah Ayu terlihat menatapku cukup lama. Aku jadi deg-degan dibuatnya.


"Oalah, tak kira ada apa toh. Boleh, Nak. Terima Kasih sudah meminta izin pada kami." Kali ini ayahnya yang menjawab. Mereka ternyata seramah ini menyambutku, ini awal yang baik. Tapi, bagaimana dengan status dudaku. Apakah mereka bisa menerimanya jika suatu saat aku mau meminang putrinya. Ah, lebih baik kupikirkan hal itu nanti saja. Yang penting saat ini adalah izin untuk mengantar Ayu ke rumah sakit tempatnya bekerja.


"Baik, pak, bu. Kami berangkat dulu. Takut Ayu terlambat nanti. Assalamualaikum." Aku berpamitan seraya mencium tangan mereka. Lalu, dengan langkah pasti kami keluar dan masuk ke mobil. Aku melajukan mobilku dengan kecepatan sedang.


***


Sesampainya di rumah sakit aku mengobrol ringan dengan Ayu sebentar di taman rumah sakit. Sambil menikmati sarapan. Kami membeli roti tadi di kantin rumah sakit. Saat tengah asyik mengobrol aku dikejutkan dengan kehadiran Risa. Tiba-tiba saja sudah ada di depanku.


Kilat matanya seolah memancarkan kemarahan. Cemburu lebih tepatnya. Aku jadi salah tingkah. Kucoba menjawab setiap pertanyaan darinya dengan tenang. Jelas tenang. Karena saat ini kami sudah bukan siapa-siapa. Sudah resmi bercerai. Tidak ada yang bisa melarang aku mau dekat dengan siapapun.


Aku melirik Ayu, sepertinya dia begitu tenang menjawab pertanyaan Risa. Aku tahu Risa masih terkadang bersikap kekanakan. Maklum, usianya memang lebih muda lima tahun dariku. Akhirnya, Risa pun pamit pulang setelah mobil jemputannya tiba.


"Nanti sepulang kerja kita makan malam bersama, bisakah?" ucapku.


"Bisa."


"Baiklah. Nanti jam berapa kamu pulang kabari aku, ya."


"Oke."


***


Malam tiba, pukul tujuh aku sudah stand by di depan rumah sakit. Ayu bilang sebentar lagi akan pulang kerja. Akupun bersiap, tidak mau membuat Ayu menunggu. Lebih baik akulah yang menunggu.


"Mau makan apa, Yu?" tanyaku begitu melajukan mobil dari parkiran. Motor Ayu sendiri sudah dibawa pulang oleh Reno, adik laki-lakinya.

__ADS_1


"Hmm. Apa ya. Mikir dulu deh." Ayu terdiam sejenak. Terlihat memikirkan sesuatu.


"Aku kok tiba-tiba pengen makan nasi kucing, Nan. Kita ke angkringan aja yuk," ucapnya sumringah. Lesung pipinya tercetak jelas saat dia tersenyum


"Oke, siap." Segera kuturuti permintaannya.


'Sesederhana itu seleranya,'ucapku dalam hati. Aku semakin dibuat kagum dengan sikap sederhananyam Kukira dia hanya mau makan di restoran mahal. Mengingat dirinya yang berprofesi sebagai dokter. Bisa saja gengsi jika makan di angkringan seperti itu. Tapi ternyata aku salah.


Sebagai lelaki, tentu saja aku ingin memberi yang terbaik untuk seseorang yang disukai. Aku tadinya berniat mengajaknya makan di restoran. Ah, mungkin kusimpan untuk lain kali saja. Masih banyak kesempatan di lain hari, pikirku.


"Di depan kayaknya ada warung angkringan, Yu. Kamu nggak apa-apa nih makan di sana?" ucapku ragu dan hati-hati. Takut jika akan menyinggung perasaannya.


"Nggak apa-apa lah. Lagian aku sudah sering makan di sana. Sudah langganan. Tempatnya juga bersih. Masakannya enak, jadi nggak usah ragu lagi, Nan," ucap Ayu panjang lebar.


Senyum manisnya tak lepas dari wajah ayunya. Melihatnya berbicara saja aku sudah merasa bahagia. Tidak ingin berkedip apalagi memalingkan pandangan.


***


Sejak saat itu, hubunganku dengan Ayu semakin dekat. Meski tidak ada kata cinta yang terucap. Aku maupun Ayu yakin kalau memiliki perasaan yang sama. Perhatian-perhatian kecil tak luput ia berikan di sela-sela kesibukannya. Begitupun denganku.


Bersyukur, orang tuanya tak mempermasalahkan statusku yang seorang duda. Bagi mereka, asalkan putrinya bahagia saja sudah cukup. Bahagia dengan pilihannya lebih baik.


Hari minggu itu, aku merencanakan acara lamaran. Aku akan pergi ke rumah Ayu bersama Ibu dan juga pamanku untuk membicarakan perihal keseriusan hubungan kami. Dan sekaligus merencanakan pernikahan.


Aku sengaja selama ini hanya berpegang teguh pada komitmen. Tidak pacaran, kami hanya menjalani ini seperti air mengalir. Hingga suatu titik aku sudah merasa yakin, bahwa Ayu adalah pilihan hatiku. Akupun tak ingin berlama-lama lagi untuk menghalalkannya.


Setelah aku bersiap, aku keluar dari kamar dan terperenyak. Siapa sangka Risa tengah duduk di ruang tamu rumahku. Aku bahkan tidak tahu kapan dia sampai. Sekian lama aku tak pernah tahu kabar terbarunya. Kini dia ada di depanku. Mau apa lagi dia, pikirku. Aku Pun menghampirinya. Dengan raut wajah yang kubuat setenang mungkin.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2