Benih Pria Lain Di Rahimku

Benih Pria Lain Di Rahimku
Risa Pingsan


__ADS_3

Benih Pria Lain Di Rahimku


Pov Nandi


Aku menemui Risa yang tengah duduk di sofa ruang tamu. Menggendong putrinya yang mungkin baru berusia enam bulan itu. Wajahnya teramat sangat mirip dengan Anova. Membuat diri ini mendadak dilanda rindu pada buah hatiku yang sudah berada di syurga-Nya. Hanya dia satu-satunya kenangan yang tersisa bagiku.


Aku menanyakan namanya lalu memintanya untuk dapat kugendong. Aku jadi rindu Anova, mendiang putriku. Namanya Zivanna Aulia, nama yang sungguh cantik. Risa sangat pandai mencari nama yang cantik dan bermakna itu.


Lantas aku pun menanyakan tujuan Risa datang ke rumahku. Dia tertunduk, mengucapkan kata maaf yang seharusnya sejak dulu diucapkan. Memohon maafku saat ini. Aku pun segera memaafkannya. Selain karena aku juga sudah memaafkannya lebih dulu jauh sebelum hari ini tiba. Kemarahanku sudah sirna sejak lama.


Gurat penyesalan tergambar jelas di wajahnya. Aku tahu hari ini pasti datang. Risa pasti akan menyesali segalanya. Syukurlah, dia sudah sadar dan menyesal akan perbuatannya dulu. Semoga dia bisa berubah menjadi lebih baik lagi. Aku pun sudah dengan tulus ikhlas memaafkannya. Tidak ada lagi rasanya yang perlu dibahas dari masa laluku bersamanya.


Juga tidak pernah menyimpan dendam dan kebencian dalam hati. Hanya menimbun penyakit hati. Aku maupun Risa akan meraih kebahagiaan dengan caranya sendiri.


Saat tengah berbincang ringan, gawaiku berdering. Ayu menelponku. Aku langsung menjawabnya dengan senyum terkembang. Risa terheran melihatku. Sesumringah itu hanya menerima telepon.


Seusai menelepon, Risa berpamit untuk pulang. Aku dan Emak pun segera bersiap untuk pergi. Aku tidak ingin sampai terlambat di hari yang sangat penting ini.


***


"Jadi, kapan rencana kalian akan menikah?" tanya Pak Abdi, Ayah Ayu. Langsung to the point perihal kelanjutan hubungan mereka menuju jenjang yang lebih serius.


"Kalau saya terserah sama Ayu saja, Pak. Jika Ayu sudah siap maka saya akan segerakan untuk menikahinya," ucapku yakin seraya menatap Ayu yang menunduk salah tingkah.


"Ayu, gimana nak? Kamu sudah siap?" tanya Bu Ida, istri pak Abdi itu.

__ADS_1


Ayu hanya mengangguk malu-malu. Aku jadi gemas dengan tingkahnya. Lucu. Di usianya yang sudah matang itu masih bersikap malu-malu saja. Ayu, semakin hari aku semakin menyukaimu. Rasanya ingin segera menyuntingmu menjadi istriku.


Beberapa bulan kedekatanku dengannya cukup membuatku yakin ingin meminangnya. Semoga dirinyalah pelabuhanku yang terakhir. Dan cukup satu kali saja aku gagal berumah tangga. Berharap pernikahan keduaku akan langgeng hingga maut memisahkan kami.


"Nanti kita cari hari yang bagus untuk pernikahan kalian, ya " ucap paman Imam, adik ibuku. Beliaulah yang menggantikan peran almarhum ayahku untuk mewakiliku dalam menyampaikan niatku untuk melamar Ayu.


"Baik, nanti kalau sudah dapat hari bagusnya, kita segera menyiapkan segala keperluan untuk acara pernikahan kalian," ucap Pak Abdi kemudian.


"Terimakasih, Yu. Sudah mau jadi istriku," ucapku pada Ayu. Ia mendongak ke arahku. Menatapku penuh arti. Kilat cinta terpancar jelas dari netranya. Bukan cinta yang seperti baru tumbuh, melainkan sebuah rasa yang telah bersemayam lama.


Mungkinkah Ayu telah memiliki perasaan itu sebelumnya. Tapi, sejak kapan? Ataukah diri yg kurang peka terhadap perasaannya dulu. Hingga ia memendam segalanya dalam diam. Air mata haru mengalir begitu saja di pelupuk matanya. Segera ia menyekanya dengan ujung khimar yang ia pakai.


Suasana saat ini begitu mengharukan namun sarat dengan kebahagiaan.


***


Selama hampir sebulan, kami disibukkan dengan menyiapkan pernikahan kami. Sempat terjadi keributan kecil. Hanya karena masalah sepele sebenarnya. Dan syukurnya kami masih bisa mengatasinya. Baik aku maupun Ayu tidak pernah suka jika terlalu lama bertengkar kecil.


Mungkin inilah godaannya pasangan yang akan menikah. Bukankah cobaan itu ada demi menguji seberapa besar kadar cinta dari pasangan pengantin. Aku hanya menikmati proses yang akan membawaku menuju kebahagiaan yang abadi.


***


Sebulan telah berlalu sangat cepat, acara pernikahanku pun tiba. Resepsi itu diselenggarakan di rumah mempelai wanita. Pagi itu aku sudah memakai beskap putih dengan payet berwarna senada. Aku akan bersiap beserta rombongan keluarga besarku serta tetangga untuk pergi ke rumah Ayu. Melakukan prosesi ijab kabul dan resepsi sederhana di sana.


Aku berdoa sepanjang perjalanan, semoga hari ini berjalan lancar tanpa ada suatu halangan. Tanganku dingin dan berkeringat. Aku begitu grogi saat ini. Menikah untuk yang kedua kalinya bahkan tak pernah kubayangkan sebelumnya. Tapi itu terjadi berkat campur tangan takdir. Aku hanya menjalaninya dengan pasrah.

__ADS_1


Perjalanan selama hampir empat puluh lima menit terasa sangatlah lama bagiku. Sesampainya di rumah Ayu, Gapura dengan hiasan maple putih menyambut kedatanganku. Tenda rumbai dengan plafon warna warni terpasang indah di sana. Resepsi kami sangatlah meriah untuk seorang duda sepertiku.


Di sebelah kiri ada dekorasi pelaminan yang berukuran enam meter dengan pot-pot berisi bunga segar di sekitarnya, menebarkan harum semerbak yang memanjakan indra penciuman.


Akad nikah akan segera dimulai. Aku sudah duduk berhadapan dengan pak penghulu. Rasa nervous semakin menjadi-jadi. Jantungku berdebar tak karuan sejak tadi.


Beliau menanyakan apakah aku sudah siap memulai prosesi akad nikah. Dengan mantap aku menjawab siap, meski rasa grogi masih terasa. Ayu duduk di sampingku. Mengenakan kebaya berwarna putih tulang dengan payet jepang yang menghias penuh kebayanya.


Riasan natural look dengan adat sunda siger hijab membuat Ayu semakin menawan.


"Saya nikahkan dan kawinkan saudara Nandi Sutanto bin Akbar Sutanto dengan saudari Ayu Nidyaswari binti Abdi Purnomo dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan emas seberat 10 gram. Dibayar tunai!"


"Saya terima nikah dan kawinnya Ayu Nidyaswari binti Abdi Purnomo dengan mas kawin tersebut, tunai!" Dalam sekali tarikan nafas. Dengan suara lantang ku ucap ikrar suci pernikahan.


"SAH!" suara para saksi riuh ramai. Bahagia, Ayu mencium tanganku. Lalu akupun mencium mesra keningnya. Setelah itu, kami saling memakaikan cincin di jemari. Perjuangan kami tak sia-sia. Manis pada akhirnya.


Acara berlanjut dengan pembacaan doa-doa. Setelah itu sepasang mempelai di tuntun untuk duduk bersanding di singgasana pelaminan. Para tamu yang datang akan bergantian menyalami kami. Setelah menikmati sajian prasmanan di pesta ini.


Suasana ceria tiba-tiba berubah. Sebuah jeritan membuyarkan keriuhan pesta.


"Ada orang pingsan!" teriak salah satu tamu wanita.


Tamu yang lainnya pun berhamburan mencari tahu. Aku kebingungan haruskah aku kesana untuk melihat yang tengah terjadi. Tapi, tangan Ayu menahanku.


Seorang teman menghampiriku, memberitahuku yang sedang terjadi saat ini. Aku terkaget. Bagaimana mungkin? Kenapa bisa begini? Dan apa yang harus dilakukan sekarang?

__ADS_1


'Risa pingsan!'


__ADS_2