Benih Pria Lain Di Rahimku

Benih Pria Lain Di Rahimku
Cinta Yang Baru


__ADS_3

(PoV Nandi)


Semenjak perjumpaanku dengan Ayu tempo hari di rumah sakit. Entah mengapa aku selalu memikirkannya setiap waktu. Dulu kami memang pernacberteman dekat. Ya, kami hanya berteman, tidak lebih dari itu. Apalagi sampai memiliki perasaan lain. Tidak ada. Murni sebatas sebuah pertemanan.


Malam ini, kembali kuulang memori masa lampauku bersama Ayu. Saat acara persami. Pernah tercipta kenangan yang tak terlupakan antara aku dan Ayu. Ah, aku sampai senyum-senyum sendiri mengingatnya. Seolah bernostalgia lagi dengan masa yang sudah berlalu, dan aku sangat menikmatinya. Aku bahagia mengingat masa-masa mudaku itu.


Kupetik senar gitar yang kupinjam dari salah satu temanku. Ayu mengiringi petikan gitarku dengan suaranya yang merdu. Nyanyiannya begitu indah didengar. Suaranya begitu lembut dan mendayu di telinga. Membuat siapa saja pasti akan terkagum. Pun juga aku. Sempat ada desiran aneh yang menggetarkan sanubariku saat mendengar alunan lagunya. Akan tetapi, dulu aku cukup sadar diri dan tidak ingin bermimpi terlalu tinggi untuk mendapatkan cinta dari primadona sekolah seperti Ayu.


Aku sungguh tak layak untuknya. Dia berasal dari keluarga yang berada, sementara aku kebalikannya. Hingga aku begitu takut dan tak pernah berharap untuk lebih dekat dengannya


Semua yang hadir di sana pun seakan terhanyut menikmati suara Ayu yang menyapa lembu5 indra pendengaran mereka. Menjadikan memori indah di malam terakhir perkemahan itu. Menyimpannya dalam ingatan. Begitupun denganku. Aku hanya memilih menyimpan dan menepis rasa yang sempat tumbuh tanpa ingin menjadikannya kenyataan. Sekali lagi, Aku sadar diri ini siapa.


Ayu merupakan idola di sekolah tempatku menuntut ilmu. Wajahnya terkenal imut dengan lesung pipi yang menghiasi kedua pipinya. Kulitnya putih bersih bak porselen. Sampai kini pun wajahnya tetap tidak berubah di usianya yang berada di akhir dua puluhan.


Baby face aku menyebutnya. Sedari dulu hingga sekarang Ayu masih sama. Ah, jika dapat diandaikan, Ayu mirip sekali dengan aktris korea Jang Na Ra, yang membintangi drama VIP. Benar, hanya bedanya Ayu memiliki lesung pipi.


Jantungku jadi berdebar. Apa yang kurasakan kini. Apakah aku jatuh cinta lagi? Pada Ayu? Ah, mana bisa secepat itu di bilang cinta. Bisa saja aku salah. Tapi, entah mengapa ada sudut hatiku yang masih merasa khawatir. Takut Ayu salah paham dengan yang dia lihat di rumah sakit.


'Aku harus menemuinya lagi.' ucapku meyakinkan hati.


***


Aku menyusuri lorong rumah sakit untuk mencari ruangan Ayu. Aku di arahkan oleh suster jaga mencari ruangannya. Tidak lama aku sampai,di ruangannya. Sempat ragu untuk masuk ke dalam. Tapi, kucoba memberanikan diri.


Saat aku hendak mengetuk pintu. Ternyata pintu telah dibuka dari dalam. Dan sosok Ayu tampak terkejut melihatku berada di depannya, dia pasti tak mengira sama sekali dengan kehadiranku di sini.


"Nandi? Kok kamu ada disini?" tanyanya keheranan. Ia tampak mengayunkan kedua alisnya.


"I-Itu... Aku... hanya mau menemui kamu," ucapku begitu gugup. Jantungku berpacu lebih cepat. Apa ini? Apakah perasaan yang dulu kupendam kini muncul lagi.


"Ada apa Nan? Kamu sakit?" Ia kembali menautkan kedua alisnya. Mungkin tak mengerti dengan maksud kedatanganku menemuinya.

__ADS_1


"Itu ... Ooh iya kamu mau pulang sekarang?" tanyaku mengalihkan pandangan. Tak sanggup menatap matanya.


Aku memang langsung meluncur ke rumah sakit setelah jam pulang kerja. Demi bisa menemui Ayu.


"Oh, itu. Iya aku mau pulang, nih. Kenapa?"


"Mau pulang bareng sama aku?" ajakku. Duh, kenapa aku jadi begini sih. Gugup tak karuan.


"Tapi... apa nggak salah, Nan? Aku nggak mau loh dibilang pelakor," ucapnya seakan menggodaku. Sontak aku tersadar. Dia pasti menganggapku masih sebagai lelaki beristri. Aku terdiam sejenak.


"Aku duluan ya, Nan?" ucapnya seraya mengambil langkah kecil.


"Tu-tunggu Ayu!" Aku mencegahnya pergi.


Dia menghentikan langkahnya. Menoleh ke arahku.


"Wanita itu ... mantan istriku. Kami sudah bercerai beberapa bulan yang lalu."


"Ceritanya panjang, Yu. Izinkan aku mengantarmu aku akan menceritakan segalanya," ucapku memohon waktunya yang pasti sangat berharga itu.


"Baiklah."


Kami pun berjalan beriringan. Obrolan ringan pun menyertai langkah kami menuju tempat memarkirkan mobil.


"Motorku gimana?" Ayu terlihat bingung.


"Ditinggal saja. Aman kan disini? Kamu ikut mobilku." Ia mengangguk. Kubukakan pintu di samping kemudi untuknya. Mempersilahkannya masuk.


Sepanjang perjalanan, tanpa dikurangi sedikitpun aku menceritakan segala tentang prahara rumah tangga yang terjadi kepadaku. Hingga akhirnya berakhir pada perceraian. Cerita itu mengalir begitu saja. Ayu hanya menyimak dengan seksama. Aku bercerita seperti ini karena hanya tidak mau dia salah menilaiku.


"Lalu, kenapa malam itu kamu bisa disana dan mengadzani bayi itu, Nan? Apa kamu tahu kalau mantan istrimu sedang dalam proses melahirkan?" Ayu akhirnya menanyakan kejadian kemarin malam. Aku sudah menduganya. Aku menggelengkan kepala.

__ADS_1


"Tidak. Aku sudah tidak tahu menahu kabarnya setelah bercerai," ucapku menjelaskan. "Kemarin setelah kamu pergi dengan buru-buru aku ikuti langkahmu, dan ternyata melihat Uwaknya mantan istriku ada di sana."


"Terus kamu diminta untuk mengadzani oleh mereka?"


"Nggak. Aku melakukannya dengan sukarela. Melihat mereka kebingungan karena tidak ada siapa-siapa lagi," ucapku menegaskan.


"Kamu... masih punya perasaankah terhadap bu Risa?" Pertanyaanya membuatku refleks menginjak pedal rem. Kepalanya sedikit terantuk ke depan hampir menghantam dashboard mobil.


"Maaf!" ucapku merasa tak enak. "Kamu nggak apa-apa kan?" tanyaku khawatir.


"Nggak apa-apa, Nan. Lagi, kenapa tiba-tiba ngerem mendadak gitu."


"Itu... maafkan aku, Yu. Aku nggak sengaja," ucapku dengan rasa bersalah yang membuncah. "Menurutmu, bagaimana jika berada di posisiku? Masihkah tersisa sebuah perasaan untuk seseorang yang sudah berkhianat?"


"Maaf, Nan. Kalau pertanyaanku mengorek luka masa lalumu lagi. Sekali lagi aku minta maaf." Ayu merasa bersalah melihat perubahan wajahku.


Aku kembali melajukan mobilku. Sisa perjalanan kami hanya kesunyian yang menemani. Tidak ada lagi obrolan yang berarti. Suasana berubah menjadi canggung. Hingga Ayu memberi instruksi untuk menghentikan mobil. Tak terasa ternyata sudah sampai di rumahnya.


"Ayu...," ucapku sebelum dia turun dari mobil. Ia menoleh.


"Besok, aku antar kamu berangkat ke rumah sakit ya?"


"Oke. Maaf soal yang tadi ya, Nan."


"Iya, aku juga minta maaf. Bukan salah kamu sepenuhnya."


Dia pun membuka pintu mobil lalu keluar. Dia melambaikan tangannya seraya memberi senyum manisnya, aku membalasnya. Aku memutar balik arah mobil ku untuk menuju ke rumah. Aku memperhatikannya hingga dirinya sudah masuk ke rumah.


Kenapa hati ini jadi cenat-cenut seperti ABG saja yang baru saja mengenal cinta. Sadarlah, Nan. Statusmu mungkin saja mempersulit jalanmu. Setidaknya yakinkan dirimu dulu, jika memang memilih melabuhkan hati padanya. Lalu, urusan dengan orang tua Ayu bisa menyusul kemudian. Kukobarkan sebuah semangat baru untuk benih cintaku yang baru saja kusemai.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2