![Bernapas Di Dua Alam [Sedang Revisi ]](https://asset.asean.biz.id/bernapas-di-dua-alam--sedang-revisi--.webp)
Pagi telah tiba, aku pun terbangun dari tidurku, aku melihat mama, ka' Adit, dan ka'Haura sudah memakai baju yang rapih, dan ka' Adit pun sudah membawa kursi roda bersamanya. awalnya aku bingung, tetapi pada saat aku melihat polisi yang berada di depan pintu ruangan tempat ku di rawat, aku ingat sekarang waktunya untuk aku di mintai keterangan tentang kasus Tom, Bram dan Rahma. Aku akan di bawa ke kantor polisi menggunakan kursi roda.
"pelan pelan"
mama membantuku untuk duduk ke atas kursi roda.
"sini mah aku bantu"
ka Haura membantu mama untuk mendudukkan aku ke atas kursi roda.
"biar aku aja yang bawa si Airin mah"
Ka' Adit langsung mendorong kursi roda yang ku duduki. Dia mendorongku dan membawa ku menuju depan pintu masuk rumah sakit. Sesampainya kami di depan pintu masuk rumah sakit, kami langsung di sambut oleh para wartawan yang kepo dengan Tragedi Bram dan Rahma.
__ADS_1
"maaf ya tolong kasih jalan."
scurity meminta wartawan agar mau membukakan jalan untuk kami, tetapi mereka tidak mendengarkan scurity, mereka tetap bertanya-tanya tentang kejadian itu.
"Mas... mbak.... mohon maaf ya, kami tidak bisa meladeni kalian, berikan kami jalan"
Mama berbicara dengan para wartawan dengan suara yang keras, mama juga ikut bingung bagaimana cara melewati para wartawan. Aku hanya menundukkan kepala dan tidak mau melihat para wartawan, aku merasa malu.
"wiu... wiu... wiu..."
"mohon maaf ya"
Hanya itu yang polisi ucapan kepada para wartawan, mereka langsung saling berpegangan tangan untuk membuka jalan ku menuju mobil yang berada lima meter dari pintu masuk rumah sakit. Aku memandangi wajah ka'Adit, ka'Haura dan Mama, mereka merasa lega karena jalan telah terbuka. kami melewati pagar polisi yang sedang menahan para wartawan.
__ADS_1
"Ayo masuk."
setelah lima meter kami berjalan, papa pun sudah stand by, papa pun turun dan membantu ka' Adit memasukkan aku kedalam mobil, sedangkan mama melipat kursi roda dan meletakkannya ke dalam bagasi mobil. setelah aku masuk kedalam mobil aku pun langsung bersandar ke pundak ka Haura, dia sudah lebih awal masuk dan meletakkan barang barang yang ada ke kursi belakang.
"udah pada beres kan? masuk mah, kita berangkat."
papa memastikan keadaan, Mama langsung masuk setelah memastikan tidak ada lagi yang tertinggal, ka' Adit duduk di bangku depan bersama papa. Mobil kami di kelilingi oleh polisi yang hendak melancarkan perjalanan kami menuju kantor polisi, sedangkan wartawan masih saja mencoba untuk menerobos pertahanan polisi. dengan perlahan aku memang ke arah kerumunan wartawan melalui jendela mobil, aku bingung dan berpikir bahwa kasus yang aku alami ini adalah kasus yang sangat serius. Mobil yang kami kendarai pun langsung pergi dan meninggalkan kerumunan wartawan tadi, polisi pun ikut mengawasi kami dari depan dan belakang mobil, mama menyelimuti ku.
"Pejamkan matamu,maka kamu bisa dengan mudah masuk ke dunia ghaib."
Aku mendengar suara bisikan Tom di telingaku, dia menyuruh untuk memejamkan mata, tetapi aku tidak mau mengunjungi dunia ghaib itu lagi.
"Aku tau apa yang sedang kamu pikirkan, jangan takut ada pesan yang kami sampaikan kepadamu."
__ADS_1
Awalnya aku ragu, tetapi aku juga ingin protes kepada mereka, karena mereka aku yang harus berurusan dengan pihak yang berwajib.