Bernapas Di Dua Alam [Sedang Revisi ]

Bernapas Di Dua Alam [Sedang Revisi ]
Chapter.15 " Eyang Darmo 2 "


__ADS_3

" Tok Tok Tok ".


" Rin, boleh papa masuk? "


papa mengetuk pintu dan bertanya kepada ku apakah dia boleh masuk. Aku lalu menjawab.


" Boleh kok pah ! "


Papa membuka pintu kamar ku dan di belakangnya ada Kakek Kakek berbaju hitam memakai belangkon dan membawa tas yang sangat besar.


" Maaf pa, kakek itu siapa? "


Aku langsung bertanya setelah melihat kakek itu.


" Oh ini temen Oppa mu dulu, panggil aja eyang Darmo! "


jawab papa sambil tersenyum.


kakek itu tersenyum kepadaku, dan membuka tasnya yang isinya terlihat asing dimata ku.


" Eyang ini akan memeriksa kondisi mu "


kata papa.


" Emangnya Airin kenapa pa? Airin sehat sehat aja kok! "


Aku menjawab dengan ekspresi wajah yang kebingungan.


" Nak kamu itu sudah beberapa kali kerasukan dan di ganggu oleh makhluk halus, itu yang kamu bilang tidak apa apa ? "


Dengan kedua tangannya papa menggerakkan kedua pundak ku dan membuat kami saling berhadapan. Papa mengatakannya dengan wajah cemas.


Aku menunduk setelah mendengar kata papa, lalu aku pun memandangi eyang Darmo yang menutupi tembok kamar ku dengan kain putih. Eyang Darmo di bantu oleh dua anak muda yang mungkin mereka itu adalah anak buah dari eyang, soalnya mereka menggunakan baju yang sama seperti eyang Darmo.

__ADS_1


Tak hanya itu, eyang juga meletakkan dupa di setiap sudut kamar tidur ku.


" Tuan Ruangan sudah selesai "


kata Bik Tutik dari balik pintu.


" Ruangan apa pa ? "


Aku kembali bertanya kepada papa.


" Sudahlah, kamu ikuti saja apa yang di minta eyang Darmo "


Jawab papa dengan singkat. Papa pun meninggalkan ku di kamar ku yang sudah di tutupi kain putih dan ada dupa di setiap sudutnya.


" Eyang, kami pamit keluar ya "


Dua anak muda tadi keluar setelah selesai membantu eyang menutupi kamar ku dengan kain putih. Eyang Darmo menganggukkan kepalanya untuk merespon dua pemuda tadi. Dia memejamkan matanya untuk menerawang ku.


kata eyang Darmo sambil tersenyum.


" Saya nggak ngerti maksud eyang? "


Aku bertanya sambil mengerutkan kening ku, aku tidak mengerti dengan semua ini.


" kamu di titipkan kemampuan untuk bernafas di dua alam oleh opa mu, Eyang tau kalau kamu bisa melihat makhluk halus, Tetapi ada sedikit kesalahan yang terjadi pada mata batin mu, Maka dari itu eyang datang untuk memperbaikinya. "


Jawabnya lagi.


" kalau boleh tau kesalahan apa eyang? "


Tanya ku lagi.


" Mata batin mu di tutupi oleh sosok yang sering di juluki dengan panggilan ibu, dia membuat mata batin mu tidak terbuka dengan sempurna. "

__ADS_1


Jawab eyang Darmo.


" Biarkan saja eyang!! jangan buka mata batin ku lebih lebar lagi!! kalau bisa tutup saja mata batin ku."


Aku mencegahnya untuk membuka lebar mata batin ku.


" Tidak bisa nak, coba kamu ingat ingat. Dulu kamu pernah meminta opa mu untuk mewariskan kemampuannya kepadamu, karena kamu ingin bisa melihat makhluk halus seperti opa mu. "


Jawabnya lagi.


Aku ingat, ternyata dulu aku pernah meminta opa untuk mewariskan kemampuannya kepadaku, Opa ku juga para normal, aku lupa menceritakannya kepada kalian. Dulu saat aku kecil aku tinggal bersama opa. Opa sering mengajakku kerumah pasiennya yang sedang kerasukan. Aku pun takjub melihat aksi Opa ketika mengobati pasiennya, dan akhirnya aku meminta kepadanya untuk mewariskan kemampuannya kepada ku.


" Dari mana Eyang tau kalau aku pernah meminta opa untuk mewariskan kemampuannya kepada ku? "


Aku turun dari ranjang ku dan mendekati eyang untuk bertanya kepadanya.


" Opa mu ada di sini, tapi kamu masih belum bisa melihatnya. Opa mu yang menceritakan semuanya kepada eyang? "


Jawab Eyang Darmo.


" Opa.. aku kangen opa "


Aku menunduk dan langsung menangis ketika Eyang memberitahu aku tentang kalau opa ternyata selalu ada di sisiku.


" Oke eyang! Aku harus apa untuk membuka lebar mata batin ku? Aku pingin ketemu Opa, Eyang! "


Aku tetap menunduk sambil bertanya.


" Pakai lah baju ini, dan datang lah ke ruangan piano mu! "


Eyang Darmo menyodorkan pakaian berwarna putih, Aku pun mengambil baju itu.


Setelah memberikan aku baju putih, Eyang Darmo pun meninggalkan ku sendiri. Aku langsung membentang baju yang di berikan olehnya di atas kasur, ternyata Itu adalah baju kebaya putih. aku pun segera menyalin bajuku dan segera menuju ruang piano sesuai instruksi dari eyang Darmo.

__ADS_1


__ADS_2