![Bernapas Di Dua Alam [Sedang Revisi ]](https://asset.asean.biz.id/bernapas-di-dua-alam--sedang-revisi--.webp)
" Toni, Bejo, tolong angkat anak ini! "
Eyang Darmo memerintahkan dua orang orang pemain alat musik untuk mengangkat ku ke dalam kamar ku.
" Mbok mirnah dampingi merek "
Eyang Darmo menyuruh wanita paruh baya itu untuk mendampingi Toni dan Bejo mengantar ku menuju kamar.
" Jadi Ayah saya mewariskan kemampuannya kepada anak saya pak? "
Tanya mama setelah keluar dari paviliun.
" Ya, Ayah mu mewariskan kemampuannya atas permintaan anak mu sendiri. "
jawab Eyang Darmo.
" Mari kita duduk dulu! "
Papa mengajak eyang Darmo untuk duduk di sofa, mama pun duduk di sampingnya.
" Kenapa Ayah mertua saya tidak pernah cerita tentang ini? "
Tanya papa kepada eyang Darmo.
" Karena Almarhum Ayah kalian tau, kalau dia menceritakan semuanya kepada kalian pasti kalian tidak akan mengizinkannya. "
jawab Eyang Darmo.
" Kalau boleh tau, Apakah bapak mengetahui pada usia berapa Airin meminta Opanya untuk mewariskan ilmunya kepada Airin? "
Tanya mama.
" Airin meminta Kepada Opanya pada usia sepuluh tahun. "
__ADS_1
Jawab Eyang Darmo.
" Astaga Ayah, kenapa ayah menuruti permintaan anak usia sepuluh tahun? kenapa bukan aku saja yang Ayah buka mata batinnya? "
Mama menangis kecewa. Papa memeluk mama untuk menenangkannya dan bertanya kepada eyang Darmo.
" Pak apakah bisa bapak tutup saja mata batin anak saya itu pak? itu sangat berbahaya! "
" Itu Tidak bisa kita lakukan, karena ini adalah sebuah wasit keturunan. Sebenarnya Ayah kalian sudah merencanakan ini. Pada awalnya kemampuan ini ingin di wariskan kepada mu Ajeng, tetapi kamu tidak mau dan jika kamu mengingatnya, kamu juga pernah meminta Ayah mu untuk mewariskan kemampuannya kepada anakmu saja. "
Eyang Darmo menjawab pertanyaan papa dan menjelaskan permintaan mama di masa lampau.
Mama masih menangis, setelah mendengar penjelasan dari eyang Darmo manapun takut papa akan marah kepadanya, dan perlahan mama pun menatap papa.
" Papa gak marah kok mah! "
Papa tau arti dari tatapan yang mama berikan. Mama tersenyum mendengar pertanyaan papa.
" Kalau begitu buka mata batin saya pak, saya akan menemani anak saya yang mata batinnya terbuka itu, saya akan melihat apa yang dia lihat, untuk itu bukalah mata batin saya pak! "
" Mama apa apaan sih? itu bahaya! biar papa aja yang di buka mata batinnya ma! "
Papa ikut berdiri untuk mencegah mama yang meminta Eyang untuk membuka mata batinnya dan papa meminta agar papa saja yang di buka mata batinnya.
" Kalian berdua tidak usah cemas, anak kalian akan baik baik saja! "
jawab Eyang Darmo.
" Tidak pak! Bapak harus membuka mata batin saya! "
Mama bersikeras ingin membuka mata batinnya.
" Mah, Udah biar papa aja! kan papa kepala keluarga, jadi papa lah yang harus bertanggung jawab atas keluarga ini, menjaga keluarga ini, dan kalau mama membuka mata batin mama dan mama terluka! Papa akan merasa sangat bersalah ma! Sudah lah pak buka mata batin saya saja! "
__ADS_1
Papa juga masih bersikeras ingin membuka mata batin nya.
" Pa, semua ini terjadi karena mama, mama lah awal dari semua ini, jadi mama lah yang harus menemani Airin untuk menghadapi alam gaib. "
Bantah mama.
" Tapi ma? "
" Sudah pa, biarkan aku untuk membuka mata batinku. "
Mama menangis, dan tidak memberi papa kesempatan untuk berbicara lagi.
" Kamu yakin ingin membuka mata batin mu Ajeng? "
Tanya Eyang Darmo.
" Ya pak saya siap! "
Jawab mama.
" Baiklah kalau begitu, kamu harus menerima tantangan apa pun ketika kamu berada di dua alam yang berbeda dan kamu juga bisa melindungi diri dari sosok yang jahat dengan menyanyikan lagu ini! "
Eyang Darmo menyodorkan selembar kertas.
" Bang Bang wetan? "
Tanya mama setelah membuka selembar kertas yang di berikan oleh eyang Darmo tadi.
" Ya, benar! lagu itu adalah lagu tolak bala yang bisa di gunakan untuk melindungi diri dari energi negatif dunia gaib! "
Eyang Darmo menjelaskan kepada mama.
Setelah itu Eyang Darmo pun mendekati mama menyentuh memegang jidatnya sambil komat-kamit, Eyang Darmo membuka mata batin mama, mama terjatuh ke sofa setelah Eyang Darmo selesai membuka mata batinnya. Pada Akhir kalimatnya Eyang Darmo mengucapkan kata.
__ADS_1
" Bernafas lah kamu di dua alam yang berbeda. "