![Bernapas Di Dua Alam [Sedang Revisi ]](https://asset.asean.biz.id/bernapas-di-dua-alam--sedang-revisi--.webp)
Aku menutup mataku dan berniat untuk masuk ke alam yang di huni oleh makhluk gaib. Setelah aku membuka mata, aku sudah berada di dalam alam gaib, aku berdiri tepat menghadap depan gerbang rumah tua.
"puk"
tiba-tiba ada yang menepuk pundak ku dari belakang, dan tanpa berfikir panjang aku langsung membalikkan badan untuk melihat siapa yang menepuk pundak ku.
"Dek, kamu siapa?"
Aku melihat seorang gadis kecil, tingginya sepundak ku. Dia berambut pirang dan juga di sanggul. Warna kulitnya putih. Pupil matanya berwarna biru. Bulu matanya lentik. dia mengenakan long dress berwarna putih.
"Go with me"
Anak itu menarik tangan ku, dia mengajakku berjalan menuju gerbang.
"krek"
Anak itu melepaskan tangan ku dan mendorong gerbang, setelah itu dia pun memegang tanganku lagi, dia membawa ku melewati gerbang dan halaman rumah yang gersang tanpa tanaman. Alam ini terasa sangat sunyi, tidak ada makhluk lain yang berkeliaran selain kami.
"Tok.. Tok.. Tok.."
Anak itu mengetuk pintu rumah.
"krek.."
suara seorang membuka pintu.
"Darada, Airin, silahkan masuk"
ternyata yang membuka pintu tadi adalah Belia, aku dan anak yang di sebutnya Darada pun masuk kedalam rumah, rumah ini normal tidak ada yang menyeramkan dari rumah ini.
pada saat aku masuk, aku melihat ruang tamu dan menoleh ke kanan, ada dua pintu di sebelah kanan, dan di setiap pintu ada foto seseorang yang kurasa foto itu adalah foto pemilik kamar tersebut. Dua pintu di sebelah kiri yang memajang foto Tom, dan pintu satu lagi memanjang foto Belia.
Terakhir tepat di hadapan ku, ada satu pintu yang terlihat berbeda, pintu itu memiliki ukiran yang indah, sedangkan pintu lainnya polos tanpa ukiran, pintu ini juga tidak di panjangkan foto.
"Duduklah di sofa, aku akan pergi memanggil Tom ."
Belia menyuruhku duduk, dan dia pun meninggalkan kami, dia pergi mengetuk pintu yang di dindingnya ada foto tom.
"kenapa kamu nggak duduk dek?"
Aku melihat Darada yang masih berdiri dan menundukkan pandangannya.
"Saya tidak bisa menemani Kaka, saya hanya di perintahkan ibu untuk mengantar Kaka."
__ADS_1
Darada mengangkat pandangannya untuk melihat ke arah ku, dia berbicara dengan logat Asing.
"Terus kamu mau kemana?"
Aku kembali bertanya kepadanya.
Tanpa jawaban dia pun berjalan meninggalkan ku di sofa sendiri.
Tak lama kemudian Tom pun keluar, awalnya aku mengira Belia akan mengetuk semua pintu, ternyata dia hanya mengetuk pintu kamar Tom.
" hai Rin!"
Tom menyapaku, aku merespon nya dengan senyuman, dia melangkah menuju sofa, dia duduk tepat berhadapan dengan ku, sedangkan Belia melangkah menuju pintu yang ku bilang istimewa tadi.
"Tok.. Tok...Tok..."
Belia mengetuk pintu itu tiga kali, lalu dia membuka pintu itu dan masuk kedalamnya.
"Hey Rin, kamu kok masih diam aja? Cerita dong!"
Dengan tersenyum tom mengalihkan pandanganku yang sedang memperhatikan Belia.
"Oh tom, Aku masih bingung kenapa harus aku yang membantu kalian, berikan aku alasan yang kuat."
"Tentang itu hanya ibu yang bisa menjawabnya."
Tom dengan santai menjawab pertanyaan ku.
"kenapa harus ibu?"
Aku bertanya lagi kepadanya.
"karena cuma dia yang tau tentang masalahmu"
Tom kembali menjawab pertanyaan ku dengan santai. Setelah tom menjawab ku, duduk diam di hadapan Tom karena aku sudah enggan untuk bertanya kepadanya, karena jawaban selalu sama, hanya "ibu, ibu dan ibu".
"krek..."
Belia membuka pintu, dia pun memanggil ku.
"Airin kemari, ibu ingin menyampaikan pesan kepadamu."
Setelah Belia memanggil ku aku melihat ke arahnya, lalu aku melihat Tom, lalu Tom pun berkata.
__ADS_1
" Pergi lah ibu sudah menunggu"
Aku langsung berdiri dan melangkahkan menuju pintu yang terlihat istimewa tadi. Setibanya aku di depan pintu, Belia menggenggam tanganku dan membawaku masuk kedalam.
"Waw"
Aku takjub melihat ruangan ini, semuanya terlihat Antik dan unik, kamar ini di isi dengan ranjang pengantin yang di tutupi oleh kelambu putih dan di sekelilingnya ada tirai putih yang menutupi tembok, dan di lantainya bertaburan bunga mawar, di setiap sudut kamar terdapat dupa dan bunga kantil yang di letakkan di dalam wadah emas. Kamar ini adalah kamar ibu, berarti ibu adalah pengantin yang matinya tidak wajar, aku melihat bayangan wanita yang sedang duduk di dalam kelambu.
"Duduklah Airin."
Belia meletakkan bangku di belakang ku, dia menyuruhku duduk lalu dia langsung keluar dari kamar, dia meninggal ku di dalam kamar.
"Airin, saya akan membantumu untuk menghadapi polisi dan masalah lainnya, bukalah matamu dan semua akan kembali normal, kamu pun pulih dari penyakit mu dan tidak akan ada lagi yang mengingat kasus mu, kamu tidak akan berangkat ke kantor polisi."
wanita itu berbicara dari dalam kelambu.
"Sebelum saya membuka mata, tolong berikan saya alasan yang kuat"
Aku meminta kepadanya sebelum aku membuka mataku.
"tentang apa"
Tanya wanita itu dengan singkat.
"kenapa harus saya yang membantu kalian untuk menyelesaikan masalah ?"
Dengan ragu aku bertanya kepadanya.
"kamu akan mendapatkan jawaban itu ketika kamu sudah memecahkan misteri enam, jalani saja jangan banyak bicara"
Dengan nada marah wanita itu menjawab pertanyaan ku
"krek.."
Belia membuka pintu dan mengajakku untuk keluar, tanpa sepatah katapun aku meninggalkan kamar itu bersama Belia, dia mengajakku untuk duduk kembali di sofa.
" Airin ikuti saja perintah ibu, ini demi kebaikan mu"
kata Tom, aku memandangi Belia dan Tom sebelum aku memejamkan mataku.
"yakinlah!!"
Belia tersenyum, dia meyakinkan ku. Aku pun tersenyum kepada mereka berdua dan perlahan aku memejamkan mata.
__ADS_1