Bernapas Di Dua Alam [Sedang Revisi ]

Bernapas Di Dua Alam [Sedang Revisi ]
Chapter.16 " Eyang Darmo 3 "


__ADS_3

" Ting tang Ting tung "


Aku melangkah menuruni anak tangga, aku mendengar suara gamalan dan alat alat musik tradisiona lainnyal yang bisa di gunakan untuk sinden mengiringi lagu sinden.


" krek "


Aku membuka pintu Paviliun yang sering disebut ruangan piano.


" Ikut dengan kami "


Ucap dua gadis yang sudah stand by ketika aku membuka pintu.


Mereka menuntunku menuju bantal besar yang di sekelilingnya di kelilingi oleh lilin, di dekat bantal besar itu ada seorang gadis yang sedang memegang kain berwarna merah. Kami berjalan di atas karpet merah panjang. keluarga ku duduk di samping kanan sedangkan di samping kiri ada panggung kecil yang diisi dengan alat musik tradisional dan para pemainnya, dua wanita mengenakan kebaya hijau dengan rambut di sanggul juga duduk di situ.


" pake selendang ini dulu ya neng "


Kata seorang wanita paruh baya yang ada di dekat bantal besar sambil memakaikan selendang merah itu ke pinggang ku. setalah itu wanita paruh baya itu pergi bersama dua gadis yang mendampingi ku tadi.


" Duduklah Airin! "


Kata Eyang Darmo.


Aku melihat nya yang baru saja datang dari kerumunan para pemain alat musik dan dua wanita penyanyi sinden ditambah wanita paruh baya itu dan dua wanita yang mendampingi ku, total mereka yang hanya sepuluh orang. Lima laki laki dan lima perempuan termasuk Eyang Darmo. Mereka semua mengenakan pakaian adat Jawa.


" Kita mulai ya! "


Eyang Darmo melihat ke arah keluarga ku. Dia duduk tepat di hadapan ku.


" silahkan pak "

__ADS_1


Jawab papa.


Eyang Darmo pun kembali memandang ke arah ku dan suara gamalan pun mulai berbunyi dengan diiringi lagu lagu Jawa.


******Bang-bang wus rahina, bang-bang wus rahina,


Srengengene muncul, muncul, muncul, sunar sumamburat*


Bang-bang wus rahina, bang-bang wus rahina,


Srengengene muncul, muncul, muncul, sunar sumamburat*****


Tiba-tiba badan ku tak terkendali dan bergerak mengikuti alunan musik. Lilin di sekitar ku pun tiba tiba-tiba mati. suara paduan sinden pria dan wanita membuat ku merasa hanyut di bawa oleh arus musik.


*****Cit-cit cuwit-cuwit, cit-cit cuwit-cuwit,


cit cuwit rame swara ceh-ocehan.


Nimba aneng sumur, adus gebyar-gebyur.


Segere kepati, segere kepati, kepati bingah,


Bagas kuwarasan*****.


Diri ku semakin tidak terkendali, aku mulai menari dengan iringan lagu sinden.


Lingsir wengi tan kendat, beboyo memolo tan kinoyo ngopo.


Bebendu pepeteng tan keno ati niro, bangbang wetan semburato.

__ADS_1


Aku berhenti menari bersama hentinya lagu itu.


" Jangan usir aku Darmo "


Ucapku dalam kendali makhluk gaib.


" Saya tidak akan mengusir mu, dengan syarat. "


Jawab Eyang Darmo dengan nada lantang.


" Apa syarat itu Darmo? "


Dalam posisi berlutut dan memohon kepada eyang Darmo sosok itu bertanya.


" Siapa namamu? kenapa kamu tidak membuka lebar mata batin anak ini? Berikanlah alasan yang kuat dan jelas. "


Ujar Eyang Darmo.


" Baiklah, Nama saya adalah Sriningsih, sosok hantu yang bisa di juluki dengan sebutan ibu. Bukannya saya tidak membuka mata batin anak ini dengan lebar, tetapi saya hanya memberikan tahapan agar dia tidak kaget dengan kemampuan yang dimilikinya, saya hanya tidak mau hal yang buruk menimpa anak ini. "


Jawab sosok itu dengan detail.


" Baiklah dampingi, anak ini untuk mempelajari kemampuannya! "


Jawab eyang Darmo sambil menyentuh kepalaku.


" Terimakasih Darmo "


Aku pun berdiri sambil memegang kedu ujung selendang dengan ujung jari tangan dan jari ibu di setiap satu tangan. Aku mundur dua langkah dan membuang diri ke atas bantal besar.

__ADS_1


" Aaaaaa "


Dalam posisi terlentang aku berteriak dan perlahan melayang. Lampu berkedap kedip dan berhenti ketika aku terjatuh kembali ke atas bantal besar itu. Sosok itu telah pergi dari tubuh ku.


__ADS_2