Betsu No Sekai

Betsu No Sekai
Bab 15. Saingan Bertambah Satu


__ADS_3

Sekarang Ayumi kelas 1 SMA. Sedangkan Futari kuliah di "Tokyo universitas Hiragana,"


Ayumi mengantar Futari ketempat kuliahnya, setelah itu dia kembali ke sekolahnya sendiri, tempat kuliahnya dan sekolah Ayumi tidaklah terlalu jauh, bahkan juga berdekatan dengan sekolah Dai, tiba-tiba Dai teriak yang sedari tadi menunggunya.


"Sempai," teriak Dai sambil melambaikan tangan.


Futari mendengar suara Dai, lalu dia melirik kiri dan kanan, Dai berlari mendekati Futari sambil berkata.


"Apa sempai baik-baik saja," ucap Dai.


Futari tidak menjawab, dia hanya mengangkat bahunya sambil memiringkan kepalanya, lalu Dai berkata lagi.


"Kita bertemu lagi nanti, soalnya aku tidak lama lagi masuk," ucap Dai.


"Kamu yang semangat yah," ucap Futari sembari menepuk bahunya.


Mereka berdua berpisah, Futari pun masuk, banyak orang yang melihat Futari masuk kuliah, mereka semua sudah mendengar kabar Futari di tikam preman, mereka tidak heran kalau Futari tidak kenapa-napa, mereka menganggap Futari adalah monster.


Futari masuk dan memegang satu buku di dadanya, dia terlihat culun seperti bukan Futari saja, Futari menundukkan kepalanya sambil tersenyum sama orang, bahkan dia berani menegur Gurunya yang terlihat takut.


"Sensse Susy apa kabar," ucap Futari dengan senyum yang cerah.


Sensse Susy terlihat sangat takut, apa lagi ketika dia di dekati Futari, bahkan banyak orang yang heran melihat sikap Futari yang sopan, bahkan dia menyapa Sensse Susy, Sensse Susy tidak menjawab apapun, lalu Futari berpamitan sambil menundukkan kepalanya, bahkan Futari marah dalam hati tapi dia tidak memperlihatkannya.


Futari mengomel dalam hati karena sifat Futari yang dulu sangat menjengkelkan.


"Sialan Futari, kenapa semua orang takut padanya," gumam dalam hati Yujin asli.


Tidak berselang lama ada dua anak baru yang masuk kuliah, anak perempuan yang sangat cantik lagi bergosip.


"Apa betul sempai Futari orangnya kaya begitu," ucap Chika.


"Aku juga tidak tau, katanya yang aku dengar dia seperti monster, tapi dia sangat tampan," ucap Akiane yang sedang mengurai rambutnya yang panjang.


"Ayo kita menyapanya," ucap Chika yang penasaran.


"Tidak ah, aku takut, katanya dia suka makan orang," ucap Akiane yang tidak terlalu peduli.


"Ok, kalau begitu biar aku sendiri yang menyapanya," ucap Chika yang kegirangan.


"Jangan, apa kau tidak takut," ucap Akiane yang belum selesai berbicara.


Cika sudah pergi sambil berjalan menuju Futari, dia menyisir rambutnya dengan tangan, dia terlihat kegirangan.


"Sempai"


Futari membalikkan badannya dan melihat perempuan yang ada di belakang yang baru saja menegurnya, tiba-tiba Cika mengulur tangannya, lalu dia berkata.


"Hay"


"Perkenalkan nama saya Khogai Chika, umur saya 19 tahun, senang berkenalan dengan anda," ucap Chika dengan sopan.


"Nama saya Heartfilia Futari, senang juga berkenalan dengan anda," ucap Futari dengan tersenyum.

__ADS_1


Setelah berkenalan, mereka berdua pergi berjalan berdua, hampir semua mata tertuju pada mereka berdua, tiba-tiba Sensse Susy mendatangi mereka berdua, Karena dia merasa Futari tidak beres, sifatnya seperti berputar 160 derajat.


Futari. Teriak sensse Susy.


Futari dan Chika berbalik bersamaan, lalu Futari bertanya dengan heran.


"Ada apa Sensse, apa yang terjadi," tanya Futari kebingungan.


"Harusnya aku yang bertanya, apa yang terjadi dengan kamu," ucap Sensse Susy sambil memberanikan diri memegang kepala Futari.


"He, aku kenapa, aku tidak kenapa-napa," ucap Futari yang tidak mengerti.


"Sudah-sudah, ikut aku ke UKS sekarang," ucap Sensse Susy sambil menarik tangannya.


Chika hanya tercengang, dia tidak mengerti sama sekali, dia hanya mengikutinya dari belakang, bahkan banyak anak yang ikut melihat Futari di tarik ke UKS, mereka semua ikut pergi melihat Futari, karena mereka semua merasa Futari sakit.


"Sensse ada apa," tanya dokter sekolah.


"Tolong periksa Futari buk Emiko," ucap Susy.


Lalu dia melirik dan melihat Futari, dia berkeringat, lalu dia mengambil tisu untuk mengusap keringatnya sambil menyuruhnya berbaring di ranjang.


Futari hanya mengikuti perkataan ibu Emiko. Emiko membuka kancing baju Futari dengan jantung yang tidak karuan, bukan karena suka sama Futari, tapi takut Futari mengamuk, yang membuat dia heran Futari tidak melakukan apapun.


Dengan tangan bergetar dia mulai memeriksa Futari, tiba-tiba Futari memegang tangan Ibu Emiko, Ibu Emiko ingin berteriak tapi Futari menutup mulutnya sambil berkata.


Ibu Emiko tidak perlu takut, lalu Futari duduk dan mengambil tisu, diapun mengusap keringatnya ibu Emiko dengan lembut sambil berkata.


Emiko sudah selesai memeriksa Futari, lalu dia membuka gorden dan keluar.


"Bagai mana Ibu Emiko," tanya Sensse Susy.


"Dia tidak apa-apa," ucap Emiko dengan senyum yang sedikit di paksa.


Sedangkan Futari masi di dalam berbaring, dia lagi berfikir sambil memegang dagunya.


"Seberapa sialnya sih Futari yang dulu, sejelek-jeleknya sikapku pada orang, tidak juga separah ini, atau sifatnya memang seperti ini" gumam Futari dalam pikirannya.


Merubah sikap menjadi baik itu susah, apa lagi sikap Futari yang dulu sudah di cap jelek. Sialan memang Futari," gumam Yujin yang marah memikirkan semua.


"Futari, kamu boleh keluar," ucap Emiko.


Futari pun keluar yang belum mengancingkan bajunya, lalu Emiko membantu mengancingkan baju Futari, Futari tidak melarangnya, dia takut kalau melarangnya dia malah takut, dia hanya tersenyum sambil berkata.


"Apa aku baik-baik saja buk Emiko," tanya Futari.


Susy terlihat bingung, lalu dia menyuruh Futari keluar, mereka berdua mengobrol di dalam tentang Futari yang berubah sikap.


"Apa yang terjadi buk Emiko," tanya Susy dengan suara yang kecil.


"Dia tidak apa-apa, hanya saja dia sepertinya sudah taubat," ucap Emiko.


"Dia tidak sakit kan, atau dia hilang ingatan karena tertusuk pisau," tanyanya lagi.

__ADS_1


"Aku juga tidak tau, dia ingat juga namaku, kalau dia hilang ingatan seharusnya dia tidak ingat kita semua," jawab Emiko.


"Ya sudah, aku keluar dulu," ucap Susy berpamitan.


Sedangkan Emiko masih mengingat Futari sewaktu dia memegang tangan dan mengusap keringatnya, Wajahnya memerah karena mulutnya di pegang Futari, lalu dia menampar-nampar pipinya dengan kedua tangannya.


Futari yang keluar dari UKS semua orang langsung menundukkan kepala, sedangkan Chika tidak, dia malah bertanya pada Futari.


"Bagai mana," tanya Chika.


Aku tidak apa-apa," ucap Futari sambil mengangkat bahunya.


Lalu mereka berdua pergi ke ruang belajar bersama, Futari yang dulu tidak terlalu peduli, biasanya dia sesuka hatinya, dia mau masuk atau tidak terserah dia, tapi Futari yang sekarang sangat berbeda, Futari yang dulu jika di beri pertanyaan pasti semua jawabannya benar, malahan dia memberi pertanyaan balik, kalau guru tidak menjawab dia keluar dari ruang belajar.


Tapi Futari yang sekarang tidak pernah memberikan pertanyaan, bahkan kakinya tidak pernah naik keatas meja, tidak terasa sore hari mereka semua mau pulang, ketika orang semua mau keluar ada yang memberanikan diri bertanya pada Futari.


"Apa kamu baik-baik saja," tanya Haruka.


"Seperti yang kamu lihat," ucap Futari.


Lalu ada lagi dua orang yang mendekat, lelaki Haruto dan perempuan Izumi, mereka bertanya tentang keadaan Futari, mereka bertiga mulai akrap dengan Futari, itu membuat Futari merasa senang, lalu Futari berkata pada mereka bertiga.


"Maafkan aku jika pernah membuat kalian takut," ucap Futari sambil membungkuk.


"Tidak apa-apa, kamu yang sekarang adalah Futari yang sesungguhnya," ucap Haruto.


Lalu Haruto dan Izumi pergi, sedangkan Haruka masih berjalan bersama keluar dari universitas, Chika pun datang ingin berpamitan dengan Futari, mereka berdua melambaikan tangan bersama, Haruka memulai pembicaraan yang sedari tadi diam.


"Hari libur besok kamu mau kemana," tanya Haruka yang berjalan sambil menunduk dan memainkan telunjuknya.


"Tidak kemana-mana," ucap Futari.


"Besok kamu mau tidak temani aku beli alat makeup dan baju," ucap Haruka yang terlihat malu dengan wajah yang memerah.


"Boleh," ucap Futari dengan simpel.


Haruka terlihat gugup dan senang, wajah cantiknya memerah, tiba-tiba Chika kembali dan memegang tangan Futari, Haruka yang sedari tadi di situ tidak pernah di pegang tangannya merasa marah, lalu Chika berkata.


"Sempai, besok maukan jalan dengan aku," ucap Chika yang terlihat manja.


Haruka melihat itu dia diam saja, dia sangat marah karena mereka baru kenal tapi seperti sudah lama bersama, Futari hanya berkata.


"Ok, besok kita bertiga bertemu di Dimaru Tokyo," ucap Futari.


Mereka berdua saling memandang lalu mereka berdua secara bersamaan membuang muka, tiba-tiba datang Ayumi menggandeng Futari.


"Ayo pulang kak Futari," ucap Ayumi terlihat kesal.


secara bersamaan mereka berdua berkata.


Saingan bertambah satu.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2