
Chika dan Haruka hanya melihat punggung Futari dan Ayumi setelah mereka pergi, mereka berdua saling bergumam dalam hati.
"Kenapa seorang adik begitu dekat dengan kakaknya seperti seorang pacaran, mungkinkah adiknya juga suka dengan Futari, ah, tidak, tidak, mungkin aku berfikir terlalu berlebihan," ucap Haruka yang bergumam sendiri sambil berjalan pulang.
"Aku harus berjuang besok, ayo haruka kamu pasti bisa," gumam Haruka menyemangatkan dirinya sambil mengepalkan tangannya.
Sedangkan Chika juga pulang bersama Akiane, Akiane selalu melirik Chika sedari tadi, dia merasa Chika sudah berubah semenjak berkenalan dengan Futari, Akiane sangat mengenal sikap Chika, dia orangnya gampang penasaran, dia berani berkenalan dengan orang-orang aneh jika dia mendengar sesuatu yang aneh.
Akiane sangat kenal sikap Chika, dia adalah orang yang periang, bahkan Akiane tau jika Chika sedih pasti dia akan menceritakan semua kesedihannya, Chika orang yang tidak pandai diam, Chika juga pasti akan menceritakan tentang orang yang akan dia kenal, hanya saja hari ini Chika cukup aneh, dia tidak menceritakan apapun tentang Futari, yang lebih mengherankan, aku bertanya tentang Futari malahan dia melototi matanya padaku lalu dia diam.
Chika juga sudah berkenalan banyak orang aneh, tapi baru kali ini dia melihat Chika berubah total setelah dia berkenalan dengan Futari, malahan dia berfikir terlalu jauh, dia dan Chika berdiam-diaman selama perjalanan, Akiane sambil berjalan berfikir tentang rumor Futari seorang monster, sedangkan Chika juga berfikir tentang sebaliknya, dia berfikir tentang Ayumi dan Haruka.
"Aku yakin, Futari bukan manusia, gosip yang mengedar itu bukan sekedar gosip belaka, dia memang monster, sahabat yang aku kenal semenjak kecil seperti bukan sahabatku lagi," gumam Akiane dan mengusap tangannya karena merinding memikirkan Futari.
"Siapa sebenarnya perempuan tadi, dia terlihat seperti pacarnya. ah, tidak mungkin, gosip yang beredar tidak ada seorang perempuan yang berani mendekatinya, tapi kenapa aku merasakan sesuatu yang mengganjal, bahkan perempuan tadi juga mengajaknya jalan, ah sial, harapanku tipis," gumam Chika yang memikirkan Ayumi dan Haruka.
"Pokoknya besok aku harus berusaha, hem, tidak akan aku biarkan kalian mendapatkan sempai Futari besok, aku akan menguasainya sendiri besok," gumam Chika dengan senyum kemenangan.
Sedangkan Futari dan Ayumi sedang dalam perjalanan pulang, Futari terus bertanya dengan Ayumi, Ayumi tidak menjawab apapun, malahan dia mengemudikan mobil sambil memanyunkan bibirnya, Futari berfikir dalam hati.
"Kenapa Ayumi bersikap seperti ini, yang aku kenal Ayumi bukan orang seperti ini, apa dia marah padaku, emang salahku apa," gumam Futari yang sedang memikirkan sikap Ayumi.
Lalu Futari berkata lagi.
"Perempuan memang orang yang tidak bisa di mengerti, perempuan adalah mahluk yang aneh," gumam Futari yang tidak mengerti sifat perempuan.
Tidak berselang lama mereka sampai di rumah, selama perjalanan mereka berdua hanya berdiam-diaman, setelah sampai di rumah Ayumi turun dari mobil dan menutup pintu mobil sangat keras, itu membuat Futari kaget, Futari tidak pandai membujuk orang, apa lagi perempuan, lalu Futari mencoba membujuk Ayumi agar dia tidak marah terus, Futari mengejar Ayumi dan menarik tangan Ayumi.
__ADS_1
"Ayumi, kamu kenapa sih, coba ceritakan apa kesalahanku," ucap Futari yang meminta penjelasan.
Ayumi tidak berkata apapun, dia hanya mengayunkan tangannya lalu tangan mereka pun terlepas, Ayumi terus masuk ke rumah dan langsung masuk kamar, ibunya melihat Ayumi terus masuk dan tidak berkata apapun.
"Aku pulang,"ucap Futari.
"Eh, nak, kalian sudah pulang, kenapa Ayumi," tanya Ibunya.
"Aku juga tidak tau buk, coba ibu ngomong dengan Ayumi dulu, sepertinya dia marah sama aku," ucap Futari pada ibunya.
"Emang kamu buat apa sampai dia semarah itu," ucap ibunya yang sedang menyiapkan makanan.
"Tidak ada, hanya saja tadi aku jalan dengan teman aku pas mau pulang, teman aku itu sudah lama aku kenal, hanya saja dia baru tadi berani mendekatiku, sedangkan yang satu lagi dia anak baru yang masuk kuliah, mereka berdua mengajak aku jalan besok, yah sudah, aku bilang ayo," ucap Futari menjelaskan.
Ibunya berfikir sejenak sambil memegang piring di tangannya, lalu dia bertanya lagi pada Futari.
Dia sangat kenal dengan sifat Futari, dia adalah anak yang sangat baik dan sangat penurut, semenjak dia di titipkan oleh orang tuanya di rumah keluarga Heartfilia dia masih juga baik, dia di titipkan oleh orang tuanya selagi berumur 8 tahun.
Setiap hari dia bermain dengan Ayumi dan menjaga Ayumi, dia selalu berkelahi jika ada yang berani membuat adiknya menangis, semenjak itu tidak ada yang mau berteman dengan Futari.
Jika mereka bermain atau pulang dari bermain, Futari dan Ayumi selalu bergandengan tangan, Futari selalu menjaga adiknya dengan baik
Ibunya selalu datang sekali dalam 1 tahun dan hanya tinggal sehari dan pergi lagi, sedangkan Ayahnya tidak pernah datang semenjak dia di titipkan di keluarga Heartfilia.
Ibunya mengatakan kalau mereka sudah bercerai, lalu ibunya menyuruh keluarga Heartfilia mengangkat Futari sebagai anak, dia juga mengatakan kalau Futari boleh memakai nama keluarga Heartfilia.
Selama tiga tahun dan tiga hari itu saja ibunya datang menjenguk, setelah itu dia tidak pernah datang lagi, lalu Futari berumur 12 tahun bertemu dengan ayahnya di saat mereka bermain dengan Ayumi, dia merindukan kedua orang tuanya, tapi setelah bertemu dengan ayahnya dia ingin di gendong ayahnya tapi dia malah di tampar sehingga dia pingsan, Ayumi menangis di dekat Futari, Ayumi tidak bisa berbuat apapun karena waktu itu Ayumi masih berumur 9 tahun.
__ADS_1
Setelah ayahnya menampar Futari diapun pergi meninggalkan mereka berdua, Semenjak itu Futari berubah sikap, Futari mendaftarkan diri di sebuah dojo, dia selalu berlatih, dan hanya perlu satu tahun dia bisa mengalahkan master dojo dan keluar dari dojo tersebut.
Lalu dia bertemu lagi dengan ayahnya di saat dia pulang sekolah, saat itu dia sudah berumur 13 tahun, dia selalu bersama Ayumi, tapi Futari sudah tidak pernah perhatian dengan Ayumi, tapi dia masih saja menjaga Ayumi, dia selalu membawa pedang kayu kemanapun dia pergi.
Di saat itu Futari langsung bersiap dan mengeluarkan pedang kayunya, meskipun dia merindukan Ayahnya, tapi dia hanya berjaga-jaga agar tidak ditampar lagi, setelah ayahnya mendekat Futari mengayunkan pedang kayunya, tapi ayahnya menampar Futari lagi dan Futari terlempar di penghalang jalan sehingga penghalang jalan tersebut hancur, dia pun pingsan lagi.
Ayahnya tidak pernah berkata apapun kecuali dia menampar Futari lalu pergi lagi, Ayumi seperti biasanya, dia hanya bisa menangis karena dia masih anak kecil yang berumur 10 tahun.
Semenjak itu Futari berubah total, dia tidak pernah baik lagi seperti dulu, dia tidak peduli sama sekali Ayumi semenjak itu, dalam setahun Futari mendaftarkan diri di dua bela diri yang berbeda, taekwondo dan silat, setelah dia bisa mengalahkan semua master master top, diapun keluar dan mendapatkan gelar monster.
Umur 14 tahun Ayumi dan Futari tidak pernah berjalan bersamaan lagi, Ayumi berjalan sendiri di belakang, sedangkan Futari berjalan di depan, meskipun begitu Futari masih menjadi anak penurut, dia selalu menjemput Ayumi jika dia sudah pulang sekolah, hanya saja dia tidak pernah lagi berjalan besama apa lagi memegang tangan adiknya,
Tidak berselang lama diapun bertemu lagi dengan ayahnya, Futari tersenyum dan bibirnya terangkat sebelah, dia tersenyum sinis pada ayahnya, lalu Futari berkata pada ayahnya.
"Sepertinya hari ini kamu tidak bisa berbuat apa-apa, aku bisa merasakan kalau aku bisa membuatmu pingsan," ucap Futari percaya diri.
Ayahnya tidak berkata apapun dia hanya melangkah maju perlahan, Ayumi melihat Futari dan Ayahnya berhadap-hadapan, Ayumi hanya bersembunyi di balik tiang listrik.
Lalu Futari mengeluarkan dua pedang kayunya, dia sudah berlatih di banyak tempat, dia bisa memakai dua pedang, selama tiga tahun dia melatih dirinya hingga dia di juluki monster.
Tampa menunggu berlama-lama Futari melompat menendang ayahnya dan mengayunkan kedua pedangnya, sayangnya ayahnya mengayunkan tangannya dan pipi Futari terkena lagi dan dia terlempar sangat jauh sehingga dia terbang sangat jauh, dia terlempar sampai kehutan dan menabrak dua pohon, sehingga pohon tersebut tumbang.
Lalu ayahnya melihat Ayumi sambil tersenyum, ayahnya Futari melambaikan tangannya dan pergi, Ayumi sudah meneteskan air mata, lalu Ayumi pergi ke tengah jalan dan berteriak... Dasar Monster.
Ayahnya Futari tidak menoleh, dia hanya mengabaikan Ayumi, Ayumi berlari ke hutan dan mengayun-ayunkan tubuh Futari, dia menangis sangat keras, dia mengomel sambil menangis.
Sialan, kau bukan orang tua yang baik, aku akan membalas semua yang telah kau lakukan pada Kak Futari, aku berjanji, aku lah yang akan menjaga kakakku, akulah yang akan mengalahkanmu suatu hari nanti," gumam Ayumi sambil berteriak menangis.
__ADS_1
Bersambung...