Betsu No Sekai

Betsu No Sekai
Bab 03. Desa Mazuzi mura


__ADS_3

Di luar ruangan rumah sakit ada keluarga Futari, Mereka semua ada bertiga, seorang perempuan atau ibu angkat Futari, dia bertanya pada dokter tentang keadaan Futari, lalu dokter menjawab semua tentang keadaan Futari saat ini.


"Dia tidak apa-apa, hanya saja dia butuh istirahat yang cukup," ucap dokter lelaki itu


"Katanya dia di tusuk pisau, kenapa bisa dia tidak apa-apa," ucap Ibunya.


"Memang dia tertusuk pisau kata anak yang membawanya ke rumah sakit, bajunya robek di belakang aku melihat bercak darah, tapi, setelah aku memeriksanya, tidak ada luka di tubuh pasien," ucap dokter itu lagi.


Sedangkan temannya ada di dalam ruangan yang lagi duduk sambil tertidur, "Namanya Tanaka Dai dari keluarga Tanaka".


"Keluarga angkat Futari, Heartfilia Kayoshi ayah angkatnya, Heartfilia Azumi ibu angkatnya dan Heartfilia Ayumi adik angkatnya, mereka semua dari Keluarga Heartfilia".


"Jika kalian ingin penjelasan lebih lanjut, silahkan kalian masuk dan tanyakan pada anak yang ada di dalam ruangan yang lagi tidur, dia lah yang membawa kesini dan menjaga semalaman karena khawatir," ucap dokter itu lagi sembari mempersilahkan.


"Aduh, Kepalaku sakit sekali," ucap Futari, atau bisa di sebut Yujin.


"Sekarang aku mengerti, ini bukan tubuhku, sepertinya aku bertukar tempat dengan yang punya tubuh ini," gumam Futari dalam hati.


Dia pun melihat-lihat di sekeliling ruangan tersebut, dia belum pernah melihat sesuatu yang seperi ini, dia merasa nyaman dengan apa yang dia lihat.


"Luar biasa sekali tempat ini," gumam Futari dalam hati.


Ketika adik angkatnya masuk, dia pun melihat Futari sudah sadarkan diri yang sedari tadi melihat sesuatu yang tidak pernah dia lihat, Ayumi langsung berlari dan memeluk Futari.


"Kak Futari apa kau tidak apa-apa," ucap Ayumi yang menangis di pelukan Futari.


Seketika Futari tersentak karena baru kali ini dia merasakan seperti memeluk adiknya sendiri, yah, dia pun mulai menangis sambil mengingat masa lalunya karena sering bertengkar dengan adiknya.


Lalu Futari mengelus-elus kepalanya Ayumi, seakan dia mengelus rambut adiknya sendiri dia pun berkata.


"Aku tidak apa-apa, sudah, sudah, kau tidak boleh menangis terus," ucap Futari dengan nada yang sangat lembut.


Tiba-tiba datang ibunya, dia pun memeluk Futari juga, tapi ayahnya memarahi Futari.


"Sudah aku katakan berapa kali, kenapa kau selalu tidak mendengarkan ucapanku," ucap ayahnya yang marah


Futari hanya terdiam, tanpa berkata-kata, dia hanya menundukkan kepalanya, Ibunya dan Ayumi saling memandang, merasa heran karena dia tidak pernah diam jika dia di omelin.


"Maafkan aku ibu, ayah," ucap Futari.


Haaa.?


Serentak Ayumi dan ibunya kaget, baru kali ini Futari mengatakan kata-kata yang sangat ganjil, sehingga membuat mereka heran, setau mereka, Futari tidak pernah mengatakan maaf dan kedua, dia tidak pernah mau memanggil orang tua angkatnya ibu dan ayah, itulah yang membuat mereka terheran dengan perkataan Futari.


Ayumi berlari keluar ruangan dan memanggil dokter untuk memeriksa Futari, karena dia merasa Futari ada yang tidak beres dengan kepalanya, sedangkan Dai terbangun karena kaget, lalu dia berdiri sambil berkata.


"Sempai, apa kau tidak apa-apa," ucap Dai bertanya.?


"Yah aku sehat-sehat saja, kalian tidak perlu khawatir tentang aku, aku mengatakan itu semua karena aku merasa bersalah selama ini, karena tidak pernah mendengarkan ucapan ayah dan ibu," ucap Futari menjelaskan


"Maafkan aku Ayah, Ibu, sambil turun dari ranjang sembari membungkuk," ucap Futari dengan bersungguh-sungguh.


"Sudah-sudah, kau istirahat saja, kita tunggu dokter saja untuk memeriksamu," ucap ayahnya


Dia merasa bahwa Futari lagi sakit karena dia tidak pernah melakukan hal sebaik ini, dia hanya menuruti kata-kata ayah angkatnya lalu berbaring lagi di ranjang, dan masuklah Ayumi dan dokter.


"Sini, biar aku periksa dulu," ucap dokter sambil berlari ke arah Futari.


"Dia tidak apa-apa" ucap dokter itu lagi.

__ADS_1


"Tapi dokter, coba dokter cek lagi," ucap Ayumi yang masih khawatir.


Dokternya terus mengecek kondisi tubuh Futari, otak Futari, mata Futari dan jawabannya, dia tidak apa-apa kata dokter.


"Futari batuk sedikit, aku tidak apa-apa, bolehkah aku sudah pulang dokter, karena aku sudah lapar," ucapnya Futari ingin mendinginkan suasana


"Iya, kalian sudah bisa pulang," ucap dokter tersebut.


Dokter mengizinkan mereka untuk pulang, ketika semua mau keluar dari ruangan, Futari berkata.


"Ibu, ayah dan Ayumi duluan, aku ingin mengobrol sebentar dengan temanku Dai," ucap Futari.


Mereka semua keluar dari ruangan kecuali Futari dan Dai, mereka mulai mengobrol tanpa dia sadari Ayumi menguping pembicaraan mereka.


"Dai sini kau sebentar," ucap Futari.


"Iya, kenapa sempai," jawab Dai mendekat.


"Apa yang kau lihat waktu itu," ucap Futari.


"Aku melihat cahaya yang sangat terang ketika para preman itu berlari, waktu itu aku sangat panik, ketika cahaya itu hilang aku melihat sempai berdiri, tapi tidak berselang lama, sempai pingsan lagi, aku pun panik dan menelpon ambulance" ucap Dai menjelaskan


"Kalau begitu, rahasiakan ini semua Dai," ucap Futari mengancam.


"Baik sempai, bahkan nyawaku akan jadi taruhan," ucap Dai dengan bangga.


"Apa aku sudah bisa menjadi teman sempai", ucap Dai dengan berharap.


Tidak.


"Ha, kenapa sempai," ucap Dai bertanya.


Lalu mereka berdua pun keluar, Ayumi berlari sembari bersembunyi agar tidak ketahuan, Ayumi bergumam sendiri.


"Seperti yang aku pikirkan, ada yang tidak beres dengan kak Futari, ucap Ayumi


Lalu dia muncul di belakang mereka berdua, seolah-olah dia tidak mendengarkan apapun perkataan dari mereka berdua.


"Ayumi, kenapa kau di sini," tanya Futari.


"Oh, aku tadi menunggu kalian berdua disini dari tadi," jawab Ayumi dengan santai


"Kenapa aku tidak bisa mendeteksi keberadaanya gumam dalam hati Futari".


Lalu Futari memegang kepala Ayumi dengan telunjuk, dia hanya ingin memastikan Ayumi berbohong atau tidak, yang membuat dia heran, dia tidak bisa membaca ingatan Ayumi sama sekali.


Ayumi tampak linglung dengan Futari.


"Apa yang kau lakukan kak Futari," ucap ayumi yang tidak mengerti sama sekali.


"Tidak, tidak, Aku hanya bercanda denganmu, yuk kita pulang saja," ucap Futari yang ingin menyembunyikan identitasnya.


Ayumi menggandeng tangan Futari sembari bertanya.


"Kak Futari," tanya Ayumi.


"iya, kenapa," jawab Futari


"Apa kau tidak marah kalau aku menggandeng tangan kak Futari seperti ini," ucap Ayumi yang lagi gugup.

__ADS_1


Ayumi tidak pernah menggandeng tangan Futari sedari dulu, karena itu dia ingin mengetesnya, apa Futari akan marah atau tidak.


"Kenapa aku harus marah," ucap Futari bingung, aku kan kakakmu, jadi wajar saja.


"Sempai aku pulang dulu, kita bertemu besok lagi," ucap Dai yang sangat bersemangat.


Mereka pun mulai berpisah, ayahnya dan ibunya sudah pergi sedari tadi, sedangkan Futari dan Ayumi naik taksi yang di pesan Ayumi, mereka berdua tidak banyak bicara selama perjalanan sehingga dia sampai di rumah mereka, Futari sangat ingin melihat-lihat sedari tadi, dia sangat kagum dengan dunia yang dia tempati sekarang, sedangkan Ayumi semakin curiga dengan Futari, dia melirik Futari sesekali.


Mereka berdua masuk dan makan di ruangan makan, selesai makan Futari ingin ke kamarnya, tapi Ayumi masuk juga lalu dia mengunci pintu.


"Kak Futari, aku sudah mendengar semuanya," ucap Ayumi dengan nada yang sangat keras.


Seketika Futari tersentak, dia bergumam dalam hati.


"Aku selalu mencoba sihir sedari tadi tapi aku tidak bisa sama sekali, apa aku tidak bisa menggunakan sihir disini," Gumam Futari dalam hati.


"Kak, jawab pertanyaan aku, sebenarnya kak Futari kenapa," ucap Ayumi dengan serius.


"Baiklah aku akan menceritakan semuanya, Ayumi sini duduk dekatku, dan semuanya akan aku katakan, tetapi dengan satu sarat," ucap Futari dengan serius.


Lalu Ayumi duduk di dekat Futari menggandeng tangan Futari dan kepalanya bersandar di bahu Futari.


"Baik lah aku berjanji," ucap Ayumi untuk meyakinkan.


Futari mulai menceritakan dengan sangat rinci sehingga Ayumi mengerti.


"Aku bukan lah Futari," ucap Futari


"Apa maksud kak Futari," ucap Ayumi yang tidak mengerti.


"Namaku adalah Yujin, dan aku tinggal di dunia lain, aku tinggal di sebuah desa yang namanya Mazuzi mura dunia lain," ucap Yujin.



"Aku sangat ingin menjadi pahlawan di desaku, karena di sana hanya ada perang dan perang, bahkan Monster yang tidak pernah kau lihat ada di sana, berbeda dengan duni ini. di sini sangat damai, sedangkan di sana sangat banyak petualang, bahkan di sana banyak orang-orang hebat yang sihirnya sangat hebat, seperti yang aku lakukan tadi," ucap Yujin atau bisa di sebut pembaca memori.


"Terus kakak bisa menggunakan sihir di dunia ini," tanya Ayumi.


"Tidak bisa, aku sudah mencobanya sedari tadi tapi tidak bisa," ucap Yujin bingung.


lalu dia melanjutkan ceritanya.


"Aku kabur dari desa hanya ingin membuktikan ucapanku, meski semua keluargaku tidak mempercayai kekuatanku, aku tetap mencoba meski tidak berbakat, hanya saja selama di perjalanan aku di kejar-kejar segerombolan goblin, memang aku bisa mengalahkan mereka, tapi jumlah mereka sangat banyak, hingga aku menabrak beruang hutan yang sangat besar, semua goblin itu berlarian sehingga hanya ada aku dan beruang itu, aku melihat beruang itu ingin memukulku tepat di kepala, aku menutupi mataku sambil berfikir. Pasti aku akan mati, ketika aku membuka mataku lagi, aku sudah ada di dunia ini. aku yakin Futari masih hidup, hanya saja aku tidak tau bagai mana caranya aku kembali," ucap Yujin dengan air mata yang mengalir.


"Terus kakak ini Yujin atau Futari," tanya Ayumi.


"Aku Yujin, tapi kau bisa memanggil aku Futari, aku yakin kakakmu akan berusaha untuk kembali, karena di sana ada sihir, sedangkan di sini sihir tidak ada," ucap Futari meyakinkan Ayumi.


"Apa kau percaya pada ucapanku Ayumi," ucap Yujin.


Ayumi mengangguk, sambil berkata.


"Aku sangat ingin kak Futari seperti kak Yujin," ucap Ayumi.


"Aku juga punya adik seumuran denganmu, hanya saja di sana tidak ada sekolah, aku sangat senang mengingat ingatan Futari karena dia sangat pintar, hanya saja dia terlalu kasar seperti preman," ucap Yujin.


Mereka berdua tertawa, tapi di antara mereka berdua, Ayumi merasakan yang sangat hangat sehingga jantungnya berdetak sangat cepat.


Tiba-tiba Futari bersin-bersin, dia sekarang memegang pedang kayu di pagi hari.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2