
Alice tidak memiliki alasan kuat untuk menolak keinginan Ruby, atau pun menjelaskan pada gadis itu bahwa dia akan menemui Pangeran Erland. Pasalnya, Sang Pangeran sudah memintanya datang dengan cara diam-diam. Kalau Ruby tahu Pangeran tiba di istana tanpa memberi tahu Raja, pasti akan menimbulkan suatu kesalahpahaman.
“Saya, ada pekerjaan di istana Pangeran Erland, Putri. Bagaimana kalau ....”
“Bagus dan kebetulan sekali, Alice. Aku mau jalan-jalan di sekitaran istana Pangeran Erland,” sahut Ruby yang kemudian menarik tangan Alice.
Mau tak mau, Alice pun menuruti perintah Ruby karena sesuai perintah dari Raja, wanita itu yang harus dilayaninya sekarang.
Sementara itu, Pangeran Erland tampak menunggu sang kekasih dengan raut bahagia. Dia sudah sangat merindukan pelayan pribadinya itu sampai-sampai Pangeran Erland berangkat lebih pagi dan tiba di istana lebih awal dari jadwal yang sudah diatur.
Laki-laki itu sangat berharap bisa menghabiskan waktu lebih lama dengan Alice. Dia sadar, kedatangan Ruby membuat waktu mereka untuk bisa berduaan harus banyak tersita.
Karena dirasa waktu Alice untuk sampai ke istananya terlalu lama, Pangeran Erland pun memutuskan untuk mencari Alice. Dia berencana datang langsung ke kamar Alice karena sudah tidak bisa menahan rindu.
Begitu keluar dari bangunan khusus miliknya, Pangeran Erland langsung bisa melihat wajah gadis yang sangat dirindukannya itu. Namun, sayangnya Alice datang bersama Ruby yang membuat perasaannya kembali kecewa.
“Pangeran!” panggil Ruby yang justru terlihat sangat bahagia karena melihat Pangeran Erland yang baru pulang dari tugasnya.
__ADS_1
Alice melihat kekecewaan di mata kekasihnya itu. Namun, dia juga tidak bisa banyak berbuat karena tugasnya memang untuk melayani Ruby selama Pangeran tidak ada.
Ruby dan Pangeran Erland tampak saling berhadapan, sedangkan Alice mencuri pandang di belakang Ruby.
“Pangeran, kapan kamu sampai?” tanya Ruby setelah memberi salam pada Pangeran Erland.
Tatapan mata Pangeran tertuju pada celah kecil di leher Alice. Laki-laki itu melihat warna baju yang sama persis dengan baju pemberiaannya untuk sang kekasih.
Pangeran tahu, Alice pasti sudah bersiap untuk menemuinya. Hanya saja, mungkin gadis itu terpaksa menemani Ruby jalan-jalan.
“Baru saja!” jawab Pangeran Erland yang tetap memasamg raut wajah tenang di depan Ruby, tetapi sesekali matanya melirik Alice yang tengah menundukkan kepala di belakang Ruby.
Wajah Ruby terlihat malu-malu saat mengungkapkan keinginannya itu pada Pangeran.
“Ya, boleh saja! Kamu bisa masuk dan melihat-lihat ruangan pribadiku,” jawab Pangeran yang bermaksud ingin membuat Alice cemburu.
Hati Alice terasa terbakar, tapi dia juga tidak bisa berbuat apa-apa untuk sekedar melayangkan protes. Posisinya saat ini hanya sebatas kekasih di hati Pangeran, sedangkan Ruby adalah gadis pilihan Raja yang digadang-gadang akan menjadi pendamping Pangeran Erland.
__ADS_1
“Wah, senangnya!” Ruby tampak bahagia. Dia lalu menoleh ke belakang, menatap Alice dan berkata, “Alice, terima kasih sudah menemaniku. Kamu bisa melanjutkan pekerjaanmu, karena aku ingin berdua dengan Pangeran Erland!”
Pangeran ingin mencegah Alice pergi, tetapi gadis itu lebih dulu sadar diri dan menyahut, “Baik, Putri Ruby. Kalau membutuhkan saya, jangan sungkan untuk mencari saya. Saya permisi dulu!” Alice melirik Pangeran yang kini melayangkan tatapan protes padanya. “Saya permisi, Yang Mulia Pangeran Erland!”
Alice segera berbalik badan usai berpamitan, tanpa peduli dengan tatapan Pangeran Erland yang seakan tidak terima jika dia pergi sekarang.
Pangeran sebenarnya ingin memberi perintah Alice untuk tetap menemaninya, tetapi Ruby yang belum tahu mengenai hubungannya dengan Alice pun menarik tangan Sang Pangeran dan membawanya masuk.
Sementara itu, Alice kembali ke kamarnya dan mulai menangis. Dia lalu berjalan ke arah cermin besar di kamarnya dan menatap pantulan dirinya sendiri di cermin itu.
“Lihatlah, Alice! Kamu hanya seorang pelayan! Sadar dirilah!” kata Alice sembari membuka pakaian pelayan yang membalut tubuhnya.
Lalu, dia menatap dirinya sendiri yang memakai pakaian indah pemberian Pangeran, juga kalung mahal yang menggantung indah di lehernya.
“Ya, kamu memang terlihat cantik dengan pakaian dan perhiasan mahal ini, Alice. Tapi, di sinilah posisimu sekarang. Di dalam kamar pelayan.”
Memang benar apa yang dikatakan Alice, mau memakai baju sebagus apa pun dan perhiasan semahal apa pun, memang tidak bisa menutupi asal muasal dirinya. Orang biasa tetaplah orang biasa. Namun, perasaan itu juga tidak bisa berbohong, dia sudah terlanjur jatuh hati dengan seorang Pangeran yang mungkin tidak akan bisa dimiliki.
__ADS_1
***
Good pagi, ada yang kangen nggak? Kembang kopinya dong gaess. Sekalian vote yak wkkk