
Alice bersiap memakai gaun pengantin yang entah sejak kapan ada dan disiapkan untuknya. Semua sudah siap dan Pangeran sendiri yang mempersiapkan pernikahan dadakan mereka. Gadis itu tampil anggun dengan balutan gaun indah dan riasan sederhana yang dibantu tetangga.
Pengantin wanita memakai gaun tradisional kerajaan Warlingtoon perpaduan warna merah dan emas. Sementara Pangeran Erland juga memakai pakaian tradisional dengan warna yang sama, meski tanpa mahkota kerajaan dan terlihat seperti rakyat biasa.
Keduanya duduk berdampingan, saling berpegangan tangan dan berhadapan dengan seorang yang dipilih untuk menikahkan mereka. Upacara pernikahan pun akhirnya dilangsungkan. Dengan tradisi dan adat kerajaan serta kepercayaan yang mereka anut, akhirnya Pangeran Erland resmi menjadikan Alice sebagai istrinya.
Dengan pernikahan itu, gelar "pangeran" yang melekat pada nama Erland resmi dihilangkan. Pernikahan mereka juga sah di mata hukum, adat, dan kepercayaan mereka.
“Selamat datang di kehidupanku yang tidak mudah ini, istriku, Alice!” ucap Erland yang kini memasangkan cincin di jari manis sang istri, lalu dia memberikan kecupan singkat di kening Alice.
Demi apa pun, perasaan Alice saat ini sangat bahagia. Tidak ada kata yang paling tepat untuk menggambarkan perasaan Alice karena ini sungguh luar biasa.
“Yang Mulia!”
Erland langsung menutup mulut Alice dengan telunjuknya dan berkata, “Aku sudah tidak menjadi pangeran lagi, jadi jangan memanggilku dengan sebutan itu.” Erland menjauhkan jari telunjuknya dari bibir Alice. “Aku udah jadi suamimu!”
Sebuah kecupan lalu mendarat di bibir Alice. Di hadapan para penduduk desa yang datang, Pangeran menghadiahkan sebuah ciuman untuk wanita yang kini menjadi istrinya itu.
Alice merasa sangat malu, tetapi semua orang bertepuk tangan karena ikut merasakan kebahagiaan Alice dan Pangeran.
“Pangeran!”
Alice masih saja memanggil Erland dengan gelarnya. Rasanya memang aneh, mungkin karena dia belum terbiasa dengan semua itu.
__ADS_1
“Panggil aku sayang, atau ... suamiku,” bisik Erland begitu mesra.
Senyum di wajah Alice seketika merekah. Gadis itu tampak malu-malu jika harus memanggil Erland dengan panggilan semesra itu.
Keduanya tampak bahagia dan melanjutkan prosesi pernikahan dengan sederhana. Semua orang yang datang mendoakan pernikahan mereka dan berharap kalau kehidupan mereka setelah ini akan membaik.
**
Acara pernikahan mereka yang sederhana akhirnya selesai. Alice dan Erland kini tinggal berdua di rumah mereka, sedangkan para pengawal berada di paviliun yang ada di belakang rumah. Yang lainnya tetap berjaga seperti biasa.
Sebagai pengantin baru, tentu saja Erland dan Alice sudah tahu apa yang akan mereka berdua lakukan. Alice sudah menyelesaikan ritual mandinya dan bersiap untuk melayani Sang Pangeran yang kini menjadi suaminya.
Sementara itu, Erland baru kembali ke kamar setelah menemui pengawalnya. Laki-laki itu langsung menghampiri Alice yang masih baru selesai mandi dan memeluknya.
“Iya. Biar suamiku makin sayang dan nggak menyesal jadikan pelayan ini istrinya,” balas Alice sembari berusaha menyembunyikan wajahnya dari Erland.
Wanita itu tampak malu-malu karena ini pertama kalinya dia menyebut Erland dengan panggilan semesra itu. Suamiku.
Erland makin tidak tahan lagi. Dia langsung menyambar bibir Alice dan menuntun istrinya itu ke kasur yang empuk.
“Aku nggak akan pernah menyesal, Alice. Justru aku akan hidup bahagia denganmu!”
Erland mendaratkan bibirnya ke leher Alice dan menciptakan tanda merah di sana. Dia ingin menandai bahwa Alice sudah sah menjadi miliknya.
__ADS_1
“Pangeranku, Suamiku. Aku ingin hidup selamanya menjadi milikmu.”
Kalimat indah yang keluar dari mulut Alice benar-benar membuat Erland larut dalam bahagia. Dia kembali mencium Alice sangat lama dan tangannya mulai bergerak membuka pakaian Alice.
Satu demi satu pakaian mereka terlepas dan Erland membuangnya dengan sangat kasar. Hingga akhirnya mata mereka bisa melihat jelas tubuh indah masing-masing yang kini tidak tertutup apa pun.
Erland terdiam cukup lama, mengagumi keindahan ragawi yang dimiliki Alice. Sementara Alice tampak malu dan menutup wajah dengan kedua tangan saat melihat senjata tumpul milik Erland yang bergelantung di bawah.
'Apakah benda itu yang akan merenggut kesucianku? Bisakah Pangeran melakukannya tanpa menyakitiku? Sepertinya itu terlalu besar untuk masuk ke dalam diriku!' batin Alice yang dengan mata tertutup mulut berpikir kotor.
Erland tahu apa yang ada dalam pikiran Alice. Bukannya menyingkirkan tangan Alice yang menutupi kecantikan wajahnya, Erland malah menikmati sepasang gundukan indah di depan mata.
Bibir Erland menyentuh puncak bukit itu dan membuat Alice menjerit kaget.“Yang Mulia!”
Jari telunjuk Erland menutup mulut Alice dan mulutnya masih terus menghisap bukit indah sang istri. Dia seperti bayi kehausan yang sudah sangat lama tidak diberi makan.
Sementara itu, Alice menjerit kecil saat tangan Erland menuntunnya untuk menyentuh benda pusaka miliknya.
Pasangan pengantin baru itu benar-benar menikmati semua untuk pertama kalinya. Keduanya sama-sama saling memberikan raangsangan. Sampai akhirnya keduanya sama-sama tidak tahan untuk memulai peperangan.
***
Ramein dulu lah komennya 😂😮💨
__ADS_1