
Sepanjang hari, Alice dan Pangeran menikmati kencan mereka di luar istana. Sementara Ruby, menikmati kebahagiaannya sendiri dengan melukis.
“Alice, apa kamu bahagia dengan keluar istana begini?” tanya Pangeran saat mereka bersiap hendak kembali ke istana.
Alice menundukkan kepala lalu melirik Ruby yang tengah membereskan peralatan lukisnya.
Pangeran sepertinya menangkap keresahan yang sedang dirasakan Alice dan menjadi curiga pada Ruby. Dia tahu, pasti Ruby sudah melakukan sesuatu yang membuat perubahan besar pada diri Alice.
“Alice!” panggil Pangeran tepat di telinga kekasihnya itu.
“Iya, Yang Mulia!” jawab Alice dengan tenang. “Danaunya terlalu indah, sampai saya nggak sadar kalau Pangeran lagi bicara.”
Pangeran tahu Alice sedang berbohong, tetapi dia pura-pura tenang dan percaya dengan ucapan sang kekasih. Sampai akhirnya, mereka kembali ke istana dan baik Alice maupun Pangeran sama-sama menyembunyikan pikirannya masing-masing.
Begitu tiba di istana, dan kedua gadis berbeda kasta itu kembali ke kamar masing-masing, Pangeran langsung memanggil pengawal bayangannya. Dia ingin tahu apa yang terjadi pada Alice.
“Yang Mulia, kami melihat perubahan wajah Putri Ruby yang cukup mencurigakan saat Yang Mulia membisikkan sesuatu di telinganya. Dalam sekejap dia terlihat marah atau kecewa, lalu tiba-tiba raut wajahnya berubah bahagia di depan Pangeran,” kata ketua pengawal bayaran yang selalu mengawasi keadaan orang-orang di sekitar Pangeran.
Kening Pangeran seketika berkerut dan pikirannya tertuju pada Alice. Sebelumnya, dia juga mendapat laporan bahwa Ruby mendatangi kamar kekasihnya itu.
Ini adalah dua hal yang sangat mencurigakan. Namun, karena bukti dan saksi yang terlalu minim, Pangeran tidak bisa bertindak begitu saja.
Kasus ini sangat berbeda dengan Anne yang dengan terang-terangan menentangnya. Masalah lainnya adalah Ruby berasal dari kalangan bangsawan negara tetangga. Kalau terjadi sesuatu dengannya, pasti akan langsung menimbulkan kecurigaan dan memantik perselisihan. Pangeran tidak mau mengambil risiko besar untuk keselamatan Alice.
“Terus awasi dia! Cari bukti atau apa pun yang mencurigakan. Dan, jangan sampai dia memiliki niat jahat pada Alice!” titah Pangeran pada pengawal bayangannya.
Sang Pengawal mengangguk paham dan berpamitan untuk menjalankan tugas.
Sementara itu, Pangeran Erland mulai cari tahu banyak hal tentang latar belakang Ruby yang mungkin bisa menjadi senjatanya kalau-kalau wanita itu bertindak sesuatu yang mengancam. Pangeran pikir, dia harus secepatnya menekan Ruby untuk menolak perjodohan dengannya.
__ADS_1
*
*
*
Seperti biasa, Alice menyiapkan sarapan untuk Pangeran Erland dan membawanya ke kamar pribadi sang kekasih. Dia memasak risotto lagi seperti yang disampaikan Pangeran tadi malam.
Begitu masakan yang mengingatkan Pangeran Erland dengan mendiang ratu itu tersaji di atas meja, Alice berdiri tepat di samping Sang Pangeran dan menunggunya makan.
Namun, bukan Pangeran Erland namanya kalau membiarkan Alice bekerja selayaknya pelayan. Dengan sekali gerakan, laki-laki itu menarik tubuh Alice agar jatuh ke atas pangkuannya dan tersenyum tanpa dosa.
“Yang Mulia!” Mata Alice melotot, tetapi senyum di bibir dan rona merah di pipinya itu tidak bisa berdusta.
“Kenapa berdiri saja, kamu tega membiarkanku makan sendiri? Apa kamu tidak ingin menyuapiku, Sayang?” tanya Pangeran sebelum akhirnya mendaratkan sebuah kecupan di pipi kiri gadis itu.
“Ya-Yang Mulia!”
“Suapi aku, Sayang!” pinta Pangeran sekali lagi.
Alice pun mengangguk dan segera menyuapi kekasihnya itu hingga tanpa sadar sudah menghabiskan risotto buatannya.
“Kamu tahu, Alice. Makanan ini adalah makanan kesukaan mendiang ratu, ibuku. Dan masakanmu memiliki cita rasa yang begitu mirip, sampai-sampai aku merasa Ibu sedang mengawasi kita berdua sekarang!” kata Pangeran Erland saat Alice membereskan peralatan bekas makan mereka.
Alice baru tahu hal ini, dan tentu saja dia teramat kaget mendengarnya. “Yang Mulia, benarkah itu?”
Pangeran Erland mengangguk. “Kapan-kapan aku akan mengajak Raja makan risotto buatanmu, dan pasti Raja juga setuju kalau masakanmu rasanya sama persis dengan masakan Ibu,” jawab Pangeran.
Di saat mereka tengah membicarakan hal yang cukup membangkitkan kesedihan itu, tiba-tiba saja pintu ruangan itu diketuk dan pengawal memberikan informasi bahwa Ruby datang.
__ADS_1
Kening Pangeran pun berkerut mendengar informasi dari pengawalnya itu. Untuk apa Ruby datang ke kamarnya pagi-pagi begini. Akhirnya, Pangeran pun mengizinkan gadis itu masuk dan Alice kembali melanjutkan tugasnya membereskan peralatan makan.
“Selamat pagi, Pangeran. Wah, kebetulan ada Alice di sini! Apa aku mengganggu?” tanya Ruby yang terlihat sangat ramah.
“Ada apa, Ruby?”
“Aku ingin minta izin untuk mengajak Alice ke sebuah jamuan minum teh dengan putri para bangsawan dan menteri dari kerajaan ini. Ini perintah dari Raja yang bilang, aku harus menghadirinya karena kelak aku yang akan menjadi permaisuri dan aku membutuhkan dukungan dari mereka.”
Pangeran Erland tentu tahu mengenai undangan itu. Di posisi ini, memang Ruby tidak melakukan kesalahan karena Raja memang sudah mulai memperkenalkan gadis dari negara lain itu sebagai calon permaisuri mereka. Namun, mengajak Alice untuk acara seperti ini, rasanya dia tidak rela.
“Kenapa kamu tidak pergi dengan Ibu Ratu? Biasanya untuk acara seperti ini Ibu Ratu juga akan ikut,” kata Pangeran Erland merasa keberatan.
“Pangeran, Ibu Ratu pasti akan bergabung dengan para ibu-ibu bangsawan yang lain, sedangkan di kalangan para muda, aku tidak mengenal mereka satu pun. Terlebih, aku tidak akan tahu kalau mereka mengolok-olok diriku yang berasal dari negara lain dengan budaya yang pasti berbeda,” balas Ruby dengan banyak alasan.
Pangeran tetap saja tidak setuju, tetapi Ruby kembali bicara, “Kamu mau membantuku kan, Alice?”
Alice melihat tatapan mata Ruby, dan hal itu membuatnya kembali sadar bahwa Ruby adalah calon permaisuri. Yang artinya, Ruby akan menjadi istri sah Pangeran karena dia lebih layak dibandingkan dirinya.
“Di sini hanya kamu yang paling dekat denganku, Alice. Kamu tidak mau membantuku? Kemarin aku sudah membantu kalian, sekarang giliran aku butuh bantuan, kalian tidak mau membantu?”
“Yang Mulia, izinkan saya menemani Putri Ruby. Saya akan kembali sebelum jam makan siang,” kata Alice sembari menundukkan kepala menghadap Pangeran.
Sekarang, keputusan ada di tangan Pangeran Erland. Kalau dia mengizinkan, Ruby dan Alice akan pergi ke jamuan teh itu, tetapi kalau dia tidak mengizinkan, maka hanya perintah Raja yang akan membuat Ruby membawa keluar Alice dari istana.
***
Kira-kira diizinkan nggak gaess?
***
__ADS_1