
Setelah kepergian Pangeran Erland yang memang direncanakan oleh Raja, Alice akhirnya dipanggil untuk menghadap ayahanda pangeran itu.
Gadis itu memasuki ruangan Raja dengan wajah tegang. Dia harus menghadapi Baginda Raja tanpa genggaman tangan Pangeran. Apakah dia mampu menghadapi semuanya sendiri?
Begitu sampai, Butler meninggalkan Alice dan kini gadis itu hanya berdua saja di ruangan yang besar milik Raja.
“Yang Mulia!” Alice menundukkan kepala sebagai tanda hormatnya pada Raja. Dia lalu berdiri tegak dengan kedua tangan di depan tubuhnya, dan jari tangan yang saling bertautan.
Raja melihat Alice dengan tatapan mengintimidasi. Pelayan di hadapannya ini sudah berhasil menimbulkan masalah besar yang sekarang harus diakhiri. “Kamu tahu kenapa kamu dipanggil?” tanya Raja tanpa menyuruh Alice untuk duduk.
Tubuh Alice terasa dingin. Namun, dia tetap menundukkan kepala sebagai jawaban atas pertanyaan Raja.
“Saya mengerti, Yang Mulia. Saya mencintai Pangeran Erland. Terlepas dari status kami yang berbeda, saya juga seorang rakyat Warlingtoon biasa yang tidak bisa mengontrol perasaan saya. Kami saling jatuh cinta. Tidak bisakah Baginda memberikan toleransi untuk hubungan kami?”
__ADS_1
Entah dari mana datangnya keberanian itu, sampai-sampai Alice bisa mengutarakan apa yang ada dalam hati dan pikirannya. Yang jelas, Alice hanya ingin mencoba untuk memperjuangkan hubungannya dengan pangeran.
Satu sudut bibir Raja tertarik, membentuk senyum tipis yang bisa diartikan sebuah ejekan untuk Alice. “Selain Raja, aku juga seorang ayah. Apa kamu tahu harkat, martabat, dan tanggung jawab yang harus putraku emban sebagai calon Raja?”
Alice menundukkan kepala. Air matanya mulai terkumpul menjadi bendungan yang kapan saja bisa runtuh. Namun, demi menghormati Raja, gadis itu menahan air matanya sekuat hati.
“Seorang raja harus melindungi nama baik kerajaan dengan hati dan jiwanya. Menikahi seorang pelayan hanya akan membuat reputasi kerajaan hancur. Kecuali, kalau kamu memang mau menghancurkan Pangeran Erland!”
“Satu lagi. Pangeran Erland belum tentu mencintai kamu! Dia hanya main-main dan penasaran denganmu saja. Bunga yang sedang mekar itu memang begitu indah dipandang, tetapi begitu dia dipetik dia sudah tidak menarik lagi dan akhirnya dibuang!”
“Maaf, Baginda. Tapi, Pangeran juga mencintai saya. Saya bisa merasakannya!” balas Alice. Dia mengangkat wajahnya, dan setetes air tidak kuasa lagi untuk ditahan.
Raja kembali tersenyum sinis karena jawaban Alice. Gadis itu terlalu naif di mata Raja.
__ADS_1
“Kamu terlalu mudah dibodohi. Yang kalian rasakan itu hanya bersifat semu. Setelah dua bulan kamu meninggalkan istana, Pangeran pasti akan melupakanmu. Dan itu tidak bisa disebut cinta!”
“Tapi, Yang Mulia kami ....”
“Sudah cukup! Kamu bisa pilih, membiarkan Pangeran Erland turun tahta dan dapat kecaman rakyat, atau kamu yang pergi dari istana dengan tenang!”
Alice berusaha membantah lagi, tetapi keputusan Raja sudah bulat. Dia harus memilih di antara dua pilihan yang begitu sulit.
Air mata Alice sudah tidak bisa dibendung lagi. Ini adalah keputusan yang sangat sulit dan berat.
Setelah berpikir lama dengan diiringi tangis, sepertinya Alice lebih memilih pilihan kedua.
“Kalau memang ini yang harus saya jalani, saya akan pergi, Yang Mulia! Kita akan buktikan apakah Pangeran Erland benar-benar mencintai saya. Tapi, izinkan saya bersama Pangeran Erland untuk satu malam saja. Sebelum saya meninggalkan istana ini.”
__ADS_1
***
Ahh, maafkan aku yang lama baru muncul gaess 😂😂