Biarkan Aku Melayanimu, Pangeran!

Biarkan Aku Melayanimu, Pangeran!
Pangeran | Bab 22


__ADS_3

Di dalam ruangan pribadinya, Pangeran Erland terlihat gusar memikirkan perasaan Alice. Ada sedikit penyesalan di hati laki-laki itu karena membiarkan Alice pergi dengan rasa cemburu yang pasti sudah membakar hati.


Pikirannya terus terbayang pada sosok sang pelayan yang sudah mencuri hatinya. Pangeran Erland bahkan tidak bisa fokus dengan berbagai pertanyaan yang Ruby ajukan.


“Pangeran!” panggil Ruby. Dia mulai curiga dengan Pangeran yang sejak tadi mengabaikannya. Dia menggerakkan tangannya di depan Pangeran Erland dan kembali memanggil laki-laki itu, “Pangeran! Anda baik-baik saja?”


Seketika Pangeran pun tersadar dan kembali fokus dengan Ruby. “Ya, ada apa?”


Ruby mengerti, ada sesuatu hal yang sepertinya sangat penting hingga mengalihkan perhatian sang Pangeran darinya. Entah apa yang sedang dipikirkan putra mahkota kerajaan Warlingtoon itu. Namun, apa pun itu, Ruby berharap ini bukan tentang seorang gadis.


“Pangeran, apa kamu sudah punya kekasih?”


Sepasang mata Pangeran membulat sempurna saat mendengar pertanyaan yang cukup aneh yang keluar dari mulut Ruby.


Pangeran sebenarnya tahu, Ruby tidak memiliki perasaan dengannya, dan menerima perjodohan ini karena terpaksa. Akan tetapi, Pangeran juga tidak nenyangka jika Ruby akan menanyakan hal yang cukup pribadi itu.


Haruskah Pangeran jujur saja pada Ruby?


“Kenapa? Apa ada sesuatu yang mengganggumu?”


Ruby terdiam sejenak, mengumpulkan seluruh keberanian untuk mengungkapkan isi kepalanya. “Maaf, Pangeran. Aku sempat melihatmu saat melirik Alice. Aku rasa, Pangeran seperti kecewa saat aku meminta Alice pergi tadi. Apakah ini hanya pikiran bodohku saja?”


Ruby benar-benar takut menanti jawaban dari Pangeran. Dia sempat merutuki dirinya sendiri di dalam hati karena dengan bodohnya berani menanyakan hal semacam itu pada Pangeran.


Namun, sepertinya Pangeran malah memiliki pemikiran yang lain. Dia pikir, mungkin memang sudah seharusnya mengakui perasaannya untuk Alice pada Ruby.


“Ruby kamu pasti sudah tahu banyak tentangku dan anggota kerajaan ini, kan? Kalau tujuan utamamu mau menikahiku untuk lepas dari kedua orang tuamu, aku bisa membantumu. Tapi, kamu juga harus tahu aku bisa membalas semua orang yang mengkhianatiku,” kata Pangeran Erland dengan penuh penekanan.


Ruby memaksakan senyum dan menatap Pangeran Erland dengan gugup. “Aku tahu itu,” jawabnya.

__ADS_1


Pangeran menyeringai dan menatap Ruby dengan dingin. “Ya, aku mencintai Alice. Di kerajaan ini tidak ada yang tahu mengenai hubungan kami, kecuali kamu. Jadi, Ruby, kalau kamu masih mau hidup dengan tenang, aku harap kamu tidak mencari masalah denganku.”


Kejujuran Pangeran Erland itu rupanya tidak membuat Ruby patah hati. Memang benar apa yang dipikirkan Pangeran Erland, bahwa sebenarnya Ruby tidak memiliki perasaan apa pun pada Pangeran.


Status Ruby dan Pangeran yang terlahir sebagai anak bangsawan, membuat mereka terpaksa menjalani kehidupan yang diatur sejak lahir. Namun, saat mereka dewasa dan sama-sama memiliki perasaan masing-masing, dunia tetap tidak akan memedulikan perasaan itu.


“Ya, aku tidak akan mengganggu hubunganmu dengan Alice. Lagi pula, hubungan kita juga belum diresmikan. Aku akan mendukung hubunganmu dengan Alice.”


Rupanya, pengakuan Pangeran pada Ruby membuahkan sesuatu yang manis. Dengan begini, Pangeran akan lebih leluasa bersama Alice, sekalipun ada Ruby.


Setelah dari tempat Pangeran Erland, Ruby mendatangi Alice di kamarnya. Dari jendela kamar yang sedikit terbuka, Ruby bisa melihat Alice yang tengah meringkuk di ujung tempat tidur. Entah menangis atau pun tidur.


“Alice ini aku, Ruby. Aku masuk ya!” seru Ruby yang kemudian masuk ke kamar Alice tanpa menunggu gadis itu membukakan pintu.


Tatapan mata Ruby tertuju pada gaun indah yang dipakai Alice. Gaun itu terlihat sangat mahal dan mungkin Alice tidak akan sanggup membelinya sekali pun dengan setahun gajinya sebagai pelayan.


“Pu-Putri Ruby. Apa yang Anda lakukan di sini?” tanya Alice sembari menghapus air mata yang membasahi wajahnya.


“Aku tadi memanggilmu beberapa kali tapi kamu tidak mendengarku, Alice. Apa kamu baik-baik saja?”


Alice menundukkan kepala dan menyadari bahwa saat ini dia masih mengenakan pakaian mahal yang diberikan Pangeran Erland. Dia pikir, pasti Ruby akan salah paham.


“Maaf, Putri Ruby. Saya ... saya tadi ....”


“Kamu menangis karena Pangeran Erland, kan?” Ruby menepuk pundak Alice, membuat gadis itu mengangkat wajah dan menatapnya. “Aku sudah dengar pengakuan Pangeran, dan aku bisa mengerti perasaannya. Sekarang, melihatmu seperti ini, aku jadi sangat yakin kalau kamu juga mencintai Pangeran Erland.”


Air mata Alice kembali luruh seketika. Namun, dengan cepat gerakan tangannya berusaha menghapus air bening yang dengan lancang meluncur dari matanya.


“Putri Ruby, saya minta maaf. Saya tahu ini kesalahan, tolong jangan beri tahu siapa pun!”

__ADS_1


Alice hendak meraih tangan Ruby untuk memohon, tetapi sang putri justru memeluknya dan menepuk punggung Alice dengan senyum licik.


Ruby yang saat ini merasa kesal dengan Alice akhirnya berkata, “Perasaan kalian memang tidak salah, Alice. Jatuh cinta itu bukan sebuah kesalahan. Tapi, kamu juga harus tahu diri, karena kamu dan Pangeran bukan dari kalangan yang sama.”


Ruby melepaskan pelukan itu dan menatap Alice dengan pandangan hina. “Jauhi Pangeran Erland sebelum ada yang mengetahui hubungan kalian. Statusmu yang hanya seorang pelayan pasti akan merusak masa depan kerajaan jika tetap mempertahankan perasaan itu.”


Alice menatap Ruby yang sepertinya tidak menyetujui hubungannya dengan Pangeran. Memang apa lagi yang Alice harapkan. Jelas tidak mungkin seorang gadis bangsawan seperti Ruby rela melepaskan posisi calon permaisuri demi seorang pelayan.


“Pikirkan baik-baik. Hubungan kalian tidak hanya berdampak pada nasibmu, Alice. Tapi juga nasib Pangeran. Apa kamu mau kalau Pangeran sampai diturunkan dari tahta dan digantikan oleh saudara tirinya yang masih kecil itu? Aku rasa Ibu Ratu pasti akan dengan senang hati memperjuangkan putranya, Pangeran Edward untuk naik tahta menggantikan Pangeran Erland sebagai Putra Mahkota.”


Alice benar-benar terbunuh dengan kata-kata Ruby itu. Posisi Pangeran Erland dalam kerajaan memang belum sepenuhnya kuat.


Setelah Ibu Ratu meninggal, Raja memilih seorang gadis bangsawan untuk mengisi kursi Ratu yang sudah kosong. Dari pernikahan itulah, lahir Pangeran Edward yang kini baru berusia lima tahun.


Raja ingin memperkuat posisi Pangeran Erland dengan menikahkan Pangeran dengan Ruby agar semakin banyak dukungan yang didapatkan oleh Pangeran Erland. Namun, jika Raja dan rakyat Warlingtoon sampai tahu hubungan Pangeran dengan seorang pelayan, posisi Putra Mahkota bisa saja akan digantikan.


Rakyat pasti akan menentang hubungan seorang putra mahkota dengan seorang rakyat jelata. Mereka tentu tidak mau jika di masa depan, Ratu mereka adalah seorang mantan pelayan.


“Jangan beritahu apa pun pada Pangeran tentang apa yang aku katakan ini.” Ruby langsung meninggalkan kamar Alice begitu saja setelah mengatakan hal yang menyakitkan itu.


Sementara Alice hanya bisa mengurung diri di kamar dan kembali menangis.


Beberapa saat berlalu, gadis itu tertidur setelah menangis sampai lelah. Tiba-tiba saja, sebuah tangan menelusup masuk ke dalam selimutnya dan membuat Alice terbangun dengan kaget dan tercengang.


“Aku merindukanmu!”


***


pagi gaess, aku up panjang loh ini harusnya 2bab aku bikin 1 aja 🤣 mau minta kembang soalnya sama biar rame komennya 🤣🤣🤣

__ADS_1


__ADS_2