Biarkan Aku Melayanimu, Pangeran!

Biarkan Aku Melayanimu, Pangeran!
Pangeran | Bab 40


__ADS_3

Lamaran dadakan yang diucapkan oleh Pangeran Erland membuat Alice mematung cukup lama. Gadis itu masih tidak menyangka kalau sang kekasih sekarang ada di depan mata, dan menyelamatkannya dari pengasingan.


Bangun dalam pangkuan Pangeran saja sudah membuat Alice syok, apa lagi mendapat lamaran darinya. Rasanya Alice seperti berkelana di alam mimpi yang sadar kalau kejadian manis ini bukanlah kenyataan.


“Yang Mulia, bangunkan aku sebelum Yang Mulia pergi. Sekarang aku ingin berdua dengan Yang Mulia saja!” Alice kembali tidur di pangkuan Pangeran.


Gadis itu mengira bahwa dia sedang bermimpi. Padahal, ini benar-benar terjadi.


“Maksud kamu apa, Alice?” tanya Pangeran Erland dengan bingung. “Kalau kamu setuju, dua hari lagi kita menikah. Itu adalah hari baik menurut Raja. Tapi, kita hanya bisa menikah secara sederhana.”


Pangeran Erland mengusap kepala Alice dan membelainya dengan sayang. Dia sudah memantapkan diri untuk melepas statusnya sebagai putra mahkota dan menikah dengan Alice. Menjadi Raja tanpa seorang Alice juga percuma bagi Pangeran Erland.


“Kalau Pangeran sangat mencintaiku, ayo kita menikah! Jangan tunggu dua hari lagi, nanti keburu mimpiku berakhir!” balas Alice yang masih belum sadar kalau ini bukanlah mimpi.


Mendengar ocehan Alice yang sejak tadi terus membahas mimpi, membuat Pangeran akhirnya tidak tahan lagi. Laki-laki itu mencubit pipi Alice dengan gemas dan berkata, “Ini bukan mimpi, Alice! Jangan menjadi bodoh karena menghirup asap tadi!”


Alice sangat ingat bahwa sebelum dia tidur, dia memang melihat asap putih yang sangat tebal. Oleh karena itu, pelayan pribadi pangeran itu berpikir kalau yang terjadi saat ini adalah sebuah mimpi.


“Jadi, Yang Mulia benar-benar ada di sini?” tanya Alice yang kini bangun dengan wajah panik.


“Kamu pikir kamu di mana? Di surga?”


Alice langsung menundukkan kepala dan meminta maaf. Dia melirik dua pengawal yang duduk di kursi depan, dan dua pengawal lagi di kursi belakang.

__ADS_1


Rasanya suungguh memalukan sudah berbicara sesantai itu pada Pangeran. Walaupun Pangeran adalah kekasihnya, tetap saja kecerobohan ini membuatnya canggung.


“Maaf, Yang Mulia!”


“Kamu harus dihukum. Dua hari lagi kamu akan menjadi pengantinku. Aku rasa itu hukuman yang pantas!” balas Pangeran Erland dengan nada bicara yang terdengar tegas.


Laki-laki itu mebuang muka dan menahan tawa. Melihat wajah cemas Alice masih saja membuatnya gemas. Laki-laki itu jadi teringat saat Alice baru datang ke istana dan selalu memasang wajah tegang. Sekarang, gadis itu sudah banyak mencuri hati dan pikirannya.


Pangeran dan rombongannya tiba di sebuah desa kecil di perbatasan kerajaan. Sudah ada dua orang pengawal yang menyambut mereka di sana dan sudah disiapkan juga tempat tinggal.


Desa itu cukup sepi, jauh dari hiruk pikuk pusat kerjaan Warlingtoon yang ramai. Di desa yang masih sangat asri inilah, Pangeran Erland ingin melanjutkan hidupnya bersama Alice.


**


**


Pangeran sengaja memilih desa ini jauh-jauh hari, bahkan sebelum pertunangannya dengan Ruby dilaksanakan. Alasannya, karena desa ini sangat jarang disentuh kerjaan, bahkan terkesan diabaikan karena Raja ingin kawasan di desa ini menjadi cagar budaya yang tidak perlu dimasuki teknologi dan kemajuan.


Bahkan, sinyal ponsel di desa ini juga tidak ada.


Melihat Alice sudah bangun, Pangeran langsung memanggil calon istrinya itu untuk mendekat dan berkenalana dengan kepala desa.


“Kepala Desa, ini calon istri saya, Alice.” Pangeran Erland memperkenalkan Alice dengan sangat bangga.

__ADS_1


Alice sendiri tampak malu saat memperkenalkan diri. Dia merasa minder karena dia hanya seorang pelayan.


“Jadi, ini calon istrinya. Rupanya sangat cantik, pantas saja seorang Pangeran sampai jatuh hati,” puji kepala desa sambil memandangi wajah Alice.


“Besok kami akan menikah di sini. Kami harap warga desa bisa datang untuk mendoakan,” kata Pangeran. Dia tersenyum sambil memegang tangan Alice, pastinya Pangeran sudah tidak sabar ingin menikahi kekasihnya itu.


“Ya, kami akan datang. Besok adalah hari yang baik. Tapi, apa Raja tidak akan marah?”


“Saya sudah melepaskan status saya. Kami akan menikah sebagai rakyat biasa, yang penting pernikahan kami sah.”


Alice begitu terharu dengan pengorbanan yang sudah dilakukan Pangeran Erland untuknya. Walaupun harus kehilangan gelar dan segala fasilitasnya, Erland sudah membuktikan perasaannya adalah cinta sejati.


“Artinya kerajaan sudah kehilangan putra mahkota?”


“Adikku, Pangeran Edward yang akan menggantikan gelar itu!”


Alice berdebar saat melihat tatapan serius Pangeran Erland padanya. Tidak berapa lama, mereka masuk kembali ke rumah sederhana milik Pangeran karena kepala desa harus memberitahu warganya untuk datang ke pernikahan besok.


“Yang Mulia. Apa ini bukan mimpi?” tanya Alice saat Pangeran Erland menggenggam tangannya.


“Tidak, ini nyata, Alice. Bukannya malam itu kamu ingin menyerahkan dirimu dalam pelukanku? Makanya aku mewujudkan keinginanmu itu secepat mungkin!”


***

__ADS_1


Idih, Pangeran masih inget aja. Kalian inget nggak malam yang dimaksud pangeran gaess 🤫🤫


__ADS_2