
Alice terlihat ragu-ragu untuk menceritakan apa yang terjadi antara dirinya dengan Ruby. Di satu sisi, Pangeran adalah kekasih hatinya yang terlihat begitu tulus mencintainya, tetapi di sisi lain Alice juga takut kalau kejujurannya akan menimbulkan masalah.
“Yang Mulia, saya juga ingin menjaga nama baik Yang Mulia. Saya tidak mau membuat masalah yang akan memancing hal buruk terjadi,” kata Alice sembari menundukkan kepala.
“Aku sudah tahu semua kok, Alice! Aku hanya minta kamu jujur. Itu pun kalau kamu menganggap aku kekasihmu, Alice!”
Pelayan itu bisa melihat raut muka kecewa Sang Pangeran. Dia tahu, Pangeran pasti marah karena dia tidak mau cerita, dan Alice tidak suka melihatnya.
“Baiklah!” Alice memegangi kedua pipi Pangeran Erland agar laki-laki itu menatap ke arahnya dengan senyum. “Aku tahu, pacarku seorang pangeran yang tidak hanya ganteng tapi juga bisa diandalkan, jadi aku akan cerita. Tapi senyum dulu!”
Pangeran Erland tidak bisa memasang wajah kesal lagi. Melihat tingkah Alice yang manis, laki-laki itu pun mengembangkan senyum.
“Berani bicara santai?” balas Pangeran sembari membelalakkan mata.
Namun, Alice sama sekali tidak takut. “Kan aku pacar Yang Mulia.” Dia malah bangun dari pangkuan Pangeran. Lalu, Alice menarik tangan besar itu dan mengajak sang kekasih untuk masuk ke kamar Pangeran Erland.
“Biar lebih enak, ngobrol di dalam aja ya!” kata Alice sebelum menutup pintu kamar.
__ADS_1
Wajah Pangeran seketika bersemu merah. Dia tidak menyangka kalau Alice akan mengajaknya ke tempat yang lebih privat dan jelas tidak akan didengar siapa pun.
“Cuma ngobrol aja? Nggak mau yang lain?” balas Pangeran Erland sembari menaik turunkan alis matanya, genit.
“Yang Mulia, kita sedang serius. Katanya mau saya jujur tentang Putri Ruby!” kata Alice mengingatkan.
Pangeran langsung diam, dan membiarkan Alice melakukan apa yang dimau. “Jadi, apa yang Ruby lakukan ke kamu?”
Alice lalu menceritakan apa yang Ruby katakan padanya. Selama ini, Ruby ingin Alice untuk sadar diri dan mengakhiri hubungan dengan Pangeran dan menjauhinya. Sampai kapan pun status mereka akan menjadi penghalang besar.
Semua yang terjadi antara Alice dan Ruby, dan semua yang putri dari negara tetangga itu katakan, Alice ceritakan kembali pada Pangeran Erland.
“Jangan pedulikan apa pun selain aku, Alice! Aku akan melindungimu bagaimanapun caranya. Kita akan selalu bersama!”
Tepat setelah kata itu selesai diucapkan Pangeran Erland, sebuah kecupan mendarat di kening Alice. Tidak hanya kecupan, laki-laki itu juga memeluk sang pelayan dengan mesra.
“Selagi bisa, kita manfaatkan Ruby untuk kita kencan!”
__ADS_1
Pangeran Erland tersenyum menyeringai, membuat Alice penasaran dengan apa yang akan kekasihnya itu lakukan.
*
*
Pangeran Erland akhirnya mengajak Alice dan Ruby pergi. Meski sudah tahu semua kebusukan Ruby, tetapi Pangeran Erland bersikap biasa saja, seolah tidak tahu apa-apa.
“Kalian mau kencan?” tanya Ruby saat melihat Alice sudah berada di dalam mobil dan memakai pakaian yang sama persis dengannya.
Perawakan mereka yang hampir sama, membuat Pangeran tidak kesulitan menyiapkan baju yang sama untuk kedua wanita itu.
“Ya, bukannya kamu mau beli alat lukis? Kalau ayahku tahu kamu pergi untuk membeli peralatan lukis, pasti orang tuamu juga akan segera tahu,” jawab Pangeran Erland yang sudah banyak tahu mengenai Ruby.
“Aku akan ajak Alice, nanti kita bisa pisah saat di mall, dan kamu bisa pakai topi ini. Tenang saja, kamu tetap akan dapat pengawalan. Akan ada pengawal khusus yang menyamar yang akan mendampingimu, dan di belakang kalian juga akan tetap ada pengawal tambahan. Jadi, tidak usah cemas dengan keselamatanmu!” lanjut Pangeran dengan senyum penuh kemenangan.
Seketika itu, Ruby merasa terjebak oleh permainan Pangeran. Dia pikir, saat mengatakan akan mengajaknya pergi, Pangeran benar-benar ingin menemaninya membeli perlatan lukis. Rupanya, dia benar-benar dimanfaatkan oleh mereka.
__ADS_1
***
Nggak ada yang nyariin aku ya, nggak ada yang kangen kah 🥲🥲🥲