
Raja melihat Pangeran Erland dan Alice berciuman secara langsung. Bukannya melabrak, tetapi raja hanya diam dan meninggalkan tempat itu. Namun, diam-diam, Raja menyusun rencana lain untuk Alice dan Pangeran Erland.
Sementara itu, Alice berusaha melepaskan ciuman dari Pangeran Erland dan berkata, “Yang Mulia tolong berhenti! Sadarlah kita ada di mana! Apa pun yang kita lakukan tidak akan mengubah aturan kerajaan. Justru tindakan Yang Mulia seperti ini yang akan membuat hubungan kita semakin cepat berakhir.”
Setelah mengatakan hal itu, Alice pergi meninggalkan Pangeran Erland. Tanpa sengaja, ia melihat Ruby yang tengah menangis bersama ayahnya.
“Aku benci dengan Ayah! Aku benci kehidupanku, aku benci diatur-atur!” teriak Ruby meluapkan emosinya.
Ayah Ruby sangat marah dan langsung menjaambak rambut putrinya itu dan berkata, “Jaga sikapmu, Ruby! Kamu seorang calon istri Pangeran. Sebentar lagi kamu akan menjadi Ratu di kerajaan ini. Jadi, buang semua impianmu dan belajarlah sebagaimana seorang Ratu!”
Alice mendengarkan pembicaraan ayah dan anak itu, dan yang lebih mencengangkan ternyata ayah Ruby membakar semua perlatan lukis milik putrinya itu.
“Ingat, Ruby! Fokuslah menjadi calon istri Pangeran. Lupakan saja lukisan-lukisanmu itu!” titah sang ayah sebelum akhirnya meninggalkan Ruby sendirian bersama peralatan lukis yang terbakar itu.
Melihat hal itu, Alice mendekati Ruby dan diam-diam memberikan dukungan padanya.
“Mau apa kamu? Mau mengejekku? Iya kan? Kamu pasti senang karena bisa melihat ayahku sendiri menyiksaku! Aku seperti alat untuk mereka!” Ruby menabrak lengan Alice dengan keras untuk meluapkan rasa sakitnya.
__ADS_1
Namun, bukannya marah, Alice justru membalas, “Putri Ruby. Kalau memang kamu tidak mencintainya, lepaskan saja dia dan kejar mimpimu. Aku yakin Pangeran Erland akan membantumu!”
Ruby yang tadinya hendak pergi, kini berbalik badan dan berkata, “Melepaskannya? Apa kamu pikir aku akan hidup dengan tenang tanpa status yang kuat?”
“Ya, mungkin dengan menjadi permaisuri, kamu akan hidup tenang dengan perlindungan Pangeran Erland. Tapi, apa mungkin Pangeran mendukung bakatmu jika dia sendiri tidak menginginkan pernikahan ini?”
Ruby menatap lekat-lekat wajah Alice yang menurutnya terlihat aneh. Seharusnya, kekasih pangeran itu marah atau setidaknya mengejek dirinya, tetapi nyatanya Alice malah terlihat peduli dengannya.
“Sebenarnya, kamu ingin aku membatalkan perjodohan ini, atau kamu ingin aku menikahi Pangeran?”
Alice menatap sang putri dan menjawab pertanyaan itu dengan tenang. “Tuan Putri, aku mencintai Pangeran dengan tulus. Walaupun nantinya aku tidak menikah dengannya, aku akan tetap mencintai Pangeran, karena aku tidak punya alasan dan tujuan khusus harus menikahinya.”
Ruby tercengang mendengar jawaban yang keluar dari mulut Alice. Dia tahu bahwa playan itu tidak sedang mengejek dirinya, justru Alice sedang menyadarkan Ruby agar tidak salah memilih jalan hidupnya.
***
Tanpa pemberitaan apa-apa sebelumnya, Pangeran Erland mendadak harus ke luar negeri menggantikan Raja yang beralasan sakit.
__ADS_1
Sebagai Putra Mahkota, Pangeran Erland tidak bisa menghindar dari ketentuan itu. Setiap kali Raja merasa kurang sehat, Pangeran Erland harus menggantikan tugas Raja.
“Alice, ayo ikut denganku!” kata Pangeran saat Alice membantu menyiapkan kebutuhan Pangeran untuk berdinas.
Gadis itu menggeleng pelan. “Yang Mulia, saya harus menjaga sikap di depan Baginda Raja dan semua orang. Apalagi, sekarang Baginda sudah tahu hubungan kita.”
Alice benar. Hubungan mereka sekarang sedang diawasi dan pasti akan dicari-cari kesalahannya. Satu kesalahan saja, Alice bisa diusir keluar dari istana.
Pangeran memeluk kekasihnya itu dengan erat. Perasaannya tidak enak dan hatinya jadi tidak karuan.
Pikiran buruk membuat Pangeran Erland khawatir dengan keselamatan Alice. “Alice, apa pun yang terjadi, jangan meninggalkan istana ini sendiri! Aku sudah memperketat penjagaanmu. Tolong tunggu aku!”
***
Tunggu author update juga 😂😂
Gaess udah baca nupel barunya Lunoxs?
__ADS_1
Cuss mampir yak