
Alice tidak tahu dari mana Pangeran bisa masuk ke kamarnya. Seingatnya, dia sudah menutup pintu dan menguncinya, begitupun dengan jendela kamar.
“Yang Mulia!” Alice memosisikan diri untuk bisa menatap wajah kekasihnya.
“Kamu nangis?” tanya Pangeran saat menyadari ada sesuatu yang salah dengan penampilan Alice.
Laki-laki itu melihat mata Alice yang memerah, juga matanya yang bengkak sudah mempertegas bahwa wanitanya itu habis menangis.
“Saya tidak menangis, Yang Mulia. Saya hanya lelah,” jawab Alice berdusta. Dia bangun dari tempat tidur dan melirik ke arah jam. “Yang Mulia pasti lapar, saya akan bikinkan makanan!”
Saat tubuh Alice bergerak hendak turun dari kasur, tangan Pangeran dengan sigap memeluk perut gadis pelayan itu.
“Alice, apa Ruby tadi ke sini?” tanya Pangeran yang kini mencurigai Ruby.
Dia mendapat informasi dari pengawal bayangan yang diam-diam mengawasi Alice dari kejauhan. Pengawal itu bilang, bahwa Ruby masuk ke kamar Alice setelah dari ruangan pribadi Pangeran.
“Yang Mulia, Putri Ruby memang ke sini, tetapi dia hanya mengunjungi saya, karena dipikir saya sedang sakit.”
Alice tidak mau berkata jujur pada Pangeran karena dia tahu Pangeran bisa salah paham dan mungkin saja akan menimbulkan kekisruhan. Sebagai seorang pelayan, Alice harus sadar diri dan harus paham bagaimana cara menjaga situasi dalam istana.
Wanita itu tidak mau kalau sampai Pangeran mendapat masalah karena salah paham dengan Ruby. Cukup dirinya saja yang menjadi masalah terbesar untuk Pangeran Erland.
“Alice, kamu nggak lagi bohongi aku, ‘kan?” tanya Pangeran masih sambil memeluk Alice.
Gadis itu menoleh ke belakang, menatap Sang Pangeran, lalu mengecup pipi kiri kekasihnya itu. “Yang Mulia, mana berani saya berbohong. Yang Mulia pasti akan menghukum saya, ‘kan?” goda Alice yang kini tersenyum, lalu kembali mengecup pipi kanan Pangeran.
“Tentu saja aku akan menghukummu!” balas Pangeran Erland yang disertai kecupan di bibir.
“Aku sangat takut dengan hukumanmu, Yang Mulia! Karena itulah, izinkan saya memasak sebentar supaya Yang Mulia Pangeran tidak kelaparan dan saya tidak mendapat hukuman!” kata Alice dengan wajah memohon yang malah terlihat menggemaskan.
__ADS_1
Meski sebenarnya sangat berat hati, tetapi Pangeran Erland akhirnya melepaskan kekasihnya itu. Dia meminta Alice agar memasak dengan cepat dan segera membawanya ke kamar pelayan itu karena Pangeran menunggunya di sana.
Walau sebenarnya sedikit merasa aneh, tetapi Alice tetap menurut dan menyiapkan makanan Pangeran dengan cepat. Dia memakai kembali seragam pelayannya dan pergi ke dapur.
Beberapa saat kemudian, gadis itu pun kembali ke kamarnya dengan membawa masakan yang sudah matang.
“Lama sekali, Alice!” kata Pangeran sembari memegangi perutnya yang kelaparan.
“Maaf, Yang Mulia. Saya masak juga butuh waktu,” balas Alice sembari menyiapkan meletakkan makanannya di sebuah meja kecil. “Yang Mulia mau makan di sini? Tidak ada meja makan di sini!”
Pangeran Erland membantu kekasihnya itu dan menjawab, “Aku tidak peduli. Yang aku mau hanya makan ditemani pacarku, dan kalau perlu suapi aku juga!”
Pangeran Erland mengajak Alice berdiri, lalu tangannya perlahan menyentuh kancing seragam Alice dan bertanya, “Alice, apa kamu mau terbuka denganku?”
Pikiran kotor Alice menari liar. Dia pikir, Pangeran Erland sedang ingin melihat tubuhnya yang terbuka, dan seketika itu jantungnya memompa dengan sangat cepat.
“Pangeran, jangan!” cegah Alice seraya memegangi tangan Pangeran Erland yang mulai bergerak membuka kancing seragamnya.
“Aku merindukanmu, Alice!” bisik Pangeran Erland yang kemudian melahap daun telinga Alice hingga membuat gadis itu terperdaya.
Alice tak bisa berkutik. Sentuhan Sang Pangeran terasa sangat memabukkan, apalagi tangganya bergerak cepat melepaskan seragam pelayan yang dikenakannya.
Begitu pakaian berwarna hitam putih itu terlepas dari tubuh Alice, tangan Pangeran menyentuh kalung yang pernah dihadiahkannya untuk gadis itu. Dia memegang tanda kepemilikannya dan sekaligus memainkan dadanya.
Sementara itu, Alice begitu menikmati permainan Pangeran yang menguasai area leher dan dadanya. Pelayan cantik itu pun mulai mendeesah pelan.
Di saat itulah, Pangeran melepaskan dirinya dan menatap tubuh Alice yang kini dibalut pakaian dan perhiasan darinya, tanpa terhalang seragam lagi.
“Kamu sangat cantik, Alice, calon permaisuriku!” Pangeran Erland mendaratkan sebuah kecupan mesra di kening Alice dan membiarkan gadis itu ternganga.
__ADS_1
“Apa yang kamu pikirkan? Pasti hal kotor!”
Alice hanya bisa menatap kesal Sang Pangeran yang kini sedang menahan tawa. “Bukankah Pangeran yang punya pikiran kotor? Tangan Pangeran tadi ngapain pegang-pegang dada saya? Terus apanya yang terbuka?” tanya Alice dengan kening berkerut.
Sang pelayan mulai cemberut dan hal itu membuat Pangeran Erland semakin gemas.
“Cuma pegang dikit, nggak sampai ngintip!” balas Pangeran yang kemudian kembali duduk di tempatnya untuk bersiap makan.
Alice mengikuti gerakan Sang Pangeran dan duduk di depannya. “Sama aja kotor!”
“Aku mau kamu terbuka soal alasan kenapa kamu menangis, Alice!”
Mulut Alice terdiam, tetapi tangannya bergerak mengambil sesendok nasi dan lauk serta sayur, lalu menyuapkannya ke mulut Sang Pangeran. Pangeran Erland pun tak mau kalah, dia merebut sendok Alice dan menyuapi kekasihnya itu.
Rasa rindu yang tertahan selama beberapa hari, kini mulai terobati dengan perasaan bahagia yang menyelimuti. Semua berkat kebersamaan mereka yang sebenarnya sangat sulit untuk dilakukan.
“Jawab Alice!”
Gadis itu menunduk, mengambil nasi lagi dan menyuapi Pangeran Erland. “Aku hanya memikirkan nasib hubungan kita, Pangeran. Apa kita akan terus bersama, sementara desas-desus yang beredar mengatakan Yang Mulia Pangeran akan bertunangan dengan Putri Ruby.”
Pangeran Erland menyentuh tangan Alice dan menatapnya dengan kehangatan. “Apa kamu sedang cemburu karena aku bersama Ruby tadi?”
Alice menggeleng lemah. Seandainya dia punya kekuatan dan sisi egois, dia pasti akan mengungkapkan apa yang terjadi pada Pangeran.
“Alice, aku akan melakukan upaya apa pun untuk menjadikanmu milikku, tapi saat ini posisiku masih belum kuat. Aku harap kamu mau bersabar dan menungguku beberapa tahun ke depan. Sampai saat itu terjadi, tolong dukung aku, Alice! Dan, jangan khawatirkan soal Ruby, aku tidak akan bertunangan dengannya!”
***
Semangatin aku dong gaess 😂
__ADS_1
Jangan lupa pollow akuun Noooveeltoon aku gaes 💋💋