Biarkan Aku Melayanimu, Pangeran!

Biarkan Aku Melayanimu, Pangeran!
Pangeran | Bab 24


__ADS_3

Alice mempercayakan kisah cintanya yang berbeda strata sosial itu pada Sang Pangeran pujaan hati. Dia tidak mau ambil pusing, Pangeran pasti bisa melindunginya kalaupun nanti hubungan mereka terungkap.


Sementara itu, Pangeran Erland menghadap ayahnya dan memberikan laporan mengenai tugas terakhirnya yang berakhir kemarin. Di saat yang bersamaan, Ruby juga datang menghadap atas undangan dari Raja.


“Pangeran, ajaklah Putri Ruby jalan-jalan. Kalian harus mulai penjajakan dari sekarang. Karena tidak lama lagi, kalian akan bertunangan!” titah Sang Raja.


Pangeran Erland menatap Ruby, dan gadis itu pun mengangguk sembari tersenyum.


“Wah, pasti menyenangkan. Pangeran, bagaimana kalau kita pergi ke tempat yang romantis!” sahut Ruby yang tampak antusias.


Gadis itu mengira ini adalah kesempatan yang sangat bagus untuk mencuri perhatian Pangeran Erland dan membuat hubungan yang lebih dekat. Tujuannya tentu saja agar Pangeran Erland memilihnya menjadi pendamping hidup yang kelak akan menjadi Permaisuri kerajaan Warlingtoon.


Namun, pikiran Pangeran Erland ternyata berbeda. Dia malah menganggap ini sebagai kesempatan emas untuk membawa Alice keluar dari istana dan menjadi pasangan biasa. Pangeran pikir, dia akan memanfaatkan Ruby sebagai jembatan yang akan membuat hubungannya dengan Alice semakin sulit diendus.


“Boleh! Aku punya tempat bagus yang cocok kita datangi siang-siang begini. Aku akan minta Alice untuk masak sesuatu yang bisa kita makan di sana!” balas Pangeran Erland sembari tersenyum tipis.


Raja menangkap sesuatu yang aneh dari ekspresi Pangeran Erland, tetapi dalam sekejap wajah Sang Pangeran sudah menampakkan ekspresi netral.


“Jadi, kalian akan pergi bersama? Mau pakai pengawalan khusus?” tawar Sang Raja.


“Tidak usah, Ayah. Aku akan pakai pengawalku sendiri! Jumlah mereka juga cukup untuk mengawal kami kok!” tolak Pangeran. Kalau sampai pengawal di luar pengawal pribadinya ikut, rencananya untuk membawa Alice bisa berantakan.


Pangeran Erland dan Ruby meninggalkan ruang kerja Raja. Saat di rasa situasi dan tempat sudah aman, Pangeran langsung mengutarakan rencananya pada Ruby.


“Ruby, kita akan pergi, tapi Alice ikut. Kamu tidak keberatan, kan?” tanya Pangeran dengan berbisik langsung di telinga Ruby.

__ADS_1


Ekspresi Ruby seketika langsung berubah kesal. Namun, saat mata Pangeran menatapnya, dalam sekejap ekspresi gadis itu berubah dan kini dia terlihat sangat senang.


“Tidak masalah, Pangeran. Pasti sulit ya mencuri-curi waktu berduaan. Pangeran tenang saja, aku akan membantu kalian kali ini,” jawab Ruby yang dipenuhi dengan kebohongan.


Pangeran tentu sangat senang karena rencananya berhasil. Dia langsung memanggil Alice agar mereka bisa bersiap untuk pergi.


Hingga akhirnya, Alice pun datang ke kamar Pangeran. Gadis pelayan itu amat terkejut saat menerima pakaian dari kekasihnya.


“Yang Mulia, ini apa?” tanya Alice dengan wajah bingung.


“Pakaian buatmu. Kita akan pergi dengan Ruby dan kamu bisa pakai itu, Alice!”


Alice membeku mendengar nama Ruby disebut. Di tahu kalau Ruby tidak menyukai hubungannya dengan Pangeran Erland, lalu bagaimana mungkin mereka bisa pergi bersama?


“Yang Mulia, maaf! Bukankah seharusnya saya tetap memakai seragam pelayan walaupun keluar dari istana. Status kita—”


“Sudahlah menurut saja! Mumpung Ruby mau membantu kita kencan!” kata Pangeran Erland setelah melepaskan ciumannya dari bibir Alice.


Alice tidak bisa berkutik. Dia memakai pakaian itu di kamar mandi Pangeran Erland karena laki-laki itu tidak mau menunggu lama.


Begitu Alice keluar, Pangeran Erland langsung terpukau melihatnya. Gadis itu memakai kaos putih yang dibalut jaket levis, dan celana jeans dengan sepatu putih.


“Cantiknya pacarku!” puji Pangeran sembari memakaikan topi di kepala Alice.


Gadis itu pun tersipu dan memandangi penampilannya dari cermin besar di kamar Pangeran. “Kenapa harus pakai baju seperti ini?”

__ADS_1


“Kamu cerewet sekali, Alice. Ayo kita pergi!”


Pangeran Erland menarik tangan Alice dan membawanya menuju mobil. Mereka harus bergerak cepat sebelum ada yang melihat keduanya.


Sesampainya di mobil ternyata Ruby sudah ada di sana dengan pakaian yang sama persis. Sebenarnya, ini memang ide dari Pangeran agar mereka bisa pergi tanpa dicurigai. Namun, Alice tidak tahu menahu mengenai rencana itu.


“Masuklah, Alice!” kata Ruby yang menyambut pelayan itu dengan senyum merekah sempurna.


Alice tampak bengong, tetapi Pangeran dengan lembut membantunya masuk ke mobil dan duduk persis di sebelah Ruby. Melihat keanggunan Ruby, Alice seperti dibuat lupa dengan kata-kata terakhir yang Ruby ucapkan saat datang ke kamarnya.


Mobil Pangeran dan beberapa mobil pengawal yang mengikutinya, akhirnya pergi ke sebuah danau yang terbengkalai.


Di sana, tidak ada orang yang datang. Mungkin hanya sesekali orang iseng yang datang memancing, itu pun tidak ramai karena di sana hampir tidak ada ikan.


Begitu sampai di danau, pengawal mengeluarkan alat lukis milik Ruby pemberian dari Pangeran karena mau diajak kerja sama.


“Aku akan melukis di sana. Kalian bisa bersenang-senang sekarang! Tapi ingat, hati-hatilah!” kata Ruby sembari mengedipkan sebelah matanya.


“Tentu saja!” balas Pangeran. “Ayo, kita berkencan, Alice!” ajak Pangeran Erland sembari merangkul Alice.


Impiannya kali ini sudah mulai terwujud. Mereka bisa pergi dan berkencan dengan pakaian biasa. Tanpa seragam pelayan dan pangeran seperti biasanya.


Alice menatap Pangeran dengan bingung. Lalu, tatapannya beralih pada Ruby yang terlihat baik-baik saja. Bukankah kemarin dia yang mengatakan bahwa Alice harus sadar diri dan sadar posisi?


“Jangan memikirkan orang lain, Alice. Fokuslah denganku saja!” kata Pangeran yang kemudian menghadiahkan sebuah kecupan di bibir Alice, dan membuat pikiran gadis itu melayang tinggi.

__ADS_1


***


Loha gengs, aku kemarin libur, nggak ada yang kangen kah, wkkk


__ADS_2