
Alice tidur di kamar Pangeran Erland setelah lelah menangis. Sementara laki-laki itu, menemui pengawal bayangan untuk mendengar laporan selama ia meninggalkan istana.
“Kemarin siang, Raja memanggil Alice ke ruangannya. Mereka hanya bicara berdua tanpa pengawal, bahkan Butler juga tidak ada. Hanya Baginda Raja dan Alice saja, Yang Mulia!” terang pengawal bayangan melaporkan.
“Apa yang mereka bicarakan?” tanya Pangeran dengan kening berkerut. Kedua tangannya ditopang di atas meja dan dia tampak berpikir keras.
“Kami tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan, Yang Mulia karena keamanan di ruangan Baginda yang dilengkapi dengan peredam suara. Bahkan mereka menutup semua celah, termasuk jendela ruangan saat Alice datang,” jawab pengawal bayangan.
Pangeran Erland semakin yakin kalau ada hal yang mencurigakan. Ayahnya pasti merencanakan sesuatu untuk memisahkannya dengan Alice.
“Terus, apa lagi?”
“Baginda Raja menyiapkan pengawal dalam jumlah yanv cukup banyak. Mereka mengatur mobil dan perbekalan. Sepertinya akan ada pergerakan ke luar istana. Tetapi, jadwal Baginda Raja, Pangeran Erland, Ibu Ratu, Pangeran Edward, bahkan keluarga Putri Ruby tidak ada yang mengarah ke persiapan itu. Tidak ada jadwal khusus yang memerlukan perbekalan sebanyak yang Baginda Raja siapkan.”
“Itu pasti Alice. Ayah pasti akan mengirimkan Alice ke suatu tempat, makanya dia sampai berbuat nekat.”
Tangan Pangeran Erland terkepal kuat. Dia tahu, peperangan dengan ayahnya sendiri baru saja dimulai dan Pangeran harus menyiapkan rencana yang matang untuk melawannya.
“Biarkan rencana Raja berjalan tanpa kecurigaan. Salah satu dari kalian harus bisa menyusup dan mencari tahu ke mana perginya mereka. Setelah itu, kamu tahu apa yang harus kita lakukan, bukan?”
Pengawal bayangan itu mengangguk paham dan akhirnya pamit pergi. Setelahnya, Pangeran Erland kembali pada Alice yang tertidur lelap.
‘Alice, aku tidak akan membiarkanmu menanggung semuanya ini sendiri. Kamu pasti kesulitan dan ketakutan saat menghadapi Raja sendirian.’
Pangeran mendaratkan sebuah kecupan yang cukup lama di kening Alice. Dia berjanji pada diri sendiri, bahwa ia akan melindungi Alice dengan jiwa dan raganya.
__ADS_1
**
**
Alice membuka mata saat hari masih terlalu gelap. Tangan Pangeran masih melingkar di perutnya, dan sepertinya sang kekasih masih berkelana di alam mimpinya.
Pelayan itu bergegas bangun dengan terlebih dahulu menyingkirkan tangan Pangeran dari tubuhnya.
Kini, Alice memandangi wajah tampan Sang Putra Mahkota yang beberapa saat lagi akan dia tinggalkan. Walaupun ini sangat menyakitkan, tetapi Alice percaya perpisahan ini adalah yang terbaik untuk mereka.
“Yang Mulia, aku sangat mencintaimu!” Alice memakaikan selimut ke tubuh Pangeran Erland, lalu dia mencium kening laki-laki itu sebagai salam perpisahan.
Wanita itu merasakan sesak di dalam dada, tetapi dia tidak mau menangis sekarang. Alice harus segera pergi dari tempat ini karena para pengawal istana pasti sudah menunggunya.
Sementara itu, Pangeran Erland membuka mata begitu Alice meninggalkan kamar. Lalu, ia menghubungi pengawal bayangan untuk terus memantau situasi.
Sekarang, Alice sudah berhasil keluar dari Istana Warlingtoon. Beberapa pengawal yang menjaganya juga sudah meninggalkan istana satu per satu dan itu membuat Raja yang didampingi oleh Ratu merasa senang.
“Ajak Pangeran untuk menikmati sarapan bersama pagi ini. Kita akan berkumpul di aula bersama dengan Ruby dan orang tuanya juga!” titah Sang Raja pada Butler.
Pesan itu pun akhirnya sampai pada Pangeran. Pemuda tampan itu menyanggupi ajakan Raja untuk sarapan bersama. Dengan begitu, dia bisa mengirim pasukan khusus lebih banyak untuk memboikot perjalan Alice.
**
Waktu sarapan pun tiba. Pangeran terlihat tampan dan segar saat sampai di aula jamuan. Tidak hanya Pangeran Erland, Pangeran Edward yang baru berusia lima tahun pun ikut sarapan bersama dengan Raja, Ratu dan keluarga Ruby.
__ADS_1
“Yang Mulia tampan sekali, nanti kalau aku sudah besar, pasti akan setampan Yang Mulia, Kakak Pangeran Erland,” celoteh Pangeran Edward yang kini tampil perdana di acara makan bersama.
“Kamu juga sangat tampan. Setelah besar nanti, kamu akan menggantikanku menjadi Pangeran tertampan dalam sejarah Warlingtoon,” balas Pangeran Erland menghibur adik tirinya.
Semua orang kini sudah duduk tenang dan satu per satu menu makanan mulai dihidangkan. Namun, Pangeran tahu dia harus berbuat apa untuk membalas ayahnya.
“Apa tidak ada yang bisa membuat risotto?” tanya Pangeran Erland setelah semua makanan disajikan.
Para pelayan pun saling melirik, lalu Butler dengan percaya diri menghadapi Pangeran Erland.
“Maaf, Yang Mulia. Menu makanan pagi ini tidak ada risotto. Sudah cukup lama masakan itu dilarang disajikan di istana ini!” jawab Butler.
“Oh ya. Baru beberapa waktu lalu aku menikmati risotto buatan Alice. Dan rasanya sama enaknya dengan masakan ibuku,” balas Pangeran.
Raut wajah Raja menjadi tegang mendengar pengakuan putranya. Risotto adalah makanan kesukaan mendiang istrinya, dan dia sudah melarang pelayan membuat menu itu untuk menghormati Ratu yang baru, yaitu ibu tiri Pangeran Erland.
“Alice!” Butler mendadak gugup. Dia tahu, pasti Pangeran Erland akan mencari keberadaan Alice yang merupakan pelayan pribadinya.
“Ya, dia terlalu lelah melayaniku semalam. Mungkin dia kesiangan dan sekarang masih tidur lelap di kamar,” balas Pangeran Erland.
Tatapan semua orang tertuju pada Pangeran Erland. Entah apa tujuan Pangeran Erland mengatakan hal demikian. Padahal, Alice sudah meninggalkan istana saat ini.
***
Loha gengs, panas panas gini bikin kangen sama pangeran, makanya aku update wkkk. Tapi nggak ada yang kangen aku kayaknya 😂😂
__ADS_1