BIRU

BIRU
Hantu tanpa kepala


__ADS_3

Alih-alih pipis, Ghea malah melarikan diri dan terus berjalan menjauh dari banguanan tua yang menjadi tempat Biru dan dirinya beristirahat itu.


Namun ternyata semakin jauh kaki nya melangkah, semakin dalam juga dia memasuki hutan belantara nana gelap gulita itu, merasa dirinya sudah berjalan sangat jauh dari bangunan tua itu, Ghea menghentikan langkahnya, matanya mengedar ke semua penjuru, namun yang dia lihat hanya hitam, gelap, dan bayangan pohon-pohon besar yang diameter batang nya saja lebih besar dari pada pinggang rampingnya.


Ghea mulai ketakutan, di tambah lagi suara binatang-binatang malam yang seakan meneror dirinya, ini pengalaman pertamanya terjebak di dalam sebuah hutan belantara dengan tanpa seorang manusia pun bersamanya.


Ditengah ketakutannya karena berada dalam situasi yang sungguh mencekam itu, tiba-tiba dia merasakan sebuah tangan dingin terulur dan menyentuh bahunya, Ghea terjingkat kaget, namun tak berani sedikit pun menoleh ke belakang, sungguh dalam hidupnya dia paling takut hantu dan kegelapan.


Kaki dan tubuhnya gemetar hebat, membayangkan sosok apa yang berada di belakangnya, dan rupa horor seperti apa yang kini memegang bahunya itu.


"Apa kau tersesat, nona?"


Suara yang sepertinya mulai dia kenal itu akhirnya membuat dirinya sedikit merasa lega, meski berat dia memutar tungkai kakinya untuk menghadap sumber suara.


"Kau! Apa ini benar-benar kau, atau setan yang sedang menyerupai mu?" cicit Ghea menelisik, memperhatikan lagi dengan seksama wajah yang kini berada di hadapannya itu.


"Setan?" beo Biru menahan tawanya, wajah Ghea terlihat sangat lucu dan menggemaskan saat sedang ketakutan seperti ini, membuatnya ingin mengerjai dan lebih menakut-nakutinya lagi.


"Bukankah kau ingin buang air kecil? Bangunan tua itu ada toiletnya, kenapa justru kau malah lebih memilih buang air di hutan? Untung saja kau tak bertemu harimau, atau setan tanpa kepala di sekitar sini," ucap Biru jahil.


Tentu saja Biru tahu kalau Ghea berusaha melarikan diri, namun dia yakin kalau gadis tawanannya itu pasti tak akan menemukan jalan keluar dari hutan, Biru cukup menontonnya dari atap bangunan kemana arah Ghea berjalan melarikan diri, lalu membiarkannya beberapa waktu untuk menikmati ketakutannya, baru lah jika di rasa sudah cukup dia menyusulnya dengan mudah.

__ADS_1


"Harimau? Hantu tanpa kepala?" Ghea berhambur mendekati tubuh Biru dan memeluknya dengan sangat erat, matanya bergerak kesana kemari memindai barangkali mahluk yang baru saja di sebutkan Biru itu tiba-tiba ada di sekitarnya.


"Kau belum bertemu dengannya? Padahal konon katanya hantu itu sangat sering menunjukkan diri pada orang asing yang masuk hutan ini tanpa permisi," Biru semakin membuat bulu kuduk Ghea merinding, bahkan Ghea kini menyembunyikan wajahnya di dada Biru yang sekuat tenaga menahan detak jantungnya yang berdetak sangat kencang karena pelukan tubuh Ghea yang semakin merapat tanpa jarak dengan tubuhnya.


"Ayo pulang, aku ingin pulang, aku takut!" Seketika tangis Ghea pun pecah di dada Biru, membuat pria itu semakin serba salah, padahal niatnya dia hanya ingin menakut-nakutinya namun ternyata Ghea benar-benar merasa ketakutan.


"Pulang?"


"Bawa aku dari sini, aku takut, di bunuhnya jangan di sini, di tempat lain saja, aku takut!" racau Ghea dalam tangisnya yang masih tetap menyembunyikan wajahnya di dada Biru.


"Bukankah kalau kau mati juga nanti akan jadi hantu?" ledek Biru.


"Tidak, aku akan jadi peri," elak Ghea masih bisa menjawab perkataan Biru.


"Kita berada di sini lagi?" cicit Ghea.


"Tentu saja, kita tak punya tempat lain untuk beristirahat."


Biru menyodorkan sebotol air mineral ke hadapan Ghea, dia tau wanita itu pasti dangat kelelahan dan kehausan.


Ghea menenggak minuman itu sampai tandas.

__ADS_1


"Aku lapar, jangan biarkan aku mati dalam keadaan lapar!" ucapnya yang masih keukeuh kalau Biru membawanya ke sana untuk membunuhnya.


Biru menyunggingkan senyum samarnya, sambul membuka plastik berlogo ayam yang tadi di belinya di perjalanan, lalu memberikan sekotak makanan pada Ghea yangblangsung menyantapnya dengan lahap.


Biru menatap Ghea yang sedang menikmati makanannya di ujung bangunan sambil menikmati sebatang rokok yang asapnya mengepul ke udara.


'Benarkah Ghea sama sekali tak mengenalnya?' gumamnya dalam hati.


Semakin dia memandangi wajahbpolos gadis itu, semakin dia merasa jatuh cinta pada teman SMU nya itu.


"Kenapa, aku cantik ya? Ngeliatinnya sampe sebegitunya!" seloroh Ghea yang sadar kalau dirinya sedang di perhatikan Biru dari kejauhan.


"Aku akan memulangkan mu, tapi tidak dalam waktu dekat, akan sangat berbahaya baik bagi mu maupun bagi ku jika kau pulang dalam waktu dekat ini," kata Biru tiba-tiba.


Setelah berpikir sangat keras dan mempertimbangkan segala resikonya, dirinya memutuskan untuk memulangkan Ghea ke rumahnya, dia tak akan pernah sanggup jika harus membunuh wanita yang masih di cintainya itu.


"Benarkah?!"


Ghea sampai tersedak karena merasa sangat kegirangan mendengar ucapan Biru yang akhirnya memutuskan mengurungkan niatnya untuk membunuh dirinya.


"Hmm" Biru mengangguk yakin, ada merasa plong dan ikut bahagia saat melihat Ghea berbahagia seperti itu, tak apa jika resiko terburuk yaitu kehilangan nyawanya karena di bunuh Haris dan Yola akan dia terima, melihat senyum dan kebahagiaan Ghea sudah cukup membuatnya sangat bahagia.

__ADS_1


"Tapi bagaimana dengan teman-teman mu? Bukankah mereka nanti akan marah karena kau melepaskan ku?" tanya Ghea agak bingung.


"Paling juga aku yang di bunuh, mau gimana lagi!?" jawab Biru enteng, membuat Ghea sedikit merasa egois, karena demi menyelamatkan dirinya pria yang menculiknya ini justru harus kehilangan nyawanya.


__ADS_2