
seharian penuh Biru dan Ghea tak saling menyapa satu sama lain, pertengkarannya tadi siang terbawa sampai malam ini, keduanya bahkan saling menghindar, tak mau dalam ruangan yang sama.
Jika Biru menghabiskan waktunya di dalam kamarnya, lain halnya dengan Ghea yang hanya berdiam diri tak tau harus berbuat apa di teras belakang rumah yang asri itu, Biru belum memberi tahu dirinya kamar mana yang boleh dia pakai, meski sebenarnya di rumah itu hanya terdapat dua kamar saja, namun tetap saja, sebagai tamu di rumah itu, dia tak bisa seenaknya memasuki ruangan-ruangan pribadi di rumah itu, apalagi Biru belum mempersilahkannya.
"Makan dulu, setelah ini aku akan mengantar mu menemui kekasih mu," ujar Biru yang tiba-tiba saja kepalanya tersembul dari balik pintu belakang menuju teras tempat dimana kini Ghea berada.
Tentu saja Biru tak akan setega itu membiarkan Ghea kelaparan, meskipun dia seorang pembunuh bayaran yang selalu sadis dan seolah tak punya hati nurani saat menghabisi targetnya, namun khusus untuk Ghea selalu lain ceritanya, dia tak bisa setega itu, memang hati dan perasaan tak bisa di bohongi, bukan?
Ghea memutar lehernya, matanya masih terlihat kesal, bagaimana bisa pria itu enak-enakan tidur seharian sementara dirinya tak di beri tempat untuk beristirahat, egois! batinnya.
Namun saat mendengar kalau Biru akan mengantarnya bertemu dengan Angga sang kekasih, dia menjadi sedikit lebih bersemangat, seolah dia punya harapan baru, setidaknya Ghea bisa bersama dengan orang yang menyayanginya, bukan dengan pria asing judes, dingin, kasar dan menyebalkan seperti Biru.
"Bukannya kau bilang kau tak percaya dengan kekasih ku? mengapa tiba-tiba ingin mengantarkan ku kesana?" Ghea tetap mencoba jual mahal dan tak ingin terlihat kalau dia saat ini sedang bahagia, malas sekali rasanya bagi Ghea harus berterimakasih pada Biru, yang ada pria itu akan semakin besar kepala dan menganggap Ghea berhutang budi sangat banyak padanya.
"Aku memang tak percaya padanya, tapi kau sangat percaya padanya, bukankah tugasku akan lebih ringan karena aku tak harus menjaga dan melindungi mu, yang penting aku sudah memenuhi janji ku untuk tidak membunuh mu, setelahnya, terserah lah!" ujar Biru cuek.
__ADS_1
Ghea hanya memutar bola matanya jengah, namun dia tak bisa jaga imej lagi saat hidungnya mencium bau aroma ayam goreng kesukaannya, perutnya juga sudah sangat lapar, sejak sarapan tadi dia tak makan apa-apa lagi sampai malam ini.
Biru hanya bisa tersenyum dalam hatinya, saat melihtat Ghea menyantap makanannya dengan sangat lahap, Ghea memang terkesan keras kepala dan ngeyel, tapi dia akan takluk dan diam saat bertemu dengan ayam goreng kesukaannya.
"Kenapa kau tak ikut makan juga?" tanya Ghea dengan mulutnya yang penuh berisi makanan.
"Aku sudah cukup kenyang melihat cara makan mu yag seperti bertahun-tahun tak mendapatkan makanan." cibir Biru mengejek.
"Ish, sukurlah, berarti aku tak perlu berbagi makanan enak ini dengan mu!" jawabnya dengan cuek dan melanjutkan makannya kembali.
"Tunggu, arah ke apartemen pacar ku bukan kesini,?" tanya Ghea saat Biru menepikan kendaraan yang mereka tumpangi di seberang rumah yang lumayan cukup mewah.
"Sssttt, itu rumah orang tua asli pacar kebanggaan mu," Biru menaruh jari telunjuknya di depan bibirnya.
"Apa maksud mu orang tua asli? Angga punya orang tua, dan tinggalnya bukan di sini, bahkan aku sering datang berkunjung ke rumahnya," kening Ghea berkerut, dia sungguh tak mengerti dengan maksud perkataan Biru.
__ADS_1
"Kau terlalu polos dan bodoh, sehingga tak merasakan kalau kau di kelilingi oleh orang-orang jahat yang memakai topeng kebaikan dan cinta untuk memanfaatkan mu." ujar Biru lagi, seolah sedang bermain teka-teki.
"Jangan berkata sembarangan, kau tak pantas menuduh seperti itu!" bantah Ghea.
Namun baru saja mulutnya berhenti berkata-kata, bahkan mulutnya pun masih terasa basah, sebuah motor sport merah yang sangat dia kenal masuk ke halaman rumah yang kini sedang mereka intai itu.
Saat si pengendara motor itu membuka helm full face nya, jantung Ghea terasa berhenti seketika, karena ternyata itu bear-benar sosok Angga sang kekasih, tak mungkin dia salah mengenali kekasih yang di pacarinya selama hampir 2 tahun itu, motornya, postur tubuhnya, meski dari kejauhan Ghea dapat memastikan kalau itu memang benar Angga.
"Rumah siapa itu sebenarnya?" cicit Ghea agak terbata.
"Kau akan tau jika kau tetap diam dan fokus perhatikan saja, aku tak ingin memberi tahu mu karena kau pasti akan mengira kalau aku sedang berprasangka buruk dengan orang-orang yang katanya sangat mencintai mu itu." sinis Biru.
"Ayolah, jangan berbelit-belit, katakan saja, rumah siapa itu?" kesal Ghea tak sabaran.
"Tuh!" jari telunjuk Biru mengacung lurus menunjuk pada sosok pria setengah baya yang baru saja keluar dari balik pintu rumah bercat putih tulang itu menyambut kedatangan Angga yang baru saja melangkahkan kaki hendak menuju teras rumah itu.
__ADS_1
Sontak saja pemandangan itu membuat GHea menahan nafasnya dan membelalak seakan tak percaya dengan apa yang saat ini dia lihat.